Ketika Candaan Berubah Luka, KKN 05 Citeureup Ajak Anak-Anak RW 11 Belajar Jujur

Halaman itu biasanya riuh oleh tawa dan teriakan anak-anak yang berlarian tanpa beban. Sore itu, suasananya berubah lembut. Sekumpulan mahasiswa KKN  05 Citeureup UIN Sunan Gunung Djati Bandung datang bukan untuk mengajak bermain, melainkan membawa satu pertanyaan yang jarang terpikirkan anak-anak seusia mereka: sudahkah kita menjadi teman yang baik untuk teman kita sendiri?

RW 11, Kelurahan Citeureup, menyimpan pemandangan yang sebenarnya sudah lama akrab di mata siapa saja yang memperhatikan. Anak-anak kelas 3 hingga 6 SD kerap saling melempar kata-kata kasar, kadang disertai dorongan atau pukulan kecil yang dianggap wajar karena “cuma bercanda”. Tawa memang pecah setiap kali itu terjadi, tetapi tidak semua orang tahu bahwa ada teman yang diam-diam menyimpan sakit hati, bingung harus mengadu kepada siapa dan harus berkata apa.

Kegelisahan kecil itulah yang menjadi titik tolak sosialisasi bertajuk “Cara Berteman yang Baik”. Bukan sekadar ceramah panjang tentang moral, kegiatan ini dikemas sebagai obrolan hangat mengenai tiga gaya komunikasi manusia: pasif, agresif, dan asertif.

Anak-anak perlahan diajak menoleh ke dalam diri sendiri. Mahasiswa KKN bertanya perlahan-lahan: apakah mereka termasuk anak yang lebih sering memilih diam saat hati sedang tidak nyaman, atau justru yang mudah membentak dan memaksakan kehendak kepada teman? Contoh-contoh sederhana dari dunia bermain sehari-hari menjadi jembatan untuk mengenalkan gaya ketiga, yakni komunikasi asertif — keberanian untuk berkata jujur dan tegas tanpa harus melukai perasaan orang lain.

Antusiasme itu muncul lebih cepat dari yang diperkirakan. Anak-anak yang semula sibuk dengan dunia mereka sendiri mulai menyimak, menjawab satu per satu pertanyaan, bahkan dengan malu-malu menceritakan pengalaman pahit saat bertengkar dengan teman. Seorang anak mengaku pernah menangis diam-diam karena candaan temannya, tetapi memilih bungkam karena takut disebut “baperan”. Anak lain terdiam sejenak, seolah baru menyadari bahwa candaan yang selama ini dianggap biasa ternyata pernah menyakiti orang lain tanpa ia sadari.
Momen-momen kecil dan kejujuran semacam itulah yang justru menjadi inti sesungguhnya dari kegiatan ini.

Mahasiswa KKN  05 Citeureup tidak sekadar menitipkan istilah-istilah psikologi, tetapi berusaha membuka ruang aman bagi anak-anak untuk berani berkata “aku tidak suka itu” — tanpa harus berteriak, dan tanpa harus memendamnya sendirian hingga menjadi luka yang dibawa sampai dewasa.

Menjadi teman baik, pada akhirnya, bukan sekadar soal siapa yang paling sering bermain bersama. Kejujuran untuk saling mendengarkan, keberanian menghargai batas, dan ketulusan memperlakukan satu sama lain dengan baik — itulah yang sesungguhnya merajut sebuah pertemanan agar bertahan lama, bahkan sejak usia sekolah dasar sekalipun.

Sosialisasi sederhana ini diharapkan menjadi benih kecil yang kelak tumbuh menjadi kebiasaan, membentuk lingkungan pertemanan anak-anak RW 11 Kelurahan Citeureup yang lebih nyaman, aman, dan penuh saling menghargai — satu langkah kecil, untuk luka yang tak lagi perlu dipendam sendirian.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!