
Karawang yang selama ini kita kenal sebagai kota pabrik dan pintu tol, menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua dari semua itu sebuah situs yang usianya sudah melampaui hitungan generasi. Di Cibuaya, dua candi kuno berdiri berhadapan dalam diam, satu disebut Lanang, satunya Wadon. Lelaki dan perempuan. Sepasang saksi bisu yang sudah ada jauh sebelum jalan tol itu dibangun, jauh sebelum kawasan industri itu berdiri, bahkan jauh sebelum nama Karawang itu sendiri dikenal. Dan anehnya hampir tidak ada yang tahu mereka ada di sana.
Untuk sampai ke tempat itu, kita perlu sedikit melawan kebiasaan tidak ikut arus keluar tol menuju pabrik atau mal, tapi belok ke arah yang lebih sepi, menuju Kecamatan Cibuaya yang terasa seperti Karawang versi lain, lebih tenang, lebih hijau, dan entah kenapa terasa lebih jujur. Di sinilah, di atas tanah yang pernah jadi bagian dari wilayah Kerajaan Tarumanagara, dua candi bata merah itu masih berdiri sabar, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu untuk dikunjungi.
Candi Lemah Duwur Lanang dan Wadon berada di Desa Segaran, Kecamatan Cibuaya sebuah nama yang mungkin belum pernah masuk dalam daftar destinasi wisata kamu, tapi justru itu yang membuatnya menarik. Kawasan ini duduk di wilayah delta Sungai Citarum, tanah subur yang sejak ribuan tahun lalu sudah jadi tempat orang memilih untuk tinggal, bercocok tanam, dan ternyata membangun peradaban. Nama lemah duwur sendiri dalam bahasa Sunda berarti tanah tinggi, dan itu bukan nama sembarangan: nenek moyang kita dulu sangat paham bahwa tempat yang dianggap suci harus punya posisi yang lebih tinggi dari sekitarnya, lebih dekat ke langit, lebih jauh dari kebisingan.
Kalau kamu pernah mendengar nama Tarumanagara di pelajaran sejarah SMA, inilah salah satu tanahnya. Kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat itu diperkirakan berdiri sejak abad ke-4 Masehi, dan wilayah Karawang termasuk Cibuaya adalah bagian dari jantungnya. Kawasan ini bukan sekadar latar belakang; ia adalah tempat di mana peradaban itu benar-benar hidup dan bernapas. Arca-arca Wisnu, pecahan yoni, dan berbagai artefak keagamaan sudah berkali-kali ditemukan di sini kadang di kebun warga, kadang pas orang lagi cangkul sawah. Seolah tanahnya sendiri masih menyimpan banyak hal yang belum mau ia ceritakan.
Jangan bayangkan candi ini seperti Borobudur atau Prambanan yang menjulang dan bikin kamu mendongak. Lemah Duwur jauh lebih rendah hati dari itu. Yang tersisa sekarang adalah susunan bata merah kuno material khas bangunan dari zaman Tarumanagara yang disusun tanpa semen, tanpa perekat modern, hanya mengandalkan presisi dan logika gravitasi. Dan entah bagaimana, ia masih berdiri. Lebih dari seribu tahun kemudian, bata-bata itu masih di tempat yang sama, seolah menunjukkan bahwa kadang hal-hal yang dibuat dengan sungguh-sungguh tidak perlu banyak bicara untuk membuktikan dirinya.
Lalu kenapa satu disebut Lanang dan satunya Wadon? Ini bukan sekadar selera penamaan orang dulu yang kebetulan puitis. Dalam kepercayaan Hindu yang dianut masyarakat Tarumanagara, alam semesta bekerja dalam keseimbangan antara dua prinsip: maskulin dan feminin, langit dan bumi, yang memberi dan yang menerima. Dua candi yang berdiri berhadapan ini adalah wujud fisik dari keyakinan itu semacam pengingat permanen bahwa harmoni bukan soal siapa yang lebih kuat, tapi soal siapa yang mau hadir berdampingan. Dan di kawasan delta Citarum yang hidupnya bergantung pada keseimbangan musim dan air, filosofi seperti itu bukan cuma indah ia sangat praktis.
Ironisnya, situs yang usianya lebih tua dari hampir semua yang ada di Karawang ini justru salah satu yang paling kurang diperhatikan. Akses jalan yang belum sepenuhnya ramah pengunjung, minimnya papan informasi yang layak, dan tekanan dari alih fungsi lahan di sekitarnya membuat Lemah Duwur terasa seperti tempat yang sedang berjuang untuk tetap relevan di tengah kota yang bergerak terlalu cepat. Padahal satu hal yang ironis: makin banyak orang berburu destinasi tersembunyi di media sosial, tapi situs sepenting ini masih tetap tersembunyi bukan karena disembunyikan, tapi karena kita belum cukup penasaran untuk mencarinya.
Datang ke Candi Lemah Duwur Lanang dan Wadon bukan berarti kamu harus jadi arkeolog atau penggemar sejarah berat. Cukup datang dengan sedikit rasa ingin tahu dan kesediaan untuk berjalan pelan. Di sana, dua candi bata merah itu masih berdiri menghadap satu sama lain seperti dua orang tua yang sudah melewati banyak hal bersama dan tidak perlu banyak kata untuk saling memahami. Sementara Karawang di sekitar mereka terus berubah, mereka tetap di sini. Dan mungkin itulah yang paling perlu kita pelajari dari mereka: bahwa ada hal-hal yang tidak perlu kemana-mana untuk tetap bermakna.
