LAYAKNYA GOOGLE MAPS YANG MENCARI JALAN BARU SAAT JALAN SEBELUMNYA TAK BISA DILALUI LAGI : KISAH ANITA PENGABADI MOMENT

Mentari mulai menunjukkan kehangatan memberi energi pada semua makhluk bumi menjalani

kehidupan, kontras dengan semilir angin yang menyapa setiap inci dari tubuh masyarakat

sekitar. Panjalu, sebuah desa yang ada di kabupaten Ciamis dan dikenal dengan hawa sekitar

yang dingin. Namun, nyatanya hal tersebut tak menyulutkan perjalanan dan perjuangan orang-

orang. Desa yang juga banyak dikunjungi untuk berziarah ini tentunya dikelilingi banyak insan

dengan beragam usaha guna menetap bahkan meningkatkan perekonomian. Di sebuah ruko

yang tidak jauh dari tempat ziarah lampu flash menyorot kebahagiaan beberapa remaja dengan

pakaian putih biru ditemani kacamata yang bertengger di hidung mereka. Berbagai gaya dan

perintilan lain seperti topi, bondu, bahkan alas kaki dipakai bergantian.

TIT TIT TIT

Sebuah alat berbunyi nyaring menandakan bahwa sesi pengabadian momen telah selesai, Anita

perempuan kelahiran 2024 itu berkutat dengan komputer dengan jemari yang bergerak lincah

di atas keyboard dan sesekali menggerakkan mostnya. Salah satu dari anak berseragam putih

biru itu mendekat

“ Mau yang bagus ya kak fhotonya, pake filter sama template biar tambah bagus.”

Anita menatap gadis tersebut dengan senyuman dan anggukan kecil, ia menggulir semua fhoto

dan dihadapkan pada gadis di depannya untuk memilih sendiri mana saja yang akan di cetak.

Tak lupa ia juga akan tetap mengkonfirmasi filter serta template yang telah ia pilih kepada

pelangannya sebelum akhirnya dicetak.

Ia kembali memandangi mesin yang mulai mencetak fhoto dengan pikiran yang kembali

melayang pada saat dirinya masih menggunakan seragam tersebut, lebih tepatnya seragam

sekolah yang terakhir ia pakai. Tahun sebelum menyebarnya virus corona ialah waktu dimana

ia masih berkutat di bangku SLTP. Namun, semua itu tak berlangsung lama saat pandemi mulai

diterapkan. Ia yang baru lulus dari jenjang tersebut memilih mencari penghasilan untuk

memenuhi kebutuhan.

Karena belum memiliki pengalaman dalam hal bekerja, ia mencoba menjadi seorang asisten

rumah tangga di Bandung tepatnya di daerah Panghegar. Namun, sayangnya kegigihan

  1. menekuni pekerjaan tersebut hanya bertahan pada hari ke-4 hingga ia memutuskan pulang ke rumahnya dan tanpa diberi gaji. Layaknya generasi Z pada umumnya, ia jelas tidak terlalu
    nyaman saat diarahkan mengerjakan berbagai pekerjaan dengan sebuah telunjuk dari orang
    lain. Memang sudah menjadi tanggungjawab namun di usianya dulu yang terbilang masih
    remaja berkisar 15 tahun, hal tersebut cukup mengganjal dan menurutnya tidak nyaman
    sehingga memilih menyudahi daripada menunggu hal tidak baik terjadi.
    Dari kejadian tersebut, ia kemudian mendapat tawaran bekerja di sebuah caffe yang baru buka
    bernama “Saung Nusa Sari”, caffe tersebut menyuguhkan keindahan situ Ciater yang ada di
    Panjalu. Sebagai seorang waitrees, ia menekuni pekerjaannya dengan senyuman hangat yang
    diberikan pada banyak pengunjung yang datang. Dari banyak kalangan dan banyak keperluan,
    mulai dari anak sekolah yang bekerja kelompok atau bahkan orang-orang dewasa yang
    berdiskusi dan para orangtua yang mengajak anaknya bermain. Ia bahkan tak pernah
    membedakan dan sekalipun teman dekatnya yang datang. Pada masa kejayaannya caffe
    tersebut ramai baik itu siang ataupun malam. Hal itu juga menyebabkan Anita bekerja cukup
    intens dan sangat mengurangi waktu bermain atau sekedar membaringkan diri menikmati
    kehidupan, bahkan terkadang Ia harus pulang larut malam dengan melewati gang yang
    terhubung ke pemakaman setempat (Puspaligar).
    “ Aku takut sebenarnya, bahkan cape juga tak perlu ditanyakan lagi. Tapi sudahlah semua akan
    baik-baik saja. “ ucapnya
    Selayaknya sebuah usaha yang memiliki masa naik dan turun, caffe tempat Anita bekerja juga
    mengalami hal yang sama. Sayangnya caffe yang didirikan pada tahun 2022 tersebut di tahun
    ke-2 mengalami penurunan cukup besar bahkan sampai memberhentikan operasi kerjanya. Hal
    ini jelas mempengaruhi para pekerja dan salah satunya Anita. Setelah cukup lama
    berkecimpung pada pekerjaannya Anita cukup kebingungan untuk apa yang harus dilakukan
    saat ia harus tetap memiliki pemasukan. Hingga di sela kebingungannya masih di tahun yang
    sama ia mulai bergabung dengan salah satu Wedding Organizer bernama “Aurra Wedding”. Ia
    ikut bekerja tim bahkan sempat menjadi muse untuk mempromosikan jasanya.
    “ Lumayan kerjanya dari pagi banget bahkan sering gak sarapan, dan pulangnya sering sore
    karena nunggu acara selesai. Untuk gaji biasanya disesuaikan sama paket apa yang dipesan
    mempelai, bisa disebut gak pasti tapi berkisar di 100-250 ribu/ acara. “ ungkap Anita
    Terlihat seperti ada secercah harapan namun baginya itu sebuah ketidakpastian karena
    pernikahan tidak bisa ditentukan ada setiap harinya. Bahkan saat ada, ia seringkali jatuh sakit
    setelahnya jika benar-benar melewatkan sarapan. Penyakit dispepsia yang memang banyak dialami generasi Z juga ia alami. Dan saat yang lain hanya bergelut dengan rasa malas makan
    ia justru harus bergelut dengan jadwal bekerja. Berjuang agar dirinya tetap mendapat
    penghasilan dengan badan yang tetap bisa ditopang.
    Hingga kemudian, di awal tahun 2025 ia mengambil sebuah pekerjaan yang ia anggap kerja
    sambilan di sebuah toko kerudung yang masih berada di Panjalu. Lagi dan lagi ia harus
    melayani setiap pelayan dengan senyuman ramah bahkan memberikan saran saat pelangganya
    bertanya ataupun merasa kebingungan. Pekerjaannya tersebut tentunya tidak menghalangi saat
    ada panggilan dari Wedding Organizer, saat memang ada panggilan Ia akan mendapat izin dari
    toko kerudung tempat Ia bekerja. Namun, meskipun begitu tak berarti Ia bekerja dengan
    berleha. Ia tetap bekerja dengan ketentuan serta kesepakatan yang telah ditentukan.
    “ Malam takbir idul fitri pun masih tetap harus buka toko, tapi memang gak terlalu malam jam
    9 sudah pulang. Dan tiga hari setelahnya udah masuk lagi. “ ungkap Anita tersenyum
    mengingat momen tersebut
    Di malam yang dinikmati banyak orang dengan keluarganya, Anita masih tetap harus bekerja.
    Meskipun ada sedikit keluhan namun Ia kembali mengingat bahwa semua ini jalannya dan
    harus tetap berjalan. Bukan tak memiliki waktu bersama keluarga, karena nyatanya setiap
    pulang bekerja Ia tetap mendapatkan kehangatan keluarga saat sampai di rumahnya.
    Dengan segala pertimbangan, beberapa bulan bekerja di toko tersebut. Anita memilih untuk
    berhenti hingga di penghujung tahun 2025, tepatnya bulan November Ia mendapatkan tawaran
    bekerja di sebuah photobox yang kini Ia tempati. Bermodalkan tekad yang kuat serta rasa
    semangat Ia menyetujui dan mulai bekerja.
    “ Belum pernah si, bahkan gak tau gimana jalaninnya. Tapi ya cari pengalaman aja, dan yang
    punya juga baik. Bahkan saat awal bergantung aku ada di bawah bimbingannya dengan
    kesabaran dan ketekunan mengajarnya. Jadi betah banget tuh sampe sekarang. “ ungkapnya
    menjelaskan apa yang ia rasakan.
    Ya, hingga kini Anita mengabadikan banyak moment berharga. Membuka kios dari pukul
    08:00-17:00 dan menerapkan sikap ceria, bahagia dan ramah jelas menjadi andalan selama jam
    kerjanya. Bahkan bukan hal aneh lagi saat orang lain menuntut sesuatu yang sempurna, dan
    lagi bisa saja hal ini diterima dari berbagai generasi baik setara, setelah bahkan yang jauh
    sebelumnya. “ Iya, gak sedikit orangtua yang datang dengan membawa anak dan meminta hasil terbaik
    dengan membimbing anaknya itu melakukan berbagai fose. Karena mungkin hasil yang baik
    memang harapan banyak orang.” Ujarnya sambil tersenyum simpul.
    Lagi dan lagi, layaknya sebuah usaha pada umumnya. Pekerjaan yang ditekuninya sekarangpun
    tidak senantiasa ramai oleh pengunjung. Kadang di ada hari di mana bahkan ia tidak
    mendapatkan pelanggan satupun. Meskipun begitu nyatanya hal tersebut tak menyulutkan
    semangatnya untuk tetap bertahan dengan pekerjaan yang bahkan tidak ditentukan kapan
    liburnya, pada pekerjaan yang harus ia pastikan senantiasa baik kontrol emosinya, dan pada
    pekerjaan yang memberinya penghasilan 800 ribu setiap bulannya.
    “ Pernah beberapa kali kepikiran, teman-temen masih pada asik dengan kehidupan remajanya
    dengan main, sekolah sekarang bahkan kuliah tapi aku sudah harus berkutat dengan mencari
    pengahasilan tapi gapapa. Setidaknya aku juga tetap melanjutkan kehidupan bahkan dengan
    beberapa pengalaman dan tentunya banyak perkenalan. “ ungkapnya tulus menerima semua
    keadaan.
Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!