
Kampung Wisata Benjang di Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, kini menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang paling hidup di Bandung Timur. Dari arena sederhana para pemuda perkebunan kopi pada akhir abad ke-19, seni bela diri dan pertunjukan tradisional Benjang kini hadir dengan amphiteater modern, Sekolah Benjang Indonesia, serta ribuan pengunjung yang datang untuk menyaksikan warisan Sunda yang unik.
Dibangun di kaki Gunung Manglayang sebagai bagian dari kawasan Pasirkunci, kampung wisata ini tidak hanya melestarikan seni Benjang (yang terdiri dari Benjang Gelut, Helaran, dan Topeng), tetapi juga mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi dan identitas masyarakat setempat di tengah laju modernisasi kota.
Kesenian Benjang bermula dari “sasamben budak bujang” arena permainan para jejaka di bale atau amben. Awalnya merupakan seni bela diri yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi pada masa penjajahan Belanda, Benjang kemudian berkembang menjadi pertunjukan hiburan rakyat yang memadukan unsur bela diri, musik tradisional, dan ritual keagamaan. Pada 1926, seni ini mulai tersusun lebih rapi di wilayah Cinunuk-Ujungberung, mencapai masa keemasan antara 1955–1965 dengan pertunjukan yang berlangsung hingga 24 jam.
Meski sempat mengalami kemunduran akibat konflik internal, pengaruh modernitas, dan pembatasan masa lalu, Benjang bangkit kembali melalui upaya komunitas dan pemerintah. Pada Januari 2024, Pemerintah Kota Bandung meresmikan Sekolah Benjang Indonesia di Lapangan Bola Voli Jalan Pasanggrahan. Sekolah ini bertujuan mencetak generasi baru sekaligus menjadikan Benjang sebagai olahraga dan seni yang terstruktur.
Masyarakat Pasanggrahan, yang mayoritas Sunda dan beragama Islam, menjalani kehidupan sehari-hari dengan mempertahankan keseimbangan antara tradisi dan kemajuan. Bahasa Sunda masih dominan dalam percakapan sehari-hari dan kegiatan adat, sementara bahasa Indonesia digunakan untuk urusan resmi dan pariwisata. Teknologi digital dimanfaatkan untuk promosi lewat Instagram, TikTok, dan YouTube, tanpa mengubah esensi instrumen tradisional seperti kendang, tarompet, dan kecrek.
Seni Benjang sendiri menampilkan dua wajah yang menarik: Benjang Helaran (pawai adat meriah dengan Bangbarongan dan Kuda Lumping) dan Benjang Gelut (gulat tradisional tanpa senjata yang penuh sportivitas). Setiap pertunjukan diawali dengan doa dan selawat, mencerminkan akulturasi harmonis antara Islam dan kearifan lokal Sunda.
Ekonomi masyarakat juga semakin terdongkrak. Selain bekerja sebagai karyawan dan pedagang, warga kini mendapat penghasilan tambahan dari homestay, kuliner tradisional, kerajinan topeng Bangbarongan, serta honor pertunjukan. Pelestarian dijalankan melalui kerjasama antara paguron (perguruan adat) yang dipimpin sesepuh, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung.
Kampung Wisata Benjang membuktikan bahwa warisan budaya tidak harus bertentangan dengan kemajuan kota. Dengan semangat silih asih, silih asah, silih asuh dan gotong royong yang masih kuat, masyarakat Pasanggrahan berhasil menjadikan Benjang sebagai kebanggaan sekaligus sumber penghidupan. Di tengah hiruk-pikuk Bandung yang modern, kampung ini tetap menjadi ruang di mana generasi muda dapat belajar menghormati akar budaya Sunda sambil membuka peluang masa depan.
