
Suatu siang di Pasar Senen, Aulia larut di antara deretan pakaian thrift yang memenuhi lapak-lapak penjual. Bersama teman-temannya, ia menghabiskan waktu berjam-jam memilah berbagai pakaian mulao dari yang tergantung maupun yang bertumpuk di rak. Berbagai model dan bahan pakaian tersedia disana. Tetapi tidak semua pakaian yang terlihat menarik akan dibawanya pulang. Ada yang hanya dilirik sekilas, ada pula yang diperiksa sangat teliti sebelum akhirnya dikembalikan ke tempat semula.
Bagi mahasiswi berusia 21 tahun itu, keseruan thrifting tidak hanya terletak pada barang yang berhasil didapatkan, tetapi juga pada proses pencariannya. Semakin lama mencari, semakin besar pula kepuasan ketika berhasil menemukan pakaian yang menurutnya bagus dan layak untuk dibeli.
“Rasanya senang sekali,” katanya, “karena bisa pakai baju bagus dengan harga yang terjangkau dan hasil mencari sendiri selama berjam-jam.”
Aulia baru mengenal dunia thrifting sejak Agustus 2024, tapi bagi banyak anak muda seusianya, aktivitas ini sudah lama bukan sekadar cara berhemat. Ada proses di dalamnya: pencarian, ketelitian, tawar-menawar, dan akhirnya kepuasan yang tidak bisa dibeli begitu saja di toko baju mana pun. Kepuasan yang lahir justru karena tidak mudah.
Tidak semua orang datang ke thrifting dari jalan yang sama. Hanna, juga 21 tahun, tidak perlu menunggu tren untuk mengenal apa itu thrift. Ibunya sudah lebih dulu mengenalkannya pada pakaian bekas.
“Kalau beli sendiri baru sekitar awal 2019, tapi kalau dibeliin sebenarnya dari kecil. Orang tua saya dulu memang sudah terbiasa membeli pakaian atau barang secondhand,” tuturnya.
Bagi Hanna, thrifting bukan sesuatu yang ia temukan di beranda sosial media. tetapi ia seakan tumbuh di dalamnya, jauh sebelum kata itu populer di linimasa siapa pun, jauh sebelum istilah thrifting ini akrab ditelinga anak muda, bagi Hanna, thrifting adalah warisan kecil dari ibunya. kebiasaan sederhana yang membentuk cara pandang Hanna terhadap pemilihan pakaian.
Meski dengan latar belakang berbeda, Aulia dan Hanna bertemu pada simpulan yang sama: pakaian yang baik tidak harus baru. Dan dari simpulan itulah segalanya dimulai.
Ketika Harga Menjadi Pertimbangan
Kalau ada satu hal yang membuat thrifting sangat relevan bagi anak muda sekarang, jawabannya tidak perlu dicari jauh-jauh: harga.
Menjadi mahasiswa berarti hidup di antara kebutuhan yang tidak pernah cukup dan pemasukan yang hampir selalu kurang. Biaya Kos, transportasi, makan, tugas, dan masih banyak lagi yang harus ditanggung. Tetapi di tengah semua itu banyak mahasiswa masih mementingkan untuk tampil lebih menarik. Sayangnya, membeli pakaian baru tidak selalu menjadi pilihan yang mudah pada kondisi tersebut.
“Dengan harga semurah itu bisa dapat barang yang bagus dengan budget yang lebih hemat,” kata Aulia.
Ia tidak bicara tentang pakaian murahan. Di pasar thrift yang ia datangi, ia pernah menemukan kemeja bermotif unik, rok yang memiliki model yang ia suka, hingga scarf yang jauh lebih banyak pilihan dibanding di toko fast fashion seharga tiga kali lipat. Kuncinya hanya kita harus teliti dan sabar.
Hanna menyimpannya lebih tajam. “Secara finansial saya belum bisa membeli banyak pakaian dari brand yang kualitasnya bagus. banyak brand lokal yang harganya cukup mahal, tapi bahannya biasa saja.”
Ada ironi yang diam-diam dirasakan banyak anak muda, yaitu pakaian baru tidak selalu berarti pakaian yang lebih baik. Sementara pakaian lama, yang telah berpindah dari satu pemilik ke pemilik lainnya, kerap menyimpan kualitas yang masih terjaga mulai dari bahan yang nyaman hingga jahitan yang tetap kuat meski telah digunakan bertahun-tahun.
Tapi kalau hanya soal harga, thrifting tidak akan bertahan lama sebagai tren. Murah saja tidak cukup untuk membuat orang mau menghabiskan berjam-jam di pasar yang panas dan ramai. Ada yang lebih dari itu.
Yang Tidak Bisa Dibeli di Toko Biasa
Banyak toko-toko baju baru terutama yang sering kita temukan di mall dan e-commerce menjual pakaian yang seringkali serupa. Warna dan bahan berganti seiring pergantian musim. Model minggu ini diganti model minggu depan. Semuanya seakan tersedia dengan mudah dan cepat. Tetapi justru karena itu, semuanya terasa sama.
Di pasar thrift, semuanya berbeda. Yang tersaji adalah pakaian yang sudah selesai dari siklus itu atau akrab kita kenal dengan sebutan vintage yang sudah jarang bahkan tak lagi diproduksi, potongan Y2K yang hilang dari pasaran, kemeja bermotif yang entah pernah populer di era mana, tapi justru karena itu terasa segar di mata anak muda hari ini. Setiap barang punya riwayat. Tidak ada dua yang persis sama.
“Modelnya jarang ada yang pakai dan harganya murah,” ujar Aulia tentang alasannya memilih thrift ketimbang toko baju biasa. Baginya, pakaian thrift memberikan sesuatu yang tidak bisa dipesan lewat aplikasi, yaitu kemungkinan bertemu sesuatu yang benar-benar tidak terduga.
Hanna merasakannya juga. “Kalau mau cari yang vintage atau model unik, biasanya lebih gampang ditemukan di thrift.”
Dari keunikan itu, pelan-pelan, mengubah cara mereka berpakaian dan cara mereka memandang pakaian itu sendiri. Bagi Aulia, thrifting membuka petualangan yang sebelumnya tidak pernah terlintas di pikirannya. Gaya berpakaiannya berubah, ia jadi lebih berani memadukan model yang tidak biasa, lebih suka mencoba style baru yang tidak ia bayangkan sebelumnya. Dari yang dulu hanya mengikuti apa yang ada, kini ia lebih aktif mencari apa yang terasa seperti dirinya.
Pakaian, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar pelindung tubuh. Tetapi menjadi medium untuk seseorang mengekspresikan dirinya.
Kebahagiaan yang Terbentuk dari Proses
Dalam semua cerita tentang thrifting, ada satu momen yang hampir selalu muncul: temuan tak terduga yang terasa seperti keberuntungan kecil.
Aulia masih ingat ketika ia menemukan setumpuk scarf warnanya beragam, motifnya cantik, jenis yang susah ditemukan di toko online sekalipun, apalagi dengan harga yang ditawarkan, membuatnya bisa berdiri cukup lama di depan tumpukan itu, memilah satu per satu, mempertimbangkan mana yang benar-benar ingin dibawanya pulang.
Hanna punya ceritanya sendiri: sebuah blouse yang ia temukan dalam kondisi nyaris sempurna, dibawanya pulang seharga lima belas ribu rupiah. Kalau dilihat dari angkanya memang kecil. Tapi yang membuat momen itu terasa menyenangkan bukan karena nominalnya, melainkan karena ia menemukannya sendiri, setelah memilah, setelah sabar, setelah tahu apa yang ia cari. Ada rasa memiliki yang berbeda ketika kita mendapatkan sebuah pakaian melalui proses seperti itu.
Ketika Thrifting Tidak Selalu Sempurna
Tentu saja, tidak semua perjalanan menyusuri pasar thrift berakhir dengan cerita manis. Aulia pernah mengalami kelalaian. Sebuah pakaian yang ia beli tampak baik-baik saja di bawah lampu pasar kala itu. Terlihat bersih, warnanya bagus, ukurannya pun pas. Tapi setelah sampai di rumah dan dicuci, barulah terlihat ada sobekan kecil di bagian bahu yang luput dari pemeriksaannya. Kekecewaan kecil ia rasakan saat mengetahui itu. Tapi dengan begitu, kelalaian cukup untuk mengajarkan bahwa ada hal yang tidak boleh terulang. Di pasar thrift, kondisi setiap barang adalah tanggung jawab pembelinya sendiri. Tidak ada garansi, tidak ada pengembalian seperti toko toko baju lain. Ketelitian adalah syarat untuk melakukan thrifting.
Hanna tidak pernah kecewa soal kualitas barang yang ia beli. Tapi ia pernah mendapati pengalaman lain yang mengganjal: beberapa pedagang yang kurang ramah kepada pengunjung yang sekadar lihat-lihat tanpa membeli.
Modis Bukan Soal Harga
Di antara semua yang mereka ceritakan, ada satu hal yang Aulia dan Hanna sepakati tanpa perlu berdiskusi panjang: tampil menarik tidak ditentukan oleh harga pakaian yang dikenakan.
“Yang penting mengerti cara mix and match-nya. Banyak juga kok baju thrift yang modelnya bagus, jadi tetap bisa terlihat fashionable,” kata Aulia.
Menurt Hanna: “Kalau soal modis, selera tetap nomor satu.”
Keduanya memahami bahwa berpakaian bukan sekadar soal mengikuti tren atau membeli yang paling mahal. Ada unsur selera, kenyamanan, dan cara seseorang memaknai dirinya.
Di tengah tren fashion yang terus berubah dan berbagai pilihan pakaian yang semakin mudah dijangkau, thrifting tetap memiliki tempat tersendiri bagi para penggemarnya. Ada pengalaman yang tidak selalu bisa ditemukan ketika berbelanja secara instan: proses mencari, memilih, dan akhirnya menemukan sesuatu yang dirasa tepat. Bagi Aulia, itu bisa jadi setumpuk scarf berwarna-warni yang tidak akan ia temukan di mana pun. Bagi Hanna, itu blouse lima belas ribu yang terasa seperti harta karun.
Bagi banyak anak muda lainnya, mungkin belum tahu bentuknya seperti apa. Tapi itulah yang membuat mereka kembali bukan semata-mata karena murah, melainkan karena di dunia yang serba cepat, thrifting menawarkan sesuatu yang langka, ada kejutan di dalamnya, proses untuk menemukannya, dan sedikit ruang untuk mengenali dan menjadi diri sendiri.
