Dari Padjajaran Ke Sumedang Larang dalam Perjalanan Sejarah Mahkota Binokasih Sanghyang Pake

Bagi yang pernah berkunjung ke Museum Geusan Ulun Sumedang, maka pengunjung akan melihat benda dari kaca yang menyerupai piramida. Isi piramida berkaca itu Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, mahkota yang pernah dipakai oleh Prabu Siliwangi . Koleksi mahkota binokasih yang terbuat dari emas menjadi salah satu koleksi paling berharga sekaligus daya tarik utama di museum tersebut. 

Daya tarik Mahkota Binokasih tidak hanya terletak pada bentuk dan nilai materinya. Dibalik Kemegahannya, mahkota ini menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan kerajaan sunda serta warisan budaya yang terus dijaga hingga saat ini. Menurut Bapak Abdul Syukur sebagai salah satu pengelola di Museum Prabu Geusan Ulun, Mahkota Binokasih Sanghyang Pake merupakan salah satu pusaka terpenting dalam sejarah Kerajaan Sunda. Mahkota ini dipercaya pernah digunakan oleh raja-raja Sunda sebagai lambang kekuasaan dan kehormatan kerajaan. Karena kedudukannya yang penting, Mahkota Binokasih tidak hanya dipandang sebagai perhiasan kerajaan, tetapi juga sebagai simbol kebesaran tanah Sunda.

Dalam sejarahnya, Mahkota Binokasih memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Pajajaran yang menjadi pusat kekuasaan Sunda pada masanya. Ketika Kerajaan Pajajaran mengalami kemunduran pada abad ke-16, berbagai pusaka kerajaan berusaha diselamatkan agar tidak hilang. Salah satu pusaka yang berhasil dipertahankan adalah Mahkota Binokasih Sanghyang Pake.Perjalanan mahkota dari Pajajaran menuju Sumedang Larang menjadikannya saksi bisu perpindahan pusat kekuasaan Sunda. Tidak heran jika banyak sejarawan dan budayawan menganggap Mahkota Binokasih sebagai salah satu peninggalan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Melalui pusaka ini, masyarakat dapat memahami hubungan antara Pajajaran dan Sumedang Larang.

Saat ini Mahkota Binokasih Sanghyang Pake disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang. Museum tersebut menjadi tempat pelestarian berbagai peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan Sumedang Larang dan budaya Sunda. Banyak pengunjung datang untuk melihat secara langsung pusaka yang menjadi kebanggaan masyarakat Sunda tersebut. Keberadaan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake hingga saat ini masih berkaitan erat dengan berbagai kegiatan budaya yang diselenggarakan di Sumedang. Salah satu momentum penting yang sering dikaitkan dengan pusaka tersebut adalah peringatan Hari Jadi Sumedang yang diperingati setiap tanggal 22 April. Tanggal tersebut memiliki makna historis karena berkaitan dengan penyerahan Mahkota Binokasih dari Kerajaan Sunda Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun dari Sumedang Larang pada tahun 1578. 

Dalam rangka memperingati peristiwa tersebut, sering diselenggarakan berbagai kegiatan budaya, seperti Kirab Panji dan Mahkota Binokasih, napak tilas sejarah, pertunjukan seni tradisional Sunda, serta kegiatan edukasi sejarah yang bertujuan memperkenalkan kembali warisan budaya Sunda kepada masyarakat. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, Mahkota Binokasih tidak hanya menjadi benda pusaka yang disimpan di museum, tetapi juga menjadi simbol yang menghubungkan masyarakat dengan sejarah Kerajaan Sunda dan Sumedang Larang. 

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!