Dari Kuah Cuanki ke Tanah Suci: Mang Oboy, Tiga Puluh Satu Tahun Setia pada Rasa

Jam tiga subuh, saat sebagian besar warga masih lelap dalam tidur, dapur kecil di sebuah rumah di gang sempit itu sudah mengepulkan asap. Panci besar mendidih di atas kompor, aroma kaldu tulang bercampur rempah mulai merebak ke udara pagi yang dingin. Di situ, seorang pria berusia enam puluhan sudah berdiri, mengaduk, memeriksa, menyiapkan, seperti yang ia lakukan setiap hari tanpa jeda selama lebih dari tiga dekade.

Namanya Maftuh. Tapi hampir tidak ada yang memanggilnya begitu. Semua orang mengenalnya sebagai Mang Oboy, panggilan kampung yang melekat erat, seperti juga gerobak cuankinya yang sudah bertahun-tahun mangkal di teras rumahnya sendiri sejak 1995.

Mang Oboy bukan pengusaha besar. Ia tidak punya gerai di mal, tidak punya karyawan puluhan orang, tidak punya modal awal yang menggiurkan. Yang ia punya hanyalah gerobak, teras rumah, dan konsistensi yang tidak pernah goyah selama tiga puluh satu tahun. Dari lapak sederhana itulah ia menghidupi keluarganya, menyekolahkan tiga anaknya hingga perguruan tinggi, membeli rumah, dan kini menyimpan satu impian terakhir: pergi ke tanah suci.

Apa sebenarnya yang membuat usaha sekecil gerobak cuanki di teras rumah bisa menanggung begitu banyak, begitu lama?

Di kalangan masyarakat Sunda, cuanki sering diplesetkan sebagai singkatan dari “cari uang jalan kaki”, karena para pedagangnya yang lazim memikul gerobak berkeliling kampung. Tapi nama itu sebenarnya punya akar yang lebih dalam. Secara historis, cuanki berasal dari istilah Tionghoa Bakso Tahu Kuah Choan Kie, di mana kata Choan Kie berarti rezeki.

Rezeki. Kata itu terasa pas sekali untuk menggambarkan perjalanan Mang Oboy.

Cuanki adalah jajanan tradisional khas Bandung berupa bakso dengan kuah kaldu yang gurih. Satu porsi umumnya terdiri dari kombinasi lima bahan utama: siomay kukus, siomay goreng, batagor, bakso, dan tahu kukus yang disiram kuah bening, lalu diberi taburan seledri dan bawang goreng. Sederhana tampilannya, tapi kaya rasanya. Dan di tangan Mang Oboy, semangkok cuanki telah menjadi lebih dari sekadar jajanan. Ia menjadi penghidup keluarga, penyekolah anak-anak, dan suatu hari nanti, mudah-mudahan, menjadi tiket perjalanan ke tanah suci.

Tidak seperti kebanyakan penjual cuanki yang berkeliling memikul gerobak dari gang ke gang, Mang Oboy memilih untuk menetap. Gerobaknya tidak kemana-mana. Ia mangkal di teras rumah, setiap hari, sejak pagi hingga malam. Tapi rezeki yang datang justru dari mana-mana.

Sebelum cuanki, Mang Oboy sudah mencoba banyak hal. Ia tidak merinci satu per satu, tapi dari nada bicaranya, orang bisa menebak bahwa perjalanannya tidak selalu mulus. Pria kelahiran 1966 ini pernah merasakan beragam usaha dan beragam kegagalan, sebelum akhirnya menemukan satu yang bertahan.

“Karena Mang Oboy kan enggak ada pencarian lagi. Udah coba bermacam-macam usaha, tapi yang cocok cuma ini. Dari mulai tahun ’95 sampai sekarang tahun 2026. Alhamdulillah sudah tercapai semua cita-cita dari usaha cuanki ini.”

Tiga puluh satu tahun. Angka itu bukan sekadar hitungan waktu. Di baliknya ada ribuan subuh yang dimulai sebelum azan, ratusan musim hujan yang tetap dilalui, dan satu keputusan yang tidak pernah ia sesali, bahwa cuanki adalah jawabannya.

Di Bandung dan kota-kota sekitarnya, penjual cuanki bisa ditemukan hampir di setiap sudut. Tapi tidak semua bertahan tiga dekade. Tidak semua berhasil membiayai tiga anak hingga perguruan tinggi. Dan tidak semua bisa membeli rumah dari hasil jualannya. Mang Oboy bisa.

Istrinya, Siti Juwariyah, adalah orang pertama yang tahu betapa beratnya ritme kehidupan itu. Setiap hari, persiapan dimulai pukul tiga dini hari. Berdua, mereka mengerjakan semuanya. Dari merebus kaldu, menyiapkan adonan bakso dan siomay, mengukus tahu, menggoreng batagor, hingga menata gerobak di teras rumah yang sekaligus menjadi lapak mereka. Semua selesai sekitar jam sepuluh pagi, tepat saat pembeli mulai berdatangan.

Tujuh jam kerja sebelum lapak benar-benar siap. Dan itu belum termasuk waktu melayani pembeli hingga malam.

“Mulai dari jam 3 subuh. Jam 3 subuh sampai beresnya jam 10 siang.”

Ketika ditanya bagian mana yang paling berat dari seluruh rangkaian persiapan itu, ia justru diam sebentar, lalu menjawab dengan tenang.

“Semua itu susah, sama saja.”

Bukan jawaban berkelit. Bukan pula kerendahan hati yang dibuat-buat. Itu adalah jawaban orang yang sudah terlalu lama menjalani sesuatu hingga beratnya terasa wajar, seperti bernapas, seperti bangun pagi, seperti hal-hal yang tidak lagi perlu dikeluhkan karena sudah menjadi bagian dari diri sendiri.

Siti tidak pernah absen dari ritual itu. Perempuan yang menikahi Mang Oboy dan kemudian ikut membesarkan usaha ini dari nol menjadi tulang punggung operasional yang tak terlihat di balik nama cuanki Mang Oboy. Ketika pelanggan menyeruput kuah hangat dan memuji rasanya, ada tangan Siti yang ikut andil di sana.

Lapak Mang Oboy tidak terletak di pinggir jalan besar. Tidak ada etalase kaca berkilap, tidak ada neon box yang menyala malam hari, tidak ada tempat parkir yang luas. Hanya gerobak yang setiap pagi didorong ke teras rumah, sederhana, tapi sudah cukup untuk menghidupi satu keluarga selama tiga puluh satu tahun.

Mang Oboy pernah berpikir untuk menyewa tempat yang lebih strategis, di depan jalan yang lebih ramai. Keinginan itu ada. Tapi kenyataan berbicara lebih keras.

“Kalau kualitas tempat, kan Mang enggak punya tempat di depan. Bukannya enggak mau, tapi tempatnya yang di depan mah mahal-mahal. Ini aja lah di rumah.”

Keputusan itu, yang awalnya mungkin terasa seperti keterbatasan, justru membentuk identitasnya. Cuanki Mang Oboy adalah cuanki yang dicari orang, bukan cuanki yang memasang spanduk di pinggir jalan. Pelanggannya datang karena tahu, bukan karena kebetulan lewat. Dan mereka memang datang dari jauh.

Tiga puluh satu tahun berjualan, Mang Oboy mengaku tidak pernah merasakan masa yang benar-benar berat atau sepi. Ini bukan klaim yang dibesar-besarkan. Ini catatan nyata dari seseorang yang konsistensinya sendiri sudah menjadi jaminan.

“Enggak ada. Jualannya lancar-lancar aja. Walaupun hujan, panas, tetap aja ada yang datang. Ada langganan yang udah tetap.”

Pelanggan tetap itu bukan hanya tetangga gang sebelah yang sesekali mampir. Ada yang datang dari luar kelurahan, dari luar kecamatan, bahkan dari kota lain, orang-orang yang sudah terlanjur tahu bahwa cuanki Mang Oboy berbeda dan tidak mau pindah ke yang lain.

Paling ramai, kata Mang Oboy, biasanya mulai jam dua belas siang hingga jam delapan malam. Tapi itu pun tidak tentu. Ada kalanya pembeli sudah mengantri sebelum siang, ada kalanya malam hari masih terus berdatangan. Yang pasti, teras kecil itu jarang sepi.

Dan belakangan, jangkauan itu semakin meluas berkat sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan tiga dekade lalu: telepon pintar.

“Sekarang mah udah lebih canggih, di HP kan ada. Di Grab ada katanya, di Shopee ada. Jadi yang beli itu kebanyakan yang jauh-jauh.”

Mang Oboy sendiri mungkin tidak sepenuhnya paham cara kerja algoritma platform pesan-antar. Tapi ia paham satu hal: selama kualitasnya dijaga, orang akan terus mencari.

Di kota yang penuh penjual cuanki, apa yang membuat orang rela mencari alamat di gang kecil, memesan lewat aplikasi, atau bahkan menempuh perjalanan jauh hanya untuk semangkok cuanki dengan lima isian yang sebenarnya bisa ditemukan di tempat lain?

“Kelebihannya dari cuanki yang lain, dari rasa. Kualitas barangnya beda.”

Tidak ada klaim bombastis. Tidak ada bumbu rahasia yang sengaja dibesar-besarkan untuk keperluan pemasaran. Hanya keyakinan sederhana yang lahir dari puluhan tahun konsistensi, bahwa apa yang dibuat setiap subuh dengan tangan yang sama, menggunakan bahan yang tidak dikompromikan, akan terasa berbeda di lidah orang yang memakannya. Kuah bening yang gurih, batagor yang renyah, siomay yang kenyal, tahu yang lembut, dan taburan seledri serta bawang goreng yang harum, semua itu bukan keajaiban, melainkan hasil dari pengulangan yang tidak pernah kendur.

Dan pasar sudah membuktikannya. Tiga dekade bertahan bukan keberuntungan. Itu konfirmasi.

Di balik rutinitas yang tampak sederhana itu, tersimpan pencapaian yang tidak sederhana sama sekali.

Mang Oboy dan Siti memiliki tiga orang anak. Ketiganya kini sudah menyelesaikan pendidikan tinggi. Di saat banyak keluarga dengan penghasilan lebih besar masih kesulitan membiayai satu anak kuliah, pasangan ini berhasil mengantarkan tiga anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi, semua dari hasil jualan cuanki yang gerobaknya tidak pernah beranjak jauh dari teras rumah.

“Alhamdulillah sudah pada sukses. Sekolah, semua sudah kuliah. Alhamdulillah kecukupi.”

Suaranya pelan ketika mengucapkan itu. Tapi ada kebanggaan di sana yang tidak perlu diucapkan lebih keras.

Rumah tempat gerobak itu setiap pagi didorong ke teras pun kini sudah menjadi milik mereka sendiri, dibeli dari hasil cuanki yang dicicil dari keuntungan bertahun-tahun. Bukan warisan. Bukan pinjaman yang belum lunas. Rumah itu milik mereka, hasil dari tangan mereka sendiri.

Ada yang bilang bahwa ukuran keberhasilan seseorang bisa dilihat dari apa yang ia wariskan kepada anak-anaknya. Jika ukuran itu yang dipakai, maka Mang Oboy dan Siti sudah lulus dengan nilai tertinggi. Mereka tidak mewariskan harta berlimpah, tapi mereka mewariskan sesuatu yang lebih sulit didapat: pendidikan dan contoh nyata bahwa kerja keras yang jujur tidak pernah sia-sia.

Di usia yang sudah tidak muda, setelah tiga anak berhasil dididik, setelah rumah berhasil dibeli, setelah nama cuankinya dikenal orang-orang yang bahkan belum pernah ia temui langsung, masih ada satu hal yang Mang Oboy simpan dalam hatinya.

“Kalau usahanya ramai begini, Mang maunya ibadah ke tanah suci. Alhamdulillah, amin.”

Dua kata itu, alhamdulillah dan amin, muncul berkali-kali dalam perbincangannya. Bukan sebagai ungkapan basa-basi, melainkan sebagai warna dasar dari cara ia memandang hidupnya: bahwa apa yang sudah ia miliki adalah pemberian, bukan sekadar hasil kerja kerasnya sendiri. Dan apa yang belum ia miliki, masih bisa didoakan.

Nama Choan Kie memang berarti rezeki. Tapi rezeki tidak turun begitu saja. Ia datang kepada mereka yang bangun jam tiga subuh, yang tidak melewatkan satu hari pun meski hujan turun deras, yang tidak menaikkan harga meski bisa, yang memilih untuk tetap setia pada rasa yang sudah terbukti.

Gerobak itu masih di teras. Panci kaldu masih mengepul. Dan Mang Oboy masih di sana, menunggu pembeli berikutnya, seperti tiga puluh satu tahun sebelumnya.

Perjalanan ke tanah suci itu belum tiba. Tapi kalau ada orang yang sudah layak menerimanya, itu adalah pria yang setiap subuh memilih untuk tidak menyerah.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!