
Pesatnya perkembangan teknologi dan masuknya budaya modern, kesenian tradisional genjringan masih mampu bertahan sebagai salah satu warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Kesenian yang memadukan tabuhan alat musik genjringan (rebahan) dengan lantunan syair-syair bernuansa islami ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan saja, tetapi juga menjadi media dakwah, serta sarana mempererat hubungan sosial masyarakat. Keberadaanya hingga saat ini menunjukan bahwa nilai-nilai budaya lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.
Untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai sejarah, perkembangan dan upaya pelestarian kesenian genjringan, penulis melakukan wawancara dengan Muhammad Eriyan, seorang tokoh seni sekaligus pelaku kesenian genjringan yang telah aktif terlibat dalam berbagai kegiatan budaya di daerahnya selama bertahun-tahun. Berbekal pengalaman yang dimilikinya, beliau menjelaskan berbagai aspek mengenai kesenian genjringan, mulai dari asal-usul, fungsi sosial dan keagamaan, hingga tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan zaman. menurutnya , genjringan bukan sekedar pertunjukan seni, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat yang mengandung nilai sejarah dan keagamaan yang penting untuk diwariskan kepada generasi muda.
Dalam wawancara tersebut, Muhammad Eriyah menjelaskan bahwa kesenian genjringan telah berkembang sejak lama dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Pada awalnya, kesenian ini digunakan sebagai media penyebaran ajaran islam yang disampaikan melalui syair-syair berisi pujian kepada Allah SWT, solawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta nasihat-nasihat kehidupan. Penyampaian pesan agama melalui kesenian dinilai lebih mudah diterima masyarakat karena dikemas dalam bentuk hiburan yang menarik.
Menurut beliau, pertunjukan genjringan biasanya dimainkan secara kelompok dengan menggunakan beberapa alat musik genjringan atau rebana yang menghasilkan irama khas. Para pemain tidak hanya memainkan alat musik, tetapi juga menyanyikan syair-syair yang memiliki makna religius. Oleh karena itu, kesenian ini memiliki fungsi ganda, yaitu pendidikan dan dakwah bagi masyarakat.
Beliau juga mengungkapkan bahwa pada masa lalu genjringan sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti kegiatan Maulid Nabi Saw , isra miraj, khitanan, pernikahan, hingga acara syukuran. Namun, seiring perkembangan zaman dan semakin banyak pilihan hiburan modern, minat masyarakat, terutama generasi muda, terhadap kesenian tradisional mulai mengalami penurunan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku seni dalam mempertahankan keberlangsungan genjringan.
Meski demikian, upaya pelestarian terus dilakukan melalui kegiatan latihan rutin, pembinaan kelompok seni, serta keterlibatan generasi muda dalam berbagai pertunjukan budaya. Menurutnya pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab para seniman, tetapi juga tanggung jawab bersama sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Kesenian genjringan merupakan salah satu warisan budaya tradisional yang masih dipertahankan oleh masyarakat sebagai sarana hiburan, dakwah, dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Melalui pertunjukan yang memadukan musik rebana, syair-syair islami, serta semangat kebersamaan. genjringan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat. Para pelaku seni berharap generasi muda dapat ikut mempelajari dan melestarikan kesenian ini agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
