Saat Mahasiswa Lebih Betah Scroll daripada Membaca Buku

Hari ini, banyak mahasiswa mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton video pendek di media sosial, tetapi merasa berat ketika harus membaca buku beberapa halaman saja. Dalam kehidupan sehari-hari, pemandangan ini mudah ditemukan. Saat menunggu kelas dimulai, saat istirahat, bahkan sebelum tidur, gawai lebih sering digunakan untuk scroll TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts daripada membuka buku. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebiasaan membaca mulai tergeser oleh budaya konten pendek yang cepat, ringan, dan instan. Menurut saya, kebiasaan mahasiswa yang lebih menyukai konten pendek daripada buku perlu menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi daya baca, kedalaman berpikir, dan kemampuan memahami informasi secara utuh.

Kondisi ini tidak terjadi begitu saja. Mahasiswa hidup di tengah budaya internet yang sangat kuat. Data APJII tahun 2024 menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221.563.479 jiwa dari total penduduk 278.696.200 jiwa, dengan tingkat penetrasi internet sebesar 79,5%. Kelompok usia yang paling banyak berkontribusi adalah Gen Z sebesar 34,40%, yaitu kelompok usia yang banyak beririsan dengan mahasiswa. Selain itu, DataReportal mencatat bahwa Indonesia memiliki 139 juta pengguna media sosial pada Januari 2024. TikTok bahkan menjangkau 126,8 juta pengguna dewasa, sedangkan YouTube menjangkau 139 juta pengguna di Indonesia. Data ini memperlihatkan bahwa mahasiswa sangat dekat dengan ruang digital yang menyediakan informasi cepat dan menarik. Akibatnya, konten pendek menjadi lebih mudah diakses daripada buku, jurnal, atau artikel panjang.

Konten pendek sebenarnya tidak selalu buruk. Video singkat, kutipan motivasi, ringkasan materi, atau potongan informasi dapat membantu mahasiswa mendapatkan gambaran awal tentang suatu topik. Misalnya, ketika ingin memahami teori pendidikan, mahasiswa mungkin menonton video berdurasi satu menit di TikTok atau YouTube Shorts. Video tersebut bisa memberi pengantar yang sederhana dan mudah dipahami. Namun, masalah muncul ketika mahasiswa berhenti hanya pada informasi singkat itu. Tidak semua persoalan dapat dijelaskan secara utuh dalam waktu singkat. Banyak materi kuliah, teori, dan isu sosial membutuhkan penjelasan yang lebih panjang agar tidak dipahami secara dangkal. Jika terlalu bergantung pada konten pendek, mahasiswa bisa terbiasa menerima informasi secara instan tanpa berusaha memahami dasar, konteks, dan hubungan antaride.

Kebiasaan menerima informasi secara cepat juga dapat memengaruhi cara mahasiswa belajar. Ketika terbiasa dengan konten yang singkat, padat, dan langsung pada inti, sebagian mahasiswa menjadi kurang sabar menghadapi bacaan panjang. Buku dianggap melelahkan karena membutuhkan waktu dan konsentrasi. Padahal, dalam dunia perkuliahan, kemampuan membaca panjang sangat penting. Mahasiswa tidak hanya dituntut mengetahui jawaban, tetapi juga memahami proses berpikir, alasan, dan dasar teori dari suatu gagasan. Jika mahasiswa hanya mengandalkan ringkasan atau video pendek, pemahamannya bisa berhenti di permukaan. Akibatnya, ketika diminta berdiskusi, menulis makalah, atau menyusun argumen, mereka kesulitan menjelaskan gagasan secara mendalam.

Berbeda dengan konten pendek, buku menuntut perhatian, kesabaran, dan konsentrasi yang lebih lama. Saat membaca buku, mahasiswa dilatih untuk mengikuti alur pemikiran penulis, memahami gagasan secara bertahap, serta menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya. Kebiasaan ini penting karena dunia perkuliahan tidak hanya menuntut mahasiswa untuk mengetahui informasi, tetapi juga mampu berpikir kritis dan mendalam. Buku, jurnal, dan artikel ilmiah membantu mahasiswa melihat persoalan secara lebih luas. Sementara itu, konten pendek sering kali hanya menampilkan bagian yang menarik, viral, atau mudah disukai, tetapi belum tentu menjelaskan persoalan secara lengkap.

Di sisi lain, minat membaca masyarakat Indonesia sebenarnya menunjukkan perkembangan. Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Gemar Membaca nasional tahun 2024 mencapai 72,44, meningkat dari tahun sebelumnya sekitar 66,7, tetapi masih berada pada kategori sedang. Data ini menunjukkan bahwa budaya membaca sudah mulai tumbuh, tetapi masih perlu diperkuat, terutama di kalangan mahasiswa. Sebagai kelompok terpelajar, mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi konsumen informasi cepat, tetapi juga pembaca yang mampu memahami informasi secara mendalam. Membaca buku bukan sekadar tuntutan akademik, melainkan cara untuk melatih daya pikir, memperluas wawasan, dan membangun sikap kritis terhadap berbagai informasi yang beredar di media sosial.

Karena itu, yang perlu dilakukan bukan menolak konten pendek sepenuhnya, melainkan menempatkannya secara tepat. Konten pendek dapat dijadikan pintu masuk untuk mengenal suatu isu, tetapi bukan pengganti buku sebagai sumber utama pengetahuan. Mahasiswa boleh menonton video ringkas untuk memahami gambaran awal, tetapi setelah itu tetap perlu membaca buku, jurnal, atau sumber akademik lain agar pemahamannya lebih kuat. Dengan begitu, teknologi digital tidak menjadi penghalang budaya membaca, tetapi justru dapat menjadi jembatan menuju bacaan yang lebih mendalam. Misalnya, setelah menonton video singkat tentang suatu teori, mahasiswa dapat mencari buku atau artikel ilmiah yang membahas teori tersebut secara lebih lengkap.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang mahasiswa yang malas membaca, melainkan tentang bagaimana lingkungan digital membentuk kebiasaan belajar mereka. Konten pendek memang praktis, cepat, dan menarik, tetapi mahasiswa tidak boleh berhenti pada informasi yang serba instan. Buku tetap memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir yang kritis, sabar, dan mendalam. Sudah saatnya mahasiswa menjadikan konten pendek sebagai pengantar, bukan pengganti kebiasaan membaca buku. Membaca mungkin membutuhkan waktu lebih lama, tetapi dari sanalah pemahaman yang utuh dan matang dapat dibangun. Mahasiswa perlu menyadari bahwa kemampuan berpikir tidak tumbuh dari informasi yang lewat begitu saja di layar, melainkan dari proses membaca, memahami, mempertanyakan, dan merenungkan isi bacaan secara sungguh-sungguh.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!