DARI DAMAI MENJADI SEPI: KISAH SURUTNYA KEJAYAAN SEBUAH PESANTREN

Pesantren ini berdiri pada tahun 2016 dengan modal utama yang paling berharga: keyakinan. Hanya dengan lebih dari dua puluh santri di awal berdirinya, lembaga pendidikan Islam ini menapakkan langkah pertamanya dengan visi yang jelas mencetak generasi yang tidak hanya fasih membaca kitab kuning, tetapi juga mampu berbicara dalam bahasa dunia.

Keunikan pesantren ini terletak pada komitmennya menjadikan bahasa Inggris dan bahasa Arab sebagai bahasa keseharian. Bukan sekadar pelajaran di kelas, melainkan napas kehidupan di dalam pondok. Saat waktu istirahat, santri bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Saat bermain, mereka berdebat kecil dalam bahasa Inggris. Sebuah ekosistem linguistik yang jarang ditemukan di pesantren di daerah itu. Santri yang keluar dari gerbang pesantren ini bukan hanya membawa ilmu agama, tetapi juga kecakapan berkomunikasi lintas budaya yang menjadi bekal mereka di dunia luar. Orang tua berbondong-bondong menitipkan anak mereka, percaya bahwa di sinilah anak-anak mereka akan ditempa menjadi generasi yang mumpuni sholeh sholehah sekaligus cakap.

Setiap tahun, jumlah santri bertambah. Nama pesantren ini pun kian melambung di kalangan masyarakat. Puncak kebanggaan mereka terukir ketika para santri berhasil mewakili pesantren dalam kompetisi dakwah tingkat nasional dan membawa pulang kejuaraan bergengsi. Sebuah pencapaian yang menjadi kebanggaan seluruh warga pesantren, para pengajar, dan yayasan yang selama ini mendukung perjalanan lembaga. Masa itu adalah masa emas. Setiap pagi disambut dengan semangat, setiap malam diakhiri dengan doa-doa yang penuh harapan. Pesantren ini seolah menjadi mercusuar pendidikan Islam di wilayahnya kecil namun bersinar terang.

Namun di balik gemerlap prestasi itu, sebuah retakan diam-diam tumbuh di fondasi pesantren. Persoalan yang pertama kali tampak sepele komunikasi yang kurang lancar antara para pengajar sekolah dengan pihak yayasan perlahan menjelma menjadi jurang yang sulit diseberangi.

Yayasan yang selama ini menjadi tulang punggung pesantren memberikan kepercayaan penuh kepada para pengajar untuk mengelola kegiatan belajar-mengajar. Kepercayaan itu, sayangnya, tidak dibalas dengan transparansi. Laporan perkembangan yang seharusnya mengalir rutin dari pihak sekolah ke yayasan menjadi tersendat, bahkan kerap tidak ada sama sekali. Ketika yayasan tidak mendapatkan informasi yang cukup, mereka tidak mampu melakukan evaluasi yang tepat. Ketika evaluasi absen, persoalan-persoalan kecil yang seharusnya bisa diselesaikan sejak dini justru dibiarkan membengkak. Satu demi satu, keputusan-keputusan kecil yang salah berakumulasi menjadi krisis yang sulit diurai.

Para pengajar sekolah yang beroperasi di dalam lingkungan pesantren, yang seharusnya menjadi mitra tumbuh bersama, justru menjadikan pesantren sebagai ladang kepentingan pribadi. Alih-alih menopang misi mulia lembaga, orientasi sebagian tenaga pendidik lebih condong ke perolehan materi. Pesantren, yang seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter dan ilmu, berangsur-angsur berubah menjadi sekadar batu loncatan ekonomi bagi mereka yang semestinya menjadi penjaganya. Ironi yang menyakitkan, lembaga yang lahir untuk mendidik kejujuran dan keikhlasan justru digerogoti dari dalam oleh ketidakjujuran dan kepentingan pribadi. Seperti rayap yang menggerus kayu dari dalam dari luar tampak kokoh, namun di dalam sudah rapuh tak bertenaga.

Kabar tentang kondisi pesantren yang tak lagi beres itu akhirnya bocor juga ke telinga para orang tua. Berita berjalan dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, dari satu arisan keluarga ke arisan berikutnya. Dan meskipun tanpa bukti tertulis, kepercayaan yang pernah dibangun dengan susah payah itu mulai runtuh satu persatu. Di tengah kondisi internal pesantren yang goyah, faktor ekonomi keluarga santri turut memperparah keadaan. Bagi keluarga yang kondisinya pas-pasan, memondokkan anak adalah pengorbanan besar. Mereka rela mengurangi kebutuhan sendiri asalkan anak mereka mendapatkan pendidikan yang layak dan lingkungan yang baik. Namun ketika yang mereka dapatkan tidak lagi sebanding dengan yang mereka korbankan, keputusan untuk menarik anak pulang menjadi pilihan yang logis, meski menyakitkan.

Satu per satu, santri undur diri. Kamar-kamar yang dulu sesak dengan koper dan buku kini longgar dan berdebu. Tempat tidur bertingkat yang dulu selalu penuh kini berdiri kosong seperti kerangka bangunan yang ditinggalkan. Aula yang dulu bergema dengan suara hafalan dan diskusi kini membisu, hanya sesekali dipecah oleh suara angin yang melewati jendela yang tak lagi rapat.

Memasuki periode 2024–2026, dari sekian banyak santri yang pernah menghuni pesantren itu, hanya tujuh orang yang tersisa. Semuanya siswa kelas 9 SMP yang tengah berjuang menyelesaikan pendidikan mereka di sebuah lembaga yang pelan-pelan kehilangan denyutnya. Mereka adalah pejuang kecil yang entah sadar atau tidak, sedang menyaksikan babak terakhir dari sebuah sejarah. Tujuh anak santri itu menjadi saksi bisu sebuah ironi besar mereka belajar di tempat yang mengajarkan tentang kejujuran, keikhlasan, dan pengabdian, sementara di sekitar mereka, nilai-nilai itulah yang justru paling absen dari para orang dewasa yang seharusnya menjadi teladan. Mereka belajar tentang amanah di dalam sebuah lembaga yang amanahnya tengah dikhianati.

Komunikasi yang putus harus dijalin kembali. Yayasan perlu kembali mengambil kendali penuh atas arah dan pengelolaan pesantren, bukan dengan tangan besi, melainkan dengan kepemimpinan yang hadir dan bertanggung jawab. Setiap rupiah yang masuk dan keluar harus dapat dipertanggungjawabkan. Setiap keputusan yang menyangkut nasib para santri harus dibuat dengan jernih, bukan dengan kalkulasi untung rugi pribadi. Para pengajar pun perlu merenungkan ulang alasan mengapa mereka memilih untuk bekerja di pesantren. Jika jawaban yang jujur adalah demi uang semata, maka mungkin sudah saatnya mereka mempertimbangkan profesi lain yang lebih sesuai dengan niat itu. Pesantren bukan perusahaan. Ia adalah amanah. Dan amanah menuntut keikhlasan sebagai syarat dasarnya.

Lebih dari itu, pesantren memerlukan figur-figur yang benar-benar mencintai lembaga ini bukan yang mencintai apa yang bisa mereka ambil dari lembaga ini. Figur yang mau bangun pagi bukan karena absen, melainkan karena sungguh ingin melihat para santri tumbuh. Figur yang mengajar bukan karena gaji, melainkan karena percaya bahwa ilmu yang mereka sampaikan adalah investasi terbaik untuk generasi berikutnya. Pemulihan sebuah pesantren yang terpuruk bukanlah perkara mudah. Namun ia juga bukan mustahil. Sejarah mencatat banyak lembaga pendidikan yang pernah jatuh lalu bangkit kembali, justru karena kejatuhannya menjadi momen refleksi yang mendalam bagi semua pemangku kepentingannya.

Pesantren ini belum mati. Ia hanya sedang terluka dalam. Dan tujuh santri yang masih bertahan di dalamnya adalah bukti bahwa harapan itu belum padam sepenuhnya. Mereka adalah benih-benih yang tumbuh di tanah yang kering kecil, namun tetap berdiri tegak menghadap matahari.

Jika ada yang dapat dipelajari dari kisah ini, maka pelajaran itu bukan tentang kegagalan semata melainkan tentang pengkhianatan terhadap amanah dan betapa mahalnya harga yang harus dibayar ketika sebuah lembaga kehilangan rohnya. Pesantren dibangun bukan untuk memperkaya segelintir orang, melainkan untuk mencerdaskan dan memuliakan generasi. Ketika tujuan itu dilupakan, maka segalanya mulai dari jumlah santri hingga reputasi akan ikut runtuh perlahan.

Ada sesuatu yang diam-diam ingin kita tanyakan kepada para pengambil keputusan di pesantren itu: seberapa sering kalian duduk bersama tujuh anak itu, mendengar cerita mereka, menatap mata mereka yang masih menyimpan secercah harapan? Seberapa sering kalian bertanya pada diri sendiri, “Berapa banyak yang sudah pergi karena kita?

Suara adzan masih berkumandang di pesantren itu setiap hari. Masih ada tujuh pasang kaki yang berjalan menuju mushola, tujuh pasang bibir yang melafalkan doa-doa di malam yang sepi. Selama itu masih ada, kisah ini belum benar-benar berakhir.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!