
Akhir tahun 1600-an, hutan di kawasan priangan masih lebat dan sepi. Di sinilah seseorang pria bernama Raden Aria Wiratanudatar atau bisa disebut Jayasasana, datang menuruni bukit di daerah yang sekarang dikenal sebagai Cikundul. Ia bukan prajurit, ia dikenal keturunan Prabu Siliwangi. Tapi bukan senjata yang diandalkan. Yang ia bawa adalah ilmu agama, keyakinan kuat, dan satu cita-cita sederhana, membangun tempat tinggal yang damai, di mana Islam bisa berkembang dan masyarakat yang hidup sejahtera.
Hingga kini, makam Raden Aria Wiratanudatar yang berada di kawasan Cikalong Kulon, Kabupaten Cianjur. Makam yang dikenal sebagai penyebar agama Islam dan pendiri Kabupaten Cianjur ini masih menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah. Para peziarah datang untuk mengenang sosok yang dikenal sebagai pendiri kabupaten Cianjur sekaligus penyebar Islam di wilayah ini, melalui tradisi ziarah yang terus berlangsung dari generasi ke generasi. Jejak perjuangan dan pengaruh Raden Aria Wiratanudatar tetap hidup di tengah masyarakat.
Dibalik berdirinya Kabupaten Cianjur, terdapat sosok yang hingga kini dikenang oleh masyarakat sebagai pendiri sekaligus penyebar agama Islam di wilayah tersebut. Sosok itu adalah Raden Aria Wiratanudatar atau yang dikenal dengan sebutan Eyang Dalem Cikundul. Berbagai kisah mengenai perjalanan hidupnya masih diwariskan secara turun temurun dan menjadi bagian dari sejarah serta budaya masyarakat.
“Dulu Cianjur memiliki seorang ulama besar, bahkan dikatakan sebagai wali. Beliay juga dikenal sebagai pendiri kabupaten Cianjur. Beliau lahir si Sagala Herang, Subang, dan sejak kecil bernama Raden Jayasasana”, ujar Asep selaku kuncen makam Eyang dalem Cikundul. Sejak usia muda, Raden Jayasasana dikenal sebagai pribadi yang tekun menuntut ilmu. Atas perintah ayahnya, ia berangkat ke cirebon untuk mempelajari ilmu agama islam. Disana ia berguru kepada Syek Sunan Gunung Djati dan menjadi salah satu muridnya yang dikenal cerdas
Selain dikenal sebagai ulama, masyarakat juga mengenal berbagai kisah yang berkembang mengenai perjalanan spiritual Eyang Dalem Cikundul. Salah satunya adalah, cerita tentang tirakat yang dilakukan di kawasan Sagalaherang sebelum memulai dakwahnya. Setelah memiliki bekal ilmu agama yang cukup, Raden Aria Wiratanudatar mendapat amanat untuk menyebarkan agama islam ke berbagai wilayah di tatar sunda, perjalanan dakwah nya dilakukan dengan menyusuri Sungai Citarum dari daerah menyusuri sungai Citarum dari daerah Subang menuju wilayah cianjur.
Setibanya di wilayah Cianjur, Raden Aria wiratanudatar tidak serta merta menetap di suatu tempat. Ia terlebih dahulu menelusuri berbagai kawasan untuk mencari lokasi yang dianggap sesuai dengan amanat yang diberikan ayahnya. Dalam perjalanan tersebut, beberapa tempat yang disinggahnya kemudian dipercaya menjadi asal usul nama kampung yang masih dikenal masyarakat sekarang.
“Sebelum berangkat, beliau diamanahi untuk mencari pengguyangan badak putik. Setelah menelusuri berbagai daerah, beliau menemukan lokasi yang diyakini berada di sekitar kawasan Masjid Agung Cianjur sekarang, sungai tempat badak putih mandi itu dikenal sebagai kali Cianjur, sedangkan tempat badak putih menjemur badannya kemudian disebut pamoyanan. Beberapa tempat yang pernah beliau singgahi juga menjadi cikal bakal nama-nama kampung yang masih ada hingga saat ini”, Tuturnya.
Cerita tersebut, terlihat bahwa perjalanan Raden Aria Wiratanudatar ke Cianjur tidak berjalan dengan mudah. Sebelum menetap, ia lebih dulu mencari tempat yang sesuai dengan amanat ayahnya. Menurut Asep selaku juru kunci makam Dalem Cikundul, beberapa tempat yang pernah disinggahi Raden Aria Wiratanudatar kemudian menjadi asal-usul nama kampung yang masih dikenal oleh masyarakat hingga saat ini. Setelah menemukan tempat yang dianggap tepat, beliau mulai mendirikan permukiman yang kemudian berkembang. Dari tempat itu pula, beliau menyebarkan agama Islam dengan cara yang dekat dengan masyarakat Sunda sehingga ajarannya lebih mudah diterima dan terus berkembang.
