
Arief parkir di depannya hampir setiap minggu. Kadang ia mampir beli es teh di warung seberang. Kadang hanya lewat. Tapi ia tak pernah masuk, tidak satu kali pun, sampai suatu sore di libur Lebaran ia akhirnya melangkah melewati pintu itu. Di balik dinding putih bergaya kolonial yang sudah ratusan kali ia lewati, ada sesuatu yang tidak ia sangka. Sejarah kotanya sendiri, tersimpan rapi di dalam ruangan yang ternyata sudah lama menunggunya.
Bekasi sering diledek sebagai kota tanpa identitas. Kota transit. Kota tidur. Tapi tanah ini menyimpan cerita yang berat, cerita yang tidak selesai dalam satu malam. Gedung yang kini berdiri di jantung kota itu dulunya bernama Landhuis Tambun, dibangun bertahap antara 1906 dan 1926 di atas tanah milik keturunan Tionghoa bernama Kou Cian Sek. Di sinilah K.H. Noer Ali, sang Singa Karawang Bekasi, pernah memimpin perlawanan bersenjata melawan pasukan Belanda. Sejarah itu kini tersimpan di balik dinding kolonialnya, menunggu siapa saja yang mau berhenti dan masuk.
Gedung ini tidak melulu menyimpan kisah kemewahan kolonial. Pada 1942, tentara Jepang masuk dan menduduki Landhuis Tambun. Tiga tahun lamanya, gedung ini berfungsi sebagai dapur militer, tempat tentara pendudukan memasak ransum dan mengatur logistik perang. “Itu yang di diorama Pasungan Ubat, itu dulu bekasnya. Bekas dapur, tempat makan,” jelas Bapak Ari. Diorama itu kini masih berdiri di sudut museum, menjadi salah satu titik paling sunyi sekaligus paling berbicara di seluruh gedung. Bukan replika yang dibuat-buat, melainkan bekas luka yang dirawat agar tidak terlupakan.
Setelah kemerdekaan, gedung ini berganti tangan dan sempat terbengkalai, hingga datanglah Eka Supriyat Maja yang melihat potensi di balik tembok tua itu. Ia mendirikan Museum Bekasi di sini, satu-satunya museum yang ada di Kota Bekasi, dengan konsep yang tidak biasa. Museum digital bergaya Belanda. “Jadi informasinya kita menggunakan alat digital yang ada ini. Dan Belandanya dari mana? Dari gedung ini. Karena gedung ini peninggalan Belanda,” terang Bapak Ari. Pengunjung bisa menelusuri sejarah lewat digital book, permainan interaktif berbasis airwall, dan berbagai instalasi layar, semuanya di dalam bangunan kolonial asli yang bentuknya masih terjaga hingga hari ini. Di dalam gedung dua lantai itu, sejarah Bekasi dipaparkan dari awal hingga akhir, dari masa prasejarah dan manusia purba, kerajaan Tarumanegara dan Sunda, penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, hingga perjuangan kemerdekaan. Satu nama selalu muncul di tengah narasi itu. “Terutama yang dikenal di sini, yaitu Bapak Kiai Haji Nur Ali. Beliau pahlawan nasional, yang dikenal sebagai Singa Karawang Bekasi,” kata Bapak Ari. Sebagai koordinator pertahanan wilayah Bekasi dan Karawang, K.H. Noer Ali adalah sosok yang kisahnya diabadikan museum ini dengan hormat, sebuah pengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati sekarang punya harga yang tidak murah.
Setiap tahun, museum ini menyambut sekitar 17.000 pengunjung. Sebagian besar adalah rombongan sekolah, dari TK, SD, hingga SMA, yang datang dalam jadwal kunjungan yang sudah terstruktur. “Alhamdulillah pekan depan itu sudah full,” ungkap Bapak Ari soal jadwal kunjungan yang telah terisi. Namun ia juga jujur mengakui tantangannya, jumlah pengunjung umum mulai menurun di tahun 2026. “Saya tidak tahu bagaimana keadaan di negeri kita ini, sehingga pengunjung berkurang. Atau ada yang kurang dari hal-hal yang ada di sini. Atau memang masyarakat di sini sudah tahu semua,” katanya. Sebagian besar warga Bekasi, menurut Bapak Ari, sudah pernah berkunjung sejak kecil, sehingga museum ini kini menunggu gelombang generasi berikutnya.
Museum Gedung Juang bukan hanya soal apa yang ada di dalam gedung. Pelataran luasnya menjadi panggung lain yang tak kalah sibuk. Setiap Sabtu dan Minggu, lapak lapak UMKM dibuka, komunitas menggelar kegiatan, dan pentas seni diadakan. Setiap Ramadan, museum menggelar festival bernama Rampes, Festival Ramadan yang sempat mendatangkan ribuan orang dalam sehari. “Pernah dulu kita mengadakan Rampes namanya, Festival Ramadan. Selama kurang lebih tiga hari, tahun lalu. Pengunjung dalam sehari itu bisa 800 ribu,” tutur Bapak Ari. Bahkan band nasional Utopia pernah tampil di sini. Gedung tua itu, dengan segala keterbatasannya, terus berusaha relevan dengan cara membuka diri seluas mungkin untuk warganya.
Di balik semua itu, Bapak Ari tak menutup nutupi kenyataan yang dihadapi museum setiap harinya. Beberapa peralatan digital sudah rusak dan belum diperbaiki. Anggaran yang diajukan belum tentu cair tepat waktu. “Kalau jualan tidak ada kreatif atau ide, itu akan melemah dari tahun ke tahun, itu pasti,” katanya, dengan nada yang terdengar lebih seperti keresahan orang dalam daripada keluhan resmi. Museum ini dikelola di bawah koordinasi kebudayaan, pemuda, dan olahraga Kota Bekasi, dan seperti banyak museum daerah lainnya di Indonesia, nasibnya sangat bergantung pada sinkronisasi antara kepemimpinan dan ketersediaan anggaran. Namun gedung ini tetap berdiri. Tetap menerima tamu. Tetap menyimpan cerita, tentang Kou Cian Sek yang pertama kali menanam tiang di tanah ini, tentang tentara Jepang yang pernah memasak di sudut yang kini jadi diorama, tentang K.H. Noer Ali yang berjuang untuk tanah yang kini kita sebut rumah. Mungkin, suatu hari nanti, lebih banyak warga Bekasi akan berhenti parkir di depannya, lalu akhirnya memilih untuk masuk.
