- Di tengah maraknya istilah “ healing ” di kalangan generasi muda, muncul persepsi bahwa kelompok saat ini adalah generasi yang lemah. Sedikit masalah, langsung mencari waktu untuk istirahat. Sedikit tekanan, memilih untuk mundur. Namun, apakah ini benar? Atau kita sebenarnya menggunakan ukuran ketahanan lama untuk menilai situasi yang telah berubah?
- Generasi sekarang berada dalam era digital yang serba cepat, terbuka, dan diwarnai oleh tekanan sosial yang tinggi. Media sosial bukan hanya tempat untuk bersenang senang, tetapi juga arena perbandingan yang tiada henti mengenai prestasi, penampilan, serta gaya hidup. Tekanan ini sering kali tidak terlihat, tetapi memberikan dampak besar terhadap kesehatan mental. Dalam konteks ini, penyembuhan sebenarnya bukan sekadar mode, melainkan langkah penyesuaian.
- Permasalahan yang muncul adalah banyak orang yang masih menggangap ketahanan sebagai kemampuan untuk bertahan, diam, dann terus melangkah tanpa mengeluh. Sementara itu, standar tersebut lahir dari era yang berbeda. Ketahanan saat ini bisa beraarti berani mengakui keletihan, mencari bantuan, dan memperhatikan kesehatan mental, itu bukanlah indikasi kelemahan, melainkan manifestasi dari kesadaran diri.
- Pernahkah Anda merasa baru bekerja dua jam, lalu tiba-tiba merasa butuh liburan ke Bali karena merasa burnout? Atau mungkin Anda sering melihat unggahan di media sosial dengan takarir, “Self-reward karena sudah bertahan hidup hari ini,” padahal yang dilakukan hanyalah bangun pagi dan mandi? Selamat datang di era “healing”, sebuah zaman di mana batasan antara menjaga kesehatan mental dan kemanjaan emosional menjadi sangat tipis.
- Sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di tengah gempuran informasi, saya merasa ada kegelisahan yang nyata, kita sedang membangun narasi bahwa menjadi “lelah” adalah dosa besar yang harus segera ditebus dengan konsumerisme berkedok kesehatan mental. Kita seolah lupa bahwa tekanan adalah bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan.
- Kesehatan Mental: Antara Kesadaran dan Tren
Tesis utama saya adalah meskipun kesadaran akan kesehatan mental adalah kemajuan besar, glorifikasi terhadap “self-healing” yang berlebihan justru berisiko menciptakan generasi yang rendah daya juang (resiliensi) dan gagal membedakan antara stres normal dengan trauma klinis.
a) Inflasi Istilah Psikologi dalam Keseharian
Argumen pertama yang perlu kita soroti adalah fenomena “inflasi istilah”. Saat ini, kata-kata seperti trauma, toxic, gaslighting, hingga mental breakdown digunakan dengan sangat ringan dalam percakapan sehari-hari.
Dulu, ditegur atasan karena pekerjaan yang berantakan dianggap sebagai konsekuensi profesional. Sekarang, tidak sedikit yang melabeli teguran tersebut sebagai tindakan toxic atau serangan terhadap kesehatan mental. Ketika semua hal yang tidak nyaman dianggap sebagai “serangan mental”, kita kehilangan kemampuan untuk memproses kritik secara objektif. Data menunjukkan bahwa penggunaan istilah psikologi secara sembarangan justru bisa memperburuk kondisi seseorang melalui self-fulfilling prophecy ketika Anda melabeli diri Anda “depresi” hanya karena sedih sesaat, otak Anda akan mulai berperilaku seolah-olah Anda benar-benar mengidap penyakit tersebut.
b) Komodifikasi “Healing” oleh Industri
Kedua, kita harus jujur bahwa istilah healing telah mengalami pergeseran makna dari proses pemulihan batin menjadi aktivitas belanja atau liburan mahal. Industri menangkap kegelisahan kita dan mengubahnya menjadi peluang bisnis. “Healing bukan lagi soal duduk diam dan berefleksi, melainkan soal ke mana kita pergi dan apa yang kita beli.”
Contoh konkretnya adalah maraknya paket wisata “Staycation Healing” atau produk-produk retail yang menjanjikan ketenangan jiwa. Padahal, jika masalah utamanya adalah manajemen waktu yang buruk atau konflik komunikasi dengan pasangan, liburan seminggu ke Labuan Bajo tidak akan menyembuhkan apa pun. Masalah itu akan tetap ada di depan pintu rumah saat Anda pulang. Kita hanya melarikan diri, bukan mengobati.
c) Hilangnya Resiliensi akibat Menghindari Ketidaknyamanan
Ketiga, berkaitan dengan ketahanan mental. Otot manusia hanya akan tumbuh jika diberi beban. Begitu pula dengan mental. Jika setiap kali menghadapi kesulitan kita langsung mundur dengan alasan “menjaga peace of mind”, kita tidak akan pernah memiliki mental yang tangguh.
Generasi pendahulu mungkin terlalu kaku dan abai pada perasaan, namun mereka memiliki daya tahan yang luar biasa. Sebaliknya, saat ini kita cenderung menciptakan lingkungan yang “terlalu steril” dari tantangan. Kita terlalu cepat menyerah pada tekanan kerja, terlalu mudah memutuskan hubungan karena konflik kecil, dan terlalu sering mencari validasi eksternal. Jika kita terus-menerus menghindari ketidaknyamanan, bagaimana kita bisa siap menghadapi dunia yang pada hakikatnya memang tidak pasti dan keras?
d) Paradoks Media Sosial: Perbandingan yang Tak Berujung
Keempat, media sosial menjadi bensin bagi api kegelisahan kita. Kita melihat orang lain melakukan healing setiap akhir pekan, dan tiba-tiba kita merasa hidup kita sangat menyedihkan. Ini menciptakan standar kebahagiaan yang semu.
Data sederhana dari berbagai survei penggunaan media sosial menunjukkan korelasi kuat antara durasi scrolling dengan tingkat kecemasan. Kita merasa perlu “sembuh” dari kehidupan yang sebenarnya biasa-biasa saja hanya karena kehidupan orang lain terlihat lebih berkilau di layar ponsel. Kita tidak benar-benar butuh healing; kita hanya butuh meletakkan ponsel dan mulai mensyukuri apa yang ada di depan mata. - Mendudukkan Kembali Makna Ketangguhan
Tentu saja, tulisan ini tidak bermaksud meremehkan mereka yang benar-benar berjuang dengan gangguan klinis seperti depresi mayor atau gangguan kecemasan umum. Kesehatan mental adalah isu serius yang membutuhkan penanganan profesional, bukan sekadar nasihat “kurang ibadah” atau “kurang bersyukur”.
Namun, bagi kita yang sehat secara klinis tetapi merasa “lelah dengan dunia”, kita perlu meninjau ulang definisi ketangguhan kita. Ada perbedaan besar antara menyayangi diri sendiri dan memanjakan diri sendiri. Menyayangi diri sendiri terkadang berarti memaksa diri untuk tetap disiplin di tengah rasa malas, atau berani menghadapi percakapan sulit daripada menghindarinya. - Kesimpulan
Sebagai penutup, mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah kita benar-benar sedang terluka, atau kita hanya sedang tidak nyaman? Dunia tidak akan pernah melunak hanya karena kita merasa rapuh. Justru kitalah yang harus memperkuat punggung untuk memikul beban hidup yang lebih besar.
Healing yang sesungguhnya tidak ditemukan di kafe estetik atau hotel bintang lima. Ia ditemukan dalam kemampuan kita untuk memaafkan diri sendiri atas kegagalan, keberanian untuk bangkit setelah jatuh, dan kedewasaan untuk menerima bahwa hidup memang tidak selalu baik-baik saja.
Jangan biarkan tren “kesehatan mental” justru membuat kita menjadi mental tempe. Mari kembali menjadi pribadi yang berani berkeringat, berani dikritik, dan berani menghadapi kenyataan. Karena pada akhirnya, obat terbaik untuk rasa lelah bukan selalu istirahat, melainkan menemukan makna di balik setiap perjuangan yang kita lakukan.
