
Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari sebuah bangunan sederhana di Karanganyar, Kabupaten Subang. Sulit membayangkan bahwa sosok yang kini akrab disapa Abah Maung, pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah, pernah menghabiskan masa mudanya sebagai preman jalanan. Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah.
Di balik pintu kayu pesantren, terlihat aktivitas harian yang jauh berbeda dari kehidupan jalanan yang pernah ia jalani seperti santri membaca Al‑Qur’an, mengikuti pengajian, dan belajar keterampilan praktis yang akan membantu mereka mandiri. Rutinitas ini menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya lembaga keagamaan, tetapi juga ruang rehabilitasi sosial bagi mereka yang ingin berhijrah.
Perubahan Abah Maung bermula dari kepedihannya melihat banyak pemuda jalanan yang ingin bertobat namun tak memiliki tempat pembinaan. “Saya melihat mereka putus asa, ingin berubah tetapi tak tahu ke mana harus pergi,” ujar Abah Maung mengenang motivasinya mendirikan pesantren pada sekitar tahun 2002. Dari sebuah kontrakan sederhana bersama beberapa rekannya, pesantren itu tumbuh perlahan menjadi tempat bagi ratusan jiwa mencari harapan baru.
Kisah ini kerap diceritakan oleh mantan preman yang kini menjadi santri atau pengurus. Yaitu kang Udin yang menyatakan bahwa, “Dulu saya berjaga di jalan setiap malam “sekarang saya mengajar anak-anak mengaji. Hidup saya berubah karena Abah Maung memberi kesempatan.” Kesaksian seperti ini menegaskan peran pesantren sebagai jembatan menuju kehidupan yang lebih terhormat.
Selama dua dekade terakhir, Pondok Pesantren Raudhatul Hasanah menggabungkan pengajian dengan pelatihan keterampilan seperti menjahit, pertukangan ringan, dan bercocok tanam serta beternak agar lulusan pesantren ini memiliki bekal saat kembali ke masyarakat. Banyak alumni yang berhasil membuka usaha kecil atau memperoleh pekerjaan tetap, meski masih banyak tantangan seperti keterbatasan dana dan stigma sosial.
Abah Maung mengakui hambatan tersebut namun tetap optimis: “Hidup itu soal kesempatan kedua. Siapapun berhak memperbaiki diri, asal ada niat dan pembimbing.” Abah menekankan bahwa pintu pesantren terbuka untuk siapa saja yang sungguh‑sungguh ingin hijrah, tanpa memandang latar belakang.
Saat azan berkumandang dan para preman yang dulu berkeliaran di jalan kini berjemaah di serambi pesantren, tampak harapan yang membanggakan bukan hanya bagi satu orang, tetapi juga bagi seluruh warga sekitar. Perjalanan Abah Maung dari kehidupan jalanan hingga ke tanah pengajian mengingatkan kita bahwa masa lalu yang kelam bukanlah penutup, melainkan awal untuk memberikan manfaat bagi banyak orang.
