Dari Benang ke Peluang: Perjalanan Bu Yani Merintis Usaha Rajut

Suara mesin rajut terdengar hampir setiap hari dari sebuah rumah di Kampung Andir , Desa Pakutandang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Dari luar, rumah itu tampak seperti rumah biasa. Namun, begitu masuk ke dalam, suasananya langsung berbeda. Tumpukan benang warna-warni memenuhi sudut ruangan. Rajutan yang sudah dibungkus per lusin tersusun rapi di dekat dinding, sementara beberapa rajutan setengah jadi masih tergantung di sekitar mesin produksi.

Di ruangan itu, beberapa ibu rumah tangga tampak sibuk bekerja sambil bercanda dan berbincang. Tawa kecil terdengar di sela-sela suara mesin yang terus berbunyi sejak pagi. Ada yang sedang menyambung benang, ada juga yang merapikan hasil rajutan sebelum dikemas. Meskipun sibuk bekerja, suasana di tempat produksi itu terasa hangat dan penuh keakraban.

Di antara para pekerjanya, tangan Bu Yani tampak paling lihai menggerakkan mesin rajut. Jemarinya bergerak cepat menyusun benang demi benang menjadi sweater dan rompi rajut yang rapi. Sesekali ia memeriksa hasil rajutan sambil memastikan tidak ada benang yang terlewat. Tangannya bergerak cepat dan luwes, terlihat jelas bahwa pekerjaan itu sudah lama Bu Yani jalani.

Aktivitas itu memang sudah dijalani Bu Yani sejak kecil. Awalnya hanya membantu orang tua merajut, kini Bu Yani berhasil membangun usaha rajut rumahan miliknya sendiri. Rumah yang dulu hanya memakai ruang tamu sebagai tempat produksi, kini berubah menjadi usaha rumahan yang setiap hari dipenuhi aktivitas merajut dan pesanan dari berbagai daerah.

Bu Yani (47) merupakan seorang pengusaha rajut rumahan yang telah menekuni dunia rajut sejak kecil. Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Karena keterbatasan ekonomi, Bu Yani harus berhenti sekolah saat masih duduk di bangku kelas 6 SD. Setelah itu, Bu Yani memilih membantu orang tuanya bekerja merajut.

“Saya awalnya ikut orang tua merajut. Saya belajar dan akhirnya jadi suka merajut, dan sekarang ini jadi penghasilan saya dan keluarga,” ujarnya.

Awalnya, kegiatan merajut hanya dilakukan untuk membantu orang tua. Namun semakin lama, Bu Yani mulai menikmati pekerjaan tersebut. Dari situlah rasa sukanya terhadap dunia rajut tumbuh hingga akhirnya menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Saat masih muda, Bu Yani bekerja sebagai karyawan di salah satu usaha rajut milik orang lain. Di tempat itu pula ia mulai memahami proses merajut secara lebih serius, mulai dari produksi hingga pemasaran.

“Waktu masih muda saya hanya digaji ratusan ribu per minggu saat bekerja dengan orang lain, sekarang bisa berpenghasilan sampai dua juta per hari dan memiliki karyawan,” kenang Bu Yani.

Tidak hanya belajar tentang usaha rajut, Bu Yani juga dipertemukan dengan sosok yang kini menjadi pendamping hidupnya. Ia bertemu suaminya di tempat kerja yang sama. Suaminya pun bekerja sebagai perajut.

Keduanya menikah saat Bu Yani berusia 20 tahun dan mulai membangun usaha rajut bersama dari rumah. Mereka memulai semuanya dari nol dengan membeli mesin rajut satu per satu sesuai kemampuan.

Pada awal merintis usaha, Bu Yani dan suaminya hanya memiliki satu mesin rajut. Ruang tamu rumah digunakan sebagai tempat produksi dengan fasilitas yang sangat sederhana. Di ruangan seadanya itu, mereka menerima pesanan sedikit demi sedikit sambil mengumpulkan keuntungan untuk membeli perlengkapan usaha lainnya.

Sedikit demi sedikit usaha mereka mulai berkembang. Dari yang awalnya hanya memanfaatkan ruang tamu rumah, kini Bu Yani sudah memiliki ruangan khusus untuk usaha rajutnya sendiri.

Pada awal menjalankan usaha, Bu Yani hanya bekerja berdua bersama suaminya. Namun, pesanan dari reseller terus meningkat hingga akhirnya Bu Yani mulai mengajak tetangganya yang merupakan ibu rumah tangga untuk ikut bekerja.

Seiring meningkatnya jumlah pesanan, beberapa karyawan kini mengerjakan rajutan dari rumah masing-masing dengan mesin dan benang yang disediakan oleh Bu Yani.

Menurut Bu Yani, usaha rajut ini bukan hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga memberi pekerjaan bagi ibu-ibu di sekitar rumahnya yang ingin punya penghasilan tambahan.

“Biasanya kan ibu-ibu suka ngerumpi. Nah saya ajak buat bekerja. Jadi kita ngerumpi sambil bekerja biar menghasilkan uang,” ujar Bu Yani sambil tertawa.

“Sekarang Alhamdulillah banyak distributor yang memesan produk rajut kepada saya, baik rompi untuk sekolah maupun sweater untuk dijual lagi di Shopee dan offline store,” tuturnya.

Dalam sehari, tangan Bu Yani dan para pekerjanya bisa menyelesaikan puluhan rajutan, mulai dari sweater, rompi, hingga ciput rajut, tergantung banyaknya pesanan dan kecepatan pengerjaan. Produk yang paling sering dipesan adalah sweater rajut.

Aktivitas merajut biasanya dimulai sejak pagi hari. Setelah membereskan pekerjaan rumah, Bu Yani langsung duduk di depan mesin rajut hingga sore hari. Sesekali ia membantu karyawannya menyelesaikan pesanan yang harus segera dikirim.

Awalnya, Bu Yani sendiri yang mendatangi toko-toko pakaian untuk menawarkan hasil rajutannya. Bu Yani membawa contoh produk dan mencoba menawarkan satu per satu ke berbagai toko.

Namun kini keadaan berubah. Banyak pelanggan justru datang langsung ke rumahnya untuk memesan dalam jumlah besar. Bahkan, ada pelanggan yang sudah menjadi langganan selama 15 tahun dan rutin memesan hingga 10 lusin setiap dua minggu sekali.

Rajutan Bu Yani kini banyak digunakan untuk kebutuhan sekolah, termasuk sejumlah sekolah unggulan. Ukuran yang dibuat pun beragam, mulai dari ukuran kecil hingga dewasa. Pengirimannya tidak hanya di wilayah sekitar, tetapi juga hingga luar kota dan luar Jawa.

Meski berawal dari usaha rumahan, pesanan yang diterima Bu Yani kini datang dalam jumlah besar. Bu Yani tak lagi menjual rajutan secara satuan, karena sebagian besar produknya langsung dipasarkan kembali oleh reseller dan distributor, baik secara online maupun offline.

Usaha rajut ini menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga Bu Yani. Dari hasil merajut, Bu Yani mampu membangun rumah, menyekolahkan hingga menguliahkan anak-anaknya, bahkan membiayai kegiatan les sepak bola anaknya.

Bukan hanya pekerjanya, reseller yang menjual kembali produk Bu Yani juga ikut merasakan manfaat dari usaha ini. Salah satu reseller Bu Yani bahkan berhasil memperoleh omzet jutaan rupiah per hari dari hasil menjual kembali produk rajut tersebut, baik secara online maupun offline.

Karena merasa bersyukur dengan hasil penjualannya, reseller tersebut pernah menghadiahkan perjalanan umrah untuk Bu Yani beserta keluarganya.

Bu Yani mengaku tidak pernah menyangka usaha kecil yang dulu dimulai dari ruang tamu rumah kini bisa berkembang hingga memiliki banyak pelanggan tetap. Baginya, hal tersebut menjadi pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Yang menarik, tempat Bu Yani dulu bekerja kini justru menjadi salah satu pelanggan tetapnya. Pengusaha rajut yang dahulu menggajinya sebagai buruh kini justru ikut memesan hasil rajutan Bu Yani.

Di balik usahanya yang terus berkembang, Bu Yani tetap menghadapi masa-masa sepi pesanan. Ketika order berkurang, produksi ikut menurun, begitu pula penghasilannya.

“Karena usaha saya hanya rajut, jadi ketika sepi ya saya tidak produksi dan tidak mendapatkan uang. Mau pindah profesi pun saya tidak bisa,” ungkap Bu Yani.

Selain menghadapi masa sepi pesanan, Bu Yani juga sering merasa kewalahan ketika permintaan sedang tinggi. Banyak distributor dan pelanggan memesan rajutan hingga puluhan lusin dengan waktu pengerjaan yang singkat. Sementara itu, keterbatasan mesin produksi membuat Bu Yani belum bisa menambah kapasitas produksi secara besar-besaran.

Saat ini, Bu Yani hanya memiliki satu unit untuk setiap jenis mesin, seperti mesin rajut, mesin obras, mesin jahit, mesin linking, dan mesin steam.

“Saya bersama suami dan beberapa karyawan sering kewalahan karena tuntutan dari klien yang ingin pesanannya cepat selesai,” ujar Bu Yani.

Meski sering merasa lelah, Bu Yani mengaku ada kebahagiaan tersendiri ketika pesanannya sedang ramai. Bu Yani merasa senang saat banyak pelanggan dan reseller kembali memesan hasil rajutannya.

Baginya, ada rasa puas ketika melihat banyak orang menyukai hasil rajut yang dibuat dengan tangannya sendiri.

Biasanya, Bu Yani mulai bekerja dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 17.00 sore. Meski memiliki dua anak laki-laki, Bu Yani mengaku tidak pernah memaksa anak-anaknya ikut meneruskan usaha rajut.

“Saya tidak bisa meminta bantuan kepada anak saya karena mereka laki-laki dan katanya malu kalau harus merajut,” ucapnya sambil tersenyum.

Di balik kesibukannya mengurus pesanan, Bu Yani juga dikenal gemar berbagi. “Jadi saya itu setiap bulan selalu mengusahakan memberikan ciput dan sweater gratis ke tetangga, saudara, bahkan anak-anak santri sekitar rumah saya,” tutur Bu Yani.

Meski usahanya sudah berkembang, Bu Yani masih menyimpan banyak harapan untuk usaha rajut ke depannya.

“Saya berharap usaha rajut saya makin sukses, makin banyak yang order, dan makin banyak juga orang yang kenal serta suka sama hasil rajutan saya,” harap Bu Yani.

Selain itu, Bu Yani juga ingin menambah jumlah karyawan agar produksi rajutnya bisa semakin banyak. Namun, Bu Yani berencana tetap memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya dengan sistem bekerja dari rumah masing-masing.

Menurut Bu Yani, cara itu memudahkan para pekerja karena mereka tetap bisa mengurus rumah sambil bekerja.

Nantinya, Bu Yani hanya akan menyediakan mesin dan benang untuk para pekerjanya.

Bu Yani juga berharap bisa menambah mesin produksi agar pesanan dapat dikerjakan lebih cepat.

Hingga kini, suara mesin rajut masih terus terdengar dari rumah Bu Yani setiap hari. Dari benang-benang yang dirajut setiap hari, Bu Yani tidak hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga memberi manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

 

 

 

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!