
Nama Mama Opo Mustofa sebagai pendiri Pondok Pesantren Kandang Safi masih sangat dihormati oleh masyarakat Cianjur. Sosok yang dikenal sebagai ulama sekaligus ahli tasawuf ini tidak banyak terlibat dalam urusan politik, melainkan lebih fokus pada pendidikan pesantren dan pembinaan spiritual masyarakat. Pada masa penjajahan Belanda, perannya dikenal melalui doa dan dukungan moral bagi para pejuang yang berjuang melawan penjajah.
Menurut salah seorang keturunan sekaligus pengelola pesantren Kandang Syafi saat ini yaitu KH. Munandar, banyak tokoh masyarakat hingga pejabat yang datang kepada Mama Opo untuk meminta doa. “Mama itu seorang ulama, ahli tasawuf. Dia tidak banyak berinteraksi secara politik atau kepemerintahan, tetapi lebih bergerak dalam bidang doa dan pendidikan pesantren,” ujarnya. Dari situ pula muncul sebutan Kandang Syafi’, yang berasal dari kata “kandang” dalam bahasa Sunda yang berarti tempat dan “syafi’” dalam bahasa Arab yang berarti penyembuh.
Salah satu peninggalan Mama Opo Mustofa adalah masjid pusaka yang dibangun sejak tahun 1897. Meski telah berusia lebih dari satu abad, masjid tersebut masih digunakan untuk salat berjamaah, kegiatan keagamaan, dan peringatan haul. “Kalau penuh, jamaah sampai datang menggunakan rombongan bus. Sampai sekarang masjid itu tetap dilestarikan,” kata KH. Munandar. Masjid tersebut masih digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat hingga saat ini.
Selain masjid, makam Mama Opo juga menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Setiap malam Jumat, jamaah berkumpul untuk melaksanakan tawasul, membaca Al-Qur’an, zikir, dan tahlil bersama. Tradisi ini dilakukan tanpa undangan khusus karena masyarakat datang dengan kesadaran sendiri. “Kami melaksanakannya sekitar tengah malam untuk mengejar waktu ijabah doa,” jelas KH. Munandar.
Di tengah berbagai pandangan mengenai ziarah makam, keluarga dan pengelola terus mengingatkan pentingnya meluruskan niat. Ziarah, menurut mereka, bertujuan untuk mengingat kematian dan mengambil pelajaran dari kehidupan para ulama saleh. “Kita tetap meminta kepada Allah, bukan kepada yang diziarahi. Kita mendoakan mereka dan berharap mendapatkan keberkahan dari Allah,” tutur KH. Munandar.
Masyarakat juga mengenal berbagai kisah karamah yang dikaitkan dengan Mama Opo Mustofa. Salah satu yang paling populer adalah kisah seorang tamu yang meragukan doa yang dibacakan Mama Opo. Setelah menyaksikan sendiri keistimewaan doa tersebut, tamu itu kembali menemui beliau. Namun dengan rendah hati Mama Opo berkata, “Jangankan kalimat yang lain, Bismillah pun mama belum bisa mengamalkan.” Kisah tersebut masih sering diceritakan oleh KH. Munandar saat malam puncak haul atau memperingati wafatnya Mama Opo Mustofa Kandang Syafi.
Hingga kini, pengaruh Mama Opo Mustofa masih terasa melalui pesantren, masjid pusaka, tradisi haul, dan makam yang terus dikunjungi peziarah. Hingga kini, pesantren, masjid pusaka, tradisi haul, dan makam Mama Opo Mustofa masih menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Nama Mama Opo Mustofa masih dikenal dan dihormati oleh masyarakat Cianjur hingga saat ini.
