Derap Gerobak Cireng: Kisah Kardi, 81 Tahun, Bertahan Demi Tak Jadi Beban Keluarga

Langit pucat kebiruan menggantung redup di atas jalanan disertai dinginnya udara yang menusuk kulit, seorang lelaki tua yang perlahan bersiap menjalani hari sebagai pedagang cireng. Kini melangkahkan kakinya yang memang tak lagi secepat dulu, tubuhnya yang ringkih seolah meminta waktu untuk beristirahat. Namun, kebutuhan hidup karena faktor ekonomi selalu memicu semangatnya kembali.

Dalam kesehariannya mengais rezeki, Kardi, seorang kakek yang telah menginjak usia 81 tahun itu masih tampak terlihat bugar dibandingkan dengan banyak orang seusianya. Meski tatapannya tak setajam dulu, dan pendengaran yang mulai memudar, ia tetap menjalani hari-harinya dengan tenang. Tangan tuanya yang keriput, urat-urat yang semakin terlihat, serta rasa pegal yang kerap datang seolah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, keaadan membuat Kardi kembali menjalani rutinitas yang sama seperti yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun.

Setiap hari, Kardi masih berusaha mendorong gerobak kecil miliknya yang mulai usang dimakan zaman. Cat pada sisi gerobaknya telah memudar, sementara rodanya sesekali berdecit pelan saat bergerak menyusuri jalan. Usianya yang terus bertambah membuat tubuh Kardi tak sekuat dulu. Punggungnya kini membungkuk, langkahnya pelan, dan napasnya yang kerap terdengar berat saat mendorong gerobak, tetapi semangat yang terpancar tetap hidup. Ia masih menyapa pembeli dengan ramah dan menjalani pekerjaannya tanpa banyak mengeluh, seolah usia hanyalah angka yang tidak mampu menghentikan tekadnya untuk terus bergerak.

Bagi warga sekitar, Kardi hanyalah sosok yang sederhana dan hanya dikenal sebagai penjual cireng. Tidak banyak yang mengetahui kehidupan pribadinya ataupun alasan apa yang membuatnya masih bekerja di usia senja. Gerobak yang didorongnya setiap hari bukanlah sekadar alat untuk berjualan, melainkan menjadi saksi bisu perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Dari wajah tuanya, tersimpan cerita tentang bagaimana kerasnya hidup, rasa sepi yang dipendam sendiri, serta tanggung jawab terhadap keluarga yang membuatnya tetap bertahan hingga hari ini.

Setiap senin hingga sabtu pagi, Kardi sudah memulai perjalanannya mengais rezeki. Tujuan tempatnya berjualan tak pernah berubah, yaitu SD Cinangka. Sekolah dasar yang telah lama menjadi bagian dari rutinitas hidupnya, di mana ia menggantungkan harapannya dari anak-anak sekolah, orang tua yang mengantar jemput anaknya, maupun orang-orang yang melewati jalanan itu, atau bahkan pelanggan yang datang menghampiri karena sudah menjadi langganan.

Perjalanan menuju sekolah bukan hal yang mudah bagi lelaki seusianya. Kardi perlahan mendorong gerobaknya melewati jalan demi jalan. Sesekali tangannya tampak gemetar saat menggenggam pegangan gerobak, sementara kakinya berjalan hati-hati agar tetap seimbang. Meski jarak dari rumah ke tempat berjualan cukup jauh, ia tak pernah banyak mengeluh. Karena baginya, selama masih mampu mencari penghasilan sendiri, dan tidak merepotkan anaknya, maka itu sudah cukup membuat harinya bahagia.

“Kalau hari senin sampai jum’at dari pagi sampai sore saya di sana, di SD. Lumayan lah kalau lagi ramai, anak-anak pada jajan”, ujar Kardi.  Rutinitas itu sudah dijalaninya bertahun-tahun. Suara riuh anak sekolah, bel istirahat, dan keramaian di depan gerbang sekolah menjadi suasana yang akrab baginya.

Berbeda dengan hari kerja, hari minggu menjadi hari ketika Kardi berpindah tempat mencari rezeki. Karena sekolah libur, ia memilih berjualan di pasar minggu Pasir Jati. Suasananya tentu tak sama dengan lingkungan sekolah. Di pasar itu, pembelinya datang dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga yang sengaja bermain, ibu-ibu yang berbelanja, para pekerja yang mencari makanan ringan, orang yang sedang berolahraga, hingga anak-anak muda yang ikut menemani keluarganya ke pasar. Meski harus beradaptasi dengan tempat dan suasana yang berbeda, Kardi tetap menjalani semuanya dengan sabar seperti hari-hari lainnya.  

Sejak awal tahun 2000-an, Kardi telah menjalani hidup sebagai pedagang keliling. Puluhan tahun ia habiskan waktu berjualan di jalan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jenis jualannya pun sempat berganti-ganti mengikuti keadaan, hingga akhirnya sekitar 15 tahun terakhir yaitu dari tahun 2011, ia memilih fokus untuk menjajakan cireng isi.

Cireng yang dijual Kardi berasal dari sistem setoran. Setiap hari ia mengambil sejumlah dagangan dari pemilik usaha untuk kemudian dijual kembali. Sehingga hasil yang ia dapatkan itu disetorkan pada pemiliknya. Meski begitu, keadaan tersebut tidak membuatnya berhenti. Baginya, selama masih ada tenaga untuk mendorong gerobak, melayani pembeli dan diberi kesempatan untuk berjualan, ia akan menjalaninya dengan baik.

“Setiap cireng yang saya jual, untungnya sekitar Rp500. Itu belum dipotong biaya minyak goreng, gas buat masak, plastik, dan kebutuhan lainnya,” jelas Kardi. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dalam beberapa tahun terakhir, penghasilan yang diperoleh Kardi dari berjualan cireng sebenarnya tergolong sangat kecil. Keuntungan yang didapat memang tidak besar belum lagi dipotong biaya operasional, tetapi dari hasil itulah ia masih bisa memenuhi berbagai kebutuhan sehari-harinya.

Ada kalanya dagangan ramai dan cukup membantu, tetapi tidak sedikit pula hari-hari ketika pembeli sepi sehingga penghasilan yang didapat pun tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya selama beberapa hari. Penghasilan yang didapat tersebut tidak selalu tetap. Cuaca, kondisi pasar, hingga daya beli pembeli sangat memengaruhi pendapatannya. Jika dihitung secara sederhana, penghasilan bersih yang ia bawa pulang setiap hari mungkin hanya berkisar 20 hingga 25 ribu rupiah setelah dipotong berbagai kebutuhan jualan. Itu pun dengan catatan jika dagangannya habis terjual.

“Bersyukur saja masih bisa jualan dengan jalan kaki, dari pada diem di rumah, nganggur, apalagi jadi beban buat anak saya yang sudah berkeluarga juga,” ujarnya lirih. Meski hidupnya berjalan dengan penghasilan yang serba terbatas, Kardi tidak terlalu memikirkan hitungan yang rumit. Baginya, selama tubuhnya masih mampu berjalan dan tangannya masih bisa bekerja, ia akan tetap berjualan. Ada kepuasan tersendiri ketika ia masih dapat menyapa pembeli, mendengar suara anak-anak sekolah di sekitar gerobaknya, dan pulang tanpa harus sepenuhnya bergantung kepada keluarga. Prinsip sederhana itulah yang membuatnya terus bertahan menjalani hari-hari di usia senjanya.

Di balik sosok yang kuat itu, Kardi juga seorang manusia dengan menyimpan rasa kehilangan besar yang belum benar-benar hilang dari ingatannya. Tiga tahun lalu, saat pandemi COVID-19 itu membawa pergi dua orang terdekatnya, yaitu sang istri dan anak pertamanya. Kepergian mereka terjadi dalam waktu yang berdekatan sehingga meninggalkan luka mendalam bagi Kardi. Sejak saat itu, rumah kecil yang ditempatinya berubah menjadi jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada lagi obrolan di pagi atau sore hari bersama keluarga, kehangatan yang selalu menemani hidupnya harus hilang. Kesedihan yang dialaminya belum benar-benar usai, tetapi ia memilih untuk tetap mendorong gerobaknya setiap pagi, menjalani hari demi hari dengan caranya sendiri.

Kini, ia tinggal bersama anak keduanya yang telah berkeluarga di rumah sederhana yang menjadi tempatnya beristirahat setelah seharian berjualan. Meski keluarga kecil anaknya itu menerima kehadirannya dengan sangat baik, tetapi ia tetap tidak merasa nyaman jika hanya menghabiskan waktu di rumah tanpa melakukan apapun, apalagi cucu dari anak pertamanya telah kehilangan ayah sehingga terkadang, Kardi akan memberikan sebagian penghasilannya pada mereka dan untuk dirinya sendiri agar tidak merepotkan atau bergantung pada anak-anaknya.

Baginya, meskipun tubuh yang mulai mudah lelah dan penghasilan yang tidak seberapa itu tetapi membuatnya merasa bisa menghilangkan rasa bosan serta rasa kehilangan yang dialaminya. Semua yang dijalaninya dari dulu hingga sekarang dilakukan dengan penuh ketekunan dan kesabaran, seolah tubuh yang menua belum mampu mengalahkan tekadnya untuk terus bertahan hidup.

Kisah Kardi sejatinya bukan hanya tentang seorang penjual cireng keliling. Ia menjadi gambaran tentang banyak lansia di Indonesia yang tetap bekerja di usia senja. Salah satu yang menjadi faktornya adalah belum adanya ekonomi yang merata bagi warga seperti mereka, dan rasa tanggung jawab yang ingin dipenuhi untuk keluarga yanng mereka jaga dengan caranya sendiri. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah dan pilihan hidup yang terbatas, mereka memilih bertahan melalui pekerjaan sederhana yang masih mampu dijalani.

Selama 15 tahun berjualan cireng, Kardi tak pernah benar-benar lepas dari kerasnya kehidupan. Dari perjalanan panjang itulah, Kardi menunjukkan bahwa usia bukan alasan untuk berhenti berarti. Di balik gerobak kecil yang terus didorongnya selama belasan tahun, tersimpan keteguhan, tanggung jawab, dan kasih sayang yang sederhana. Baginya, selama masih mampu ia lakukan, maka ia akan tetap berdiri di atas kakinya sendiri dan tidak menjadi beban bagi orang-orang yang dicintainya.

 

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!