
Apakah toko buku fisik masih mampu bertahan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital? Pertanyaan tersebut muncul seiring menurunnya jumlah pembeli di Pasar Palasari, Kota Bandung, akibat semakin maraknya penggunaan e-book dan platform penjualan buku daring selama periode 2023–2024. Perubahan tersebut membuat pola masyarakat dalam memperoleh bahan bacaan ikut bergeser. Pembeli kini dapat mencari informasi, membaca, hingga membeli buku hanya melalui telepon genggam. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan toko buku fisik.
Salah satu pedagang yang merasakan dampak perubahan itu adalah Wawan (60), pemilik Toko Buku TB Citra sekaligus Kepala Pasar Buku Palasari. Pria yang telah berjualan sejak tahun 1980-an itu mengungkapkan bahwa kondisi perdagangan buku saat ini jauh berbeda dibandingkan masa sebelum pandemi Covid-19. Menurutnya, Pasar Palasari pernah menjadi salah satu pusat perdagangan buku terbesar di Bandung. Pasar tersebut dahulu ramai dikunjungi pembeli dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, dan Cianjur. Namun, keramaian itu kini tidak lagi seperti sebelumnya.
Wawan mengatakan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam mencari informasi dan membeli buku. Ia menyebut jumlah pembeli saat ini hanya sekitar 15 persen dibandingkan masa-masa ramainya Pasar Palasari. “Kalau dulu pembelinya bisa banyak sekali, sekarang mungkin hanya sekitar 15 persen dibandingkan masa-masa ramainya dulu,” ujarnya saat diwawancarai di Toko Buku TB Citra, Pasar Palasari. Kehadiran internet membuat masyarakat tidak selalu perlu datang langsung ke toko buku. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya aktivitas jual beli di pasar buku tersebut.
Menurut Wawan, e-book dan file PDF membuat masyarakat lebih mudah memperoleh bahan bacaan secara cepat dan praktis. Selain itu, marketplace juga mempermudah konsumen membeli buku dari rumah tanpa harus mendatangi toko fisik. “Sekarang orang belajar bisa dari Google, ada e-book, ada PDF. Jadi kebutuhan membeli buku fisik menjadi berkurang,” katanya. Perubahan ini membuat banyak pembeli lebih memilih layanan digital karena dianggap lebih efisien. Akibatnya, kebutuhan terhadap buku cetak mulai mengalami penurunan.
Perubahan pola belanja tersebut berdampak langsung pada omzet para pedagang buku di Pasar Palasari. Wawan menuturkan bahwa penurunan penjualan mulai terasa sejak pandemi Covid-19 dan terus berlanjut hingga tahun 2024. Banyak pelanggan yang sebelumnya datang langsung ke toko kini beralih ke layanan belanja online. Mereka menilai pembelian melalui internet lebih praktis karena dapat dilakukan kapan saja. Kondisi ini membuat para pedagang harus mencari cara baru agar tetap dapat mempertahankan usahanya.
Meski demikian, Wawan menilai buku fisik masih memiliki keunggulan yang tidak dimiliki buku digital. Sebagian pembaca tetap memilih buku cetak karena lebih nyaman dibaca dan mudah disimpan sebagai arsip. Buku fisik juga masih dianggap penting sebagai referensi dalam jangka panjang. Untuk menghadapi perubahan tersebut, Wawan mulai memanfaatkan media digital sebagai sarana pemasaran. Ia mengaku telah mencoba menjual buku melalui beberapa platform online.
Namun, penjualan daring belum memberikan hasil maksimal karena tingginya persaingan dan biaya promosi. Wawan menjelaskan bahwa tanpa promosi berbayar, barang yang dijual sering tidak terlihat oleh calon pembeli. Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui kebijakan yang mendorong minat baca masyarakat. Menurutnya, peningkatan budaya literasi akan membantu menjaga keberlangsungan toko buku fisik di tengah perkembangan teknologi. Di tengah arus digitalisasi, para pedagang Pasar Palasari terus berupaya menyesuaikan diri agar toko buku tradisional tetap bertahan sebagai bagian dari budaya literasi.
