
Rudat merupakan kesenian tradisional yang memadukan unsur keagamaan dan budaya lokal masyarakat Blok Kliwon, Desa Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Melalui syair shalawat, tabuhan genjring, dan gerakan pencak silat, kesenian ini mencerminkan harmonisasi nilai-nilai Islam dengan tradisi setempat yang terus lestari hingga kini. Kesenian ini menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.
Menurut Asep Saepudin (53), Rudat mulai berkembang di Blok Kliwon, Desa Cibingbin, Kecamatan Cibingbin Kabupaten kuningan sejak sekitar tahun 1942, terutama di kawasan Blok Kliwon. Ia menuturkan bahwa kesenian ini diwariskan secara turun-temurun melalui peran tokoh masyarakat dan pesantren, sehingga tetap bertahan sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Cibingbin. Keberadaan Rudat juga menjadi bukti kuat bahwa nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal dapat berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat.
“Rudat bukan hanya sebuah kesenian, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Cibingbin yang tumbuh dari perpaduan nilai-nilai Islam dan tradisi lokal,” ujar Asep Saepudin saat diwawancarai. Menurutnya, kesenian ini telah berkembang di Blok Kliwon sejak sekitar tahun 1942 dan diwariskan secara turun-temurun melalui lingkungan, mayarakat, keluarga, pengajian, serta pesantren.
Pada awal kemunculannya, Rudat berfungsi sebagai media dakwah yang memadukan pembacaan shalawat, deba, dan barzanji dengan gerakan pencak silat buhun yang telah dikenal masyarakat setempat. Perpaduan unsur keagamaan dan budaya tersebut menjadikan Rudat mudah diterima dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat Cibingbin.
Asep menjelaskan bahwa perkembangan Rudat tidak terlepas dari peran sejumlah tokoh, seperti Haji Toyib, Haji Rofi’i, Haji Mansyur, dan KH Adzhari. Melalui pembinaan para tokoh tersebut, Rudat berkembang menjadi kesenian yang tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari peringatan hari besar Islam, hajatan, khitanan, hingga acara-acara desa. Kehadirannya tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial dan memperkuat nilai-nilai keagamaan.
Dalam pertunjukannya, Rudat menampilkan perpaduan harmonis antara tabuhan genjring, lantunan syair keagamaan, dan gerakan pencak silat yang dilakukan secara teratur. Hingga kini, bentuk dasar Rudat masih dipertahankan sebagaimana diwariskan para pendahulu. Meski menghadapi tantangan berupa menurunnya minat generasi muda, masyarakat Blok Kliwon terus berupaya menjaga keberlangsungan Rudat sebagai warisan budaya dan identitas keislaman yang menjadi kebanggaan masyarakat Cibingbin.
Meski menghadapi perkembangan zaman, masyarakat Cibingbin tetap optimistis terhadap keberlangsungan Rudat. “Rudat bukan hanya hiburan, tetapi juga warisan yang mengajarkan kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya lokal,” ujar Asep Saepudin. Menurutnya, Rudat merupakan bagian dari upaya menjaga nilai-nilai Islam, tradisi, dan identitas budaya agar tetap hidup serta diwariskan kepada generasi berikutnya. Keberadaan Rudat juga menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
