
Tarsan Hermawanto tertawa kecil saat diminta mengingat masa sekolahnya. Pria kelahiran 7 Oktober 1991 itu mengaku masih ingat betul bagaimana dirinya membawa sebuah termos berisi es lilin setiap berangkat ke sekolah.
Saat sebagian teman-temannya menunggu waktu istirahat untuk bermain atau membeli jajanan, Tarsan justru menunggu waktu itu untuk berjualan.
“Dulu mah kalau istirahat bukan jajan, malah jualan,” katanya sambil tersenyum.
Siapa sangka, siswa yang dulu menjual es lilin kepada teman-temannya di lingkungan sekolah itu kini dipercaya menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Nagacipta selama dua periode.
Bagi Tarsan, masa sekolah bukan hanya tentang pelajaran di dalam kelas. Sejak kecil ia sudah memahami bahwa tidak semua kebutuhan bisa dengan mudah terpenuhi. Karena itu, ia berusaha mencari cara untuk membantu dirinya sendiri.
Salah satunya dengan berjualan es lilin.
Setiap pagi, ia membawa termos berisi es lilin ke sekolah. Saat bel istirahat berbunyi, ia mulai menawarkan dagangannya kepada teman-teman. Dari situlah ia memperoleh tambahan uang untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah.
“Dulu mah tiap berangkat sekolah bawa termos isi es lilin. Pas istirahat dijual ke teman-teman. Lumayan lah hasilnya buat tambahan kebutuhan sekolah,” ujarnya.
Meski harus berjualan di sekolah, Tarsan mengaku tidak pernah merasa malu. Baginya, yang terpenting saat itu adalah tetap bisa bersekolah dan tidak terlalu membebani orang tua.
“Enggak pernah malu juga. Yang penting bisa bantu biaya sekolah, itu saja pikiran saya waktu itu,” katanya.
Kadang dagangannya habis terjual sebelum jam pelajaran berikutnya dimulai. Kadang masih ada yang tersisa dan harus dibawa pulang kembali. Namun, apa pun hasilnya, ia tetap merasa senang karena bisa memperoleh uang dari hasil usahanya sendiri.
“Kalau lagi habis cepat senang banget. Soalnya berarti ada uang yang bisa dipakai buat kebutuhan sekolah,” ujarnya sambil tertawa.
Pengalaman sederhana itu ternyata meninggalkan banyak pelajaran. Tanpa disadari, kegiatan berjualan membuatnya belajar bertanggung jawab dan menghargai hasil kerja keras.
Setelah lulus sekolah menengah, Tarsan dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit. Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sederhana, ia memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Keinginan itu tidak datang begitu saja. Ia percaya bahwa pendidikan dapat membuka peluang yang lebih baik di masa depan. Meski belum tahu bagaimana cara membiayainya, ia tetap memutuskan untuk mencoba.
“Sebetulnya waktu itu bingung juga. Biaya kuliah dari mana, saya juga enggak tahu. Pokoknya pengin kuliah saja dulu,” ujarnya.
Keputusan tersebut menjadi awal perjuangan baru dalam hidupnya. Menjadi mahasiswa ternyata tidak mudah. Selain harus mengikuti perkuliahan, ia juga harus memikirkan biaya hidup dan biaya pendidikan.
Berbagai pekerjaan pernah dicobanya. Ia tidak terlalu memikirkan jenis pekerjaan yang dijalani. Selama pekerjaan itu halal dan bisa membantu biaya kuliah, ia akan melakukannya.
“Kalau ada kerjaan ya diambil. Yang penting dapat uang buat kuliah,” katanya.
Salah satu pekerjaan yang pernah dijalaninya adalah menjadi kuli. Pekerjaan itu menuntut tenaga yang tidak sedikit. Namun, keadaan membuatnya harus tetap bertahan.
“Pernah jadi kuli juga. Ya kerja apa saja yang penting halal dan bisa buat bayar kuliah,” ujarnya.
Ada kalanya tubuhnya terasa lelah setelah bekerja. Namun, keesokan harinya ia tetap harus mengikuti perkuliahan seperti biasa.
“Kadang pulang kerja badan pegal semua, besoknya kuliah lagi. Tapi ya dijalani saja karena memang harus begitu,” katanya.
Meski menghadapi berbagai kesulitan, Tarsan tidak pernah berpikir untuk berhenti kuliah. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa perjuangan tersebut suatu hari akan membuahkan hasil.
“Pokoknya waktu itu mah kuliah harus beres. Mau capek kerja juga ya dijalani,” ujarnya.
Perjuangan panjang itu akhirnya terbayar. Pada tahun 2013, Tarsan berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya. Momen kelulusan menjadi salah satu kenangan yang paling berkesan dalam hidupnya.
“Rasanya lega. Karena saya tahu betul bagaimana prosesnya,” katanya.
Setelah lulus kuliah, Tarsan memilih menjadi guru. Profesi itu masih dijalaninya hingga sekarang.
Baginya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat anak-anak yang diajarnya terus belajar dan berkembang.
“Pas akhirnya jadi guru, rasanya senang. Soalnya dari dulu memang pengin punya pekerjaan yang bisa bermanfaat buat orang lain,” ujarnya.
Pengalaman hidup yang pernah ia alami membuatnya lebih mudah memahami para siswa. Ia tahu bahwa tidak semua anak memiliki perjalanan yang mudah dalam menempuh pendidikan.
Karena itu, ia sering mendorong siswa-siswanya agar tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan.
“Saya ngerasain sendiri susahnya sekolah. Jadi kalau bisa membantu anak-anak terus semangat belajar, saya senang,” katanya.
Meski sudah menjadi guru, Tarsan tetap menjalankan usaha sampingan. Kebiasaan bekerja yang sudah terbentuk sejak muda membuatnya tidak bisa hanya bergantung pada satu sumber penghasilan.
Salah satu usaha yang pernah dijalaninya adalah berjualan pulsa.
“Walaupun sudah jadi guru, saya tetap cari tambahan. Jualan pulsa juga pernah. Namanya kebutuhan keluarga kan terus ada,” ujarnya.
Menurutnya, tidak ada salahnya memiliki pekerjaan tambahan selama dilakukan dengan jujur dan tidak mengganggu pekerjaan utama.
“Saya dari dulu memang enggak bisa diam. Kalau ada peluang usaha ya dicoba,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, Tarsan semakin dikenal oleh masyarakat. Selain aktif mengajar, ia juga sering terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan di lingkungan desa.
Kedekatannya dengan masyarakat membuat banyak warga mengenalnya sebagai sosok yang sederhana dan mudah bergaul. Pengalaman hidup yang pernah dijalaninya juga membuatnya lebih memahami berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kalau ada warga yang sedang kesulitan, saya sering teringat masa-masa dulu,” ujarnya.
Pada tahun 2017, Tarsan memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Ketua BPD Desa Nagacipta. Keputusan itu awalnya tidak pernah terbayangkan olehnya.
“Awalnya mah enggak kepikiran jadi Ketua BPD,” katanya.
Namun, dorongan dan dukungan dari masyarakat membuatnya memberanikan diri untuk maju.
“Banyak yang nyuruh maju. Saya pikir kalau memang bisa bermanfaat buat masyarakat, kenapa enggak dicoba,” ujarnya.
Kepercayaan masyarakat akhirnya mengantarkannya menjadi Ketua BPD Desa Nagacipta pada tahun 2017. Jabatan tersebut menjadi pengalaman baru dalam perjalanan hidupnya setelah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai guru.
“Alhamdulillah masyarakat percaya. Buat saya itu amanah yang harus dijaga,” katanya.
Kepercayaan masyarakat ternyata tidak berhenti dalam satu periode. Setelah masa jabatan berakhir, warga kembali memberikan dukungan kepadanya untuk melanjutkan pengabdian pada periode berikutnya.
Hingga saat ini, Tarsan masih dipercaya menjabat sebagai Ketua BPD Desa Nagacipta selama dua periode.
“Enggak pernah kepikiran bakal sampai dua periode. Saya mah jalani saja amanah yang diberikan masyarakat,” ujarnya.
Kini, hampir sembilan tahun sejak pertama kali menjabat pada 2017, Tarsan masih aktif menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Ketua BPD. Meski demikian, ia mengaku tidak pernah melupakan masa-masa ketika dirinya berjualan es lilin di sekolah.
“Kalau ingat dulu mah suka ketawa sendiri. Dulu jualan es lilin, sekarang dipercaya masyarakat. Saya juga enggak nyangka,” katanya.
Menurutnya, perjalanan hidup setiap orang berbeda-beda. Karena itu, ia tidak pernah malu menceritakan masa lalunya kepada siapa pun.
“Yang penting mah jangan malas dan jangan gampang menyerah. Saya juga mulai dari bawah,” ujarnya.
Termos es lilin yang dulu menemaninya ke sekolah mungkin sudah lama tidak ada. Namun, cerita tentang perjuangan di balik termos itu masih melekat dalam ingatan Tarsan hingga hari ini.
Dari seorang siswa yang memanfaatkan waktu istirahat untuk berjualan es lilin, menjadi mahasiswa yang bekerja sambil kuliah, lulus pada 2013, mengabdi sebagai guru hingga sekarang, lalu dipercaya masyarakat menjadi Ketua BPD sejak 2017 selama dua periode, perjalanan Tarsan Hermawanto menunjukkan bahwa langkah kecil yang dijalani dengan tekun dapat membawa seseorang pada tempat yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya.
