Mengenal Jelekong, Kampung Seni Bandung yang Mahsyur Sejak Zaman Kolonial

Di balik gapura hitam, putih, dan merah bertuliskan Selamat Datang di Kampung  Budaya Seni i& Jelekong, tersimpan kisah panjang sebuah kampung kecil yang menjelma menjadi salah satu pusat seni terbesar di Jawa Barat. Kampung Jelekong terletak di Jalan Giri Harja, Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, dan kini dikenal luas berkat dua kesenian utamanya: seni lukis dan wayang golek.

Sejarah panjang Jelekong sebagai sentra seni bermula sejak zaman kolonial, ketika para seniman Belanda tertarik dengan keindahan alam dan budaya Jawa Barat. Sejak saat itu, tradisi melukis terus berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun tonggak modern kampung ini ditancapkan oleh seorang seniman bernama Odin Rohidin. Tak hanya ingin pandai sendiri, pada tahun 1973 beliau mengajari tetangga-tetangganya di Jelekong cara dan teknik melukis. Cara pengajaran yang dilakukannya yaitu mengajari empat orang terlebih dahulu hingga benar-benar mumpuni, lalu keempat orang tersebut membantu menjadi mentor bagi tetangga-tetangga yang lebih banyak lagi. Dari situlah seni lukis Jelekong mulai tumbuh pesat.

Tak hanya lukisan, sejak berdiri pada tahun 1969, Kampung Jelekong telah menjadi tempat kelahiran banyak seniman terkenal yang prestasinya bahkan mencapai tingkat internasional. Salah satunya adalah Padepokan Giri Harja, yang dipelopori oleh Asep Sunandar dan kini dikenal di seluruh dunia sebagai pusat pertunjukan wayang golek.

UNESCO pada tanggal 7 November 2003 menetapkan Wayang sebagai Warisan Budaya Dunia sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan. Pengakuan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jelekong yang telah lama menjaga tradisi wayang golek secara turun-temurun.

Ada sekitar 600 pelukis yang menghasilkan karyanya di Jelekong. Beberapa lukisan khas dari Jelekong adalah lukisan tentang panorama pedesaan, adu ayam, buah-buahan, pacuan kuda, ikan koi, dan kereta kencana.

Kampung Seni Jelekong dikenal sebagai sentra lukis yang sudah ada sejak tahun 1970-an dan hingga kini masih eksis sebagai ruang kreativitas sekaligus sumber penghidupan bagi ratusan pelukis lokal. Dahulu, 90% hasil karya mereka dipasarkan ke kota seni Yogyakarta dan Bali, namun seiring berkembangnya teknologi, para seniman kini memasarkan hasil karya mereka melalui marketplace.

Pada tahun 2011, pemerintah akhirnya menetapkan Kampung Seni Jelekong sebagai kampung wisata dengan mengeluarkan SK Nomor 556.42/Kop.71-Dispopar/2011. Pengakuan ini membuka peluang lebih besar bagi wisatawan untuk mengenal kekayaan budaya Jelekong.

Kini, semangat itu terus dikobarkan. Kampung Jelekong saat ini dihuni oleh lebih dari 500 pelukis aktif, dan berbagai teknik khas seperti gaya sebring, beludru, spon, hingga gaya kontemporer terus berkembang secara dinamis. Jelekong bukan sekadar kampung — ia adalah warisan budaya yang hidup dan terus bernapas.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!