
penulis: Muhammad Dzaki Mubarok
Di balik hiruk-pikuk Kota Cimahi yang terus berkembang, tersembunyi sebuah kawasan yang usianya mungkin lebih tua dari ingatan siapapun yang pernah melintas di Jalan Kolonel Masturi, sebuah tanah leluhur yang masih hidup, masih bernapas, dan masih setia menjaga amanat Sunda sejak abad ke-7 Masehi.
Kabuyutan Cipageran, atau yang kini akrab disebut Kabuci, adalah sebuah kawasan di Cipageran, Cimahi Utara, yang berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare. Situs ini bukan sekadar nama tempat “kabuyutan” dalam tradisi Sunda berarti tanah keramat, tempat suci leluhur yang dijaga turun-temurun. Namun di balik nilai historisnya yang dalam, Kabuci justru nyaris tak terdengar. Minimnya promosi, terbatasnya dokumentasi tertulis, dan kurangnya perhatian dari banyak pihak membuat situs yang menyimpan jejak peradaban pra-Islam di Tatar Sunda ini perlahan-lahan tenggelam dari narasi sejarah bangsa.
Kabuyutan Cipageran, atau yang kini akrab disebut Kabuci, adalah sebuah kawasan di Cipageran, Cimahi Utara, yang berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare. Situs ini bukan sekadar nama tempat “kabuyutan” dalam tradisi Sunda berarti tanah keramat,
Menurut penuturan Abah jenggot dalam wawancaranyai “kabuci ini adalah salah satu peninggalan yang terkait dengan kekalahan mataram dan juga tempat suci leluhur yang dijaga turun-temurun”. Namun di balik nilai historisnya yang dalam, Kabuci justru nyaris tak terdengar. Minimnya promosi, terbatasnya dokumentasi tertulis, dan kurangnya perhatian dari banyak pihak membuat situs yang menyimpan jejak peradaban pra-Islam di Tatar Sunda ini perlahan-lahan tenggelam dari narasi sejarah bangsa.
Keberadaan Kabuyutan Cipageran diduga kuat sudah ada sejak masa Kerajaan Sunda, yang menurut penelitian sejarah membentang dari akhir abad ke-7 hingga akhir abad ke-16 Masehi. Bila benar demikian, Kabuci bukan hanya menjadi saksi bisu satu zaman, melainkan rentang panjang peradaban Sunda kuno itu sendiri jauh sebelum Islam datang dan menetap di tanah Pasundan. Para peneliti menyebut Kabuyutan Cipageran sebagai salah satu bukti nyata adanya tempat leluhur Sunda, sekaligus replika kampung Sunda tempo dulu sebuah “museum hidup” yang menjembatani masa lampau dengan masa kini.
Nama Cipageran sendiri tak lepas dari sosok yang diyakini masyarakat sebagai leluhur pembuka kawasan ini, yakni Eyang Sembah Dalem Wirasuta Widjaya. Konon, ia hidup sekitar abad ke-17 dan menjadi tokoh Sunda yang membuka serta mengembangkan wilayah Cipageran, bahkan diyakini sudah berada di sana sebelum proyek Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang dibangun Gubernur Jenderal Daendels pada 1811 melintasi Cimahi. Sebagian pegiat sejarah lokal bahkan menduga jejak Wirasuta inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Cimahi sebagai bagian dari distrik lama bernama Cilokotot pada masa kolonial.
Makam Eyang Sembah Dalem Wirasuta Widjaya kini terletak di kompleks TPU Muslim Cipageran, Jalan Kolonel Masturi, berdampingan dengan makam istrinya, Eyang Fatimah Sariwangi. Keduanya menjadi tujuan ziarah yang dikenal hingga luar daerah peziarah datang dari Bogor, Depok, dan kota-kota lain, terutama saat menjelang Ramadhan dan setelah Lebaran. Bagi masyarakat Kabuci, sosok Wirasuta diyakini sebagai wali yang turut menyebarkan agama Islam di Cimahi, sekaligus leluhur kabuyutan yang menyatukan jejak Sunda kuno dengan masuknya Islam di tanah ini. Nilai kesakralan tempat ini bahkan pernah diakui secara resmi: pada 2022, mata air dan tanah dari area pemakaman tersebut dipilih sebagai bagian dari simbol yang dibawa ke Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, setelah pemerintah Kota Cimahi berkonsultasi langsung dengan komunitas kabuyutan Kabuci.
Sebagaimana kampung-kampung adat lain di Tatar Sunda, Kabuci pun menjaga amanat leluhur yang sangat dihormati oleh generasi penerusnya sebuah nilai yang dipandang tinggi dan strategis dalam kebudayaan Sunda. Kawasan ini awalnya hanyalah lahan perkebunan biasa, sebelum keluarga pemilik lahan mengubahnya menjadi kampung berkonsep kasundaan sejak sekitar 2011, lalu memperluas fungsinya pada 2015 menjadi sebuah kawasan yang lebih utuh: Kawasan Konservasi Alam Budaya Sunda dan Wisata Pendidikan Cipageran. Di sinilah saung-saung bambu berdiri berdampingan dengan rumah panggung, sementara pencak silat, angklung, dan jaipongan masih rutin digelar sebagai bentuk pelestarian seni tradisional Sunda.
Pada akhirnya, Kabuyutan Cipageran bukan sekadar lahan hijau yang menyejukkan mata di tengah pesatnya pembangunan Cimahi, melainkan sebuah ruang ingatan di mana sejarah Sunda pra-Islam, jejak penyebaran Islam, dan kearifan lokal menyatu dalam satu napas yang sama. Ironisnya, justru karena minim sorotan, Kabuci tetap menjadi salah satu situs paling otentik yang menyimpan akar peradaban Sunda sebuah amanat leluhur yang menanti untuk lebih dikenal, dijaga, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.
