Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika sebagian besar warga Kuningan masih tertidur lelap. Udara dingin menusuk kulit, dan lampu-lampu pasar memantulkan cahaya pucat di lorong sempit Pasar Baru Kuningan. Di waktu seperti itu, seorang anak kecil sudah berjalan cepat sambil membawa bungkus rokok eceran di tangannya. Langkah kecilnya berjalan tanpa henti, anak kecil itu bernama Otong Setiawan Djuharie.
Usianya masih sekolah dasar ketika ia mulai akrab dengan aroma tembakau dan dinginnya pasar sebelum fajar. Saat anak-anak lain terlelap di balik selimut, Otong sudah memulai harinya dengan berjualan rokok kepada pedagang yang baru datang dari desa. Ia tidak mengeluh. Baginya, ini adalah bentuk tanggung jawab pertama yang ia pilih sendiri.
“Belum banyak saingan kalau pagi,” kenangnya sambil tersenyum kecil, mengenang masa lalu yanng berat.
Rutinitas itu sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Hampir setiap hari, Otong kecil bangun sebelum subuh, berjalan menuju pasar yang masih remang, lalu berjualan hingga pagi tiba. Setelah itu, ia membersihkan diri di WC umum sebelum bergegas ke sekolah dengan seragam yang sedikit kusut.
Sepulang sekolah, ia tidak beristirahat seperti teman-teman seusianya. Rutenya kembali lagi ke pasar, melanjutkan jualan hingga pukul tujuh atau delapan malam. Rutinitas panjang itu ia jalani tanpa keluhan. Semua ia lakukan bukan karena paksaan, melainkan kesadarannya sendiri.
Ia melakukannya karena tahu keluarganya sedang dalam kesulitan besar. Ayahnya bangkrut, sementara ibunya harus membesarkan tujuh anak dengan segala keterbatasan. Di tengah kondisi serba kekurangan, Otong kecil mengambil keputusan besar, ia memilih untuk berjuang untuk kehidupan yang lebih layak.
“Saya kasihan kepada ibu,” ujarnya pelan. “Minimal jangan jadi beban.” Kalimat sederhana itu menjadi titik balik hidupnya. Sebuah tekad lahir bukan dari bacaan motivasi, melainkan dari realitas pahit yang harus dihadapinya setiap pagi.
Otong Setiawan Djuharie lahir pada 18 Juli 1972 di Cijoho Landeuh, Kuningan, Jawa Barat. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, bahkan nyaris miskin. Ayah dan ibunya tidak tamat sekolah dasar. Namun dari keluarga sederhana itulah tumbuh keyakinan, pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
Bagi Otong kecil, kemiskinan bukan hanya soal tidak punya uang. Kemiskinan juga berarti harus siap dipandang rendah. Bau rokok yang menempel di seragamnya sering menjadi bahan ejekan teman-teman di sekolah. Mereka menertawakan dan melontarkan kata-kata menyakitkan.
Otong masih ingat jelas bagaimana rasanya dihina hanya karena berasal dari keluarga miskin. Rasanya perih, seperti ditampar tanpa bisa membalas. Namun ia memilih untuk diam. “Nasib terburuk orang miskin itu direndahkan,” katanya lirih. “Dan itu sangat menyakitkan.”
Namun luka itu tidak pernah ia ubah menjadi kebencian. Otong justru menjadikan rasa sakit sebagai tenaga untuk bergerak lebih jauh. Ia ingin membuktikan bahwa anak pasar pun bisa mencapai sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.
Ketika teman-temannya bermain sepulang sekolah, Otong justru belajar memahami kehidupan secara langsung di pasar. Ia belajar menawarkan barang, membaca karakter pembeli, dan menghitung untung rugi. Tanpa disadari, pasar tradisional telah menjadi sekolah pertamanya tentang ketangguhan.
Waktu terus berjalan, dan Otong tumbuh menjadi remaja yang tetap memegang erat kebiasaan kerja keras. Saat masuk SPGN Kuningan, sebuah sekolah pendidikan guru setara SMA pada masanya, hidupnya mulai menemukan arah baru. Di sekolah itu, bahasa Inggris hanya diberikan dalam dua semester.
Namun bagi Otong, bahasa Inggris justru membuatnya penasaran. Ia merasa pelajaran di kelas saja tidak cukup. Karena itu, sepulang dari pasar, ia menyempatkan diri kursus bahasa Inggris. Biayanya ia bayar sendiri dari hasil berjualan.
“Karena uangnya hasil keringat sendiri, saya belajar sangat keras,” tuturnya. Kesungguhan itu membuahkan hasil luar biasa. Dalam tiga bulan, kemampuan bahasa Inggrisnya melampaui level tertinggi di tempat kursus. Tidak lama kemudian, pihak kursus justru memintanya menjadi pengajar di sana.
Otong masih berseragam SMA ketika pertama kali berdiri di depan kelas sebagai guru kursus. Momen itu menjadi titik balik penting. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa ilmu dapat membuka pintu kehidupan yang baru.
Perjalanan hidup Otong semakin pesat ketika ia diterima di IKIP Bandung jurusan Bahasa Inggris tahun 1991. Namun kehidupan mahasiswa tidak membuat perjuangannya mudah. Ia tetap harus bekerja sambil kuliah agar bisa bertahan hidup di kota besar.
Di tengah kesibukan itu, Otong dikenal sebagai mahasiswa yang sering tidak masuk kelas. Namun seorang dosen bernama Prof. Dr. Khaidar Alwasilah melihat sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Alih-alih menghukum, sang dosen justru memberi tantangan unik.
“Kamu boleh tidak masuk kelas, asal menulis artikel di koran,” ujar dosennya. Tantangan itu diterima Otong. Ia mulai menulis dan mengirim artikel ke media massa. Ternyata tulisannya dimuat. Apa yang awalnya tugas pengganti kehadiran perlahan berubah menjadi jalan hidup baru.
Semester berikutnya, tantangan naik level. “Kalau bisa menulis buku, kamu tidak perlu ikut kuliah saya sama sekali.” Sekali lagi, Otong menerima tantangan itu. Saat masih mahasiswa semester tiga, ia menerbitkan buku pertamanya, Cara Mudah Belajar Bahasa Inggris. Buku itu mendapat sambutan hangat di pasaran.
Sejak saat itu, hidup Otong bergerak semakin cepat. Ia menyelesaikan S1 dengan IPK di atas tiga, prestasi langka di jurusannya. S2 di UPI ia tuntaskan dalam 18 bulan dengan tesis terbaik. Ia melanjutkan S3 di Universitas Negeri Jakarta dan mengikuti program Academic Recharging di Australian National University, Canberra.
Pada tahun 2025, ia menyelesaikan pendidikan PhD di Paris, Prancis. Perjalanan itu terasa hampir mustahil bagi anak yang dulu menjual rokok sebelum matahari terbit di pasar Kuningan. Namun di balik pencapaian gemilang itu, Otong mengaku pernah hampir menyerah. Saat S2 dengan biaya sendiri, ia kelelahan secara finansial dan mental. Penghasilannya menurun drastis, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.
“Hampir berhenti saat itu,” kenangnya jujur. “Saya berpikir, untuk apa lanjut kuliah kalau sudah punya pekerjaan?” Namun ia memilih bertahan. Baginya, pendidikan bukan sekadar gelar, melainkan cara untuk memperluas kemungkinan hidup.
Keputusan itu mengubah segalanya. Hingga hari ini, Otong Setiawan Djuharie telah menghasilkan lebih dari 190 buku. Buku-bukunya digunakan di sekolah, perguruan tinggi, hingga lembaga pemerintahan. Namanya dikenal sebagai akademisi dan penulis produktif. Karya-karyanya tersimpan di perpustakaan lembaga negara, dari BRIN hingga Kementerian Luar Negeri. Dari lorong pasar yang becek, namanya kini sampai ke ruang akademik internasional.
Prestasi itu membawanya bertemu pemimpin dunia. Pada 2010, ia mengikuti audiensi bersama Presiden AS Barack Obama. Setahun kemudian, ia mendapat undangan ke Istana Negara dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun keberhasilan itu tak membuatnya berhenti bekerja. Sejak 1999, Otong mengajar di Jurusan Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia dikenal sebagai dosen yang menekankan produktivitas karya.
Baginya, tugas kuliah tak boleh berhenti sebagai tumpukan kertas di meja dosen. Setiap tulisan harus hidup dan dibaca publik. Karena itu, ia mendorong mahasiswanya mengirim artikel ke media massa. Dalam satu semester, sekitar 90 mahasiswa bimbingannya menerbitkan ratusan artikel. “Ujian bukan sekadar menjawab soal, tapi menghasilkan karya yang bermanfaat,” katanya tegas.
Cara mengajar Otong sering dianggap berbeda. Ia tidak hanya berbicara teori, tetapi memaksa mahasiswanya berani menghadapi ruang publik lewat tulisan mereka sendiri. Di tengah pesatnya teknologi AI, Otong pun mempunyai kegelisahan. Ia melihat banyak mahasiswa terlalu bergantung pada AI untuk menyelesaikan tugas. Padahal, teknologi seharusnya membantu manusia berpikir kritis.
“Manusia punya potensi jauh lebih baik daripada mesin,” ujarnya lantang. Ia menantang mahasiswanya menghasilkan tulisan yang lebih hidup dan manusiawi dibanding hasil AI. Bagi Otong, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kepintaran. Yang terpenting adalah ketekunan dan konsistensi. “Orang pintar itu banyak, tapi yang tekun dan tidak mudah menyerah itulah yang bertahan.” Prinsip itu sudah ia pegang sejak kecil, sejak ia berjalan sendirian menuju pasar dalam gelap, pukul dua pagi.
Hari ini, nama Otong Setiawan Djuharie dikenal sebagai dosen, akademisi, penulis produktif, dan penggerak literasi. Buku-bukunya tersusun rapi di toko buku dan perpustakaan ternama. Namun jauh sebelum semua kemegahan itu, ia hanyalah anak kecil yang berusaha membantu ibunya bertahan hidup dengan menjual rokok eceran di pasar tradisional yang dingin. Perjalanan panjang itu membuatnya percaya pada satu hal: kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil.
“From zero to hero,” katanya singkat namun penuh makna. Kalimat itu mungkin terdengar seperti slogan biasa, tetapi bagi Otong, itu adalah ringkasan jujur dari seluruh perjalanan hidupnya. Dari lorong pasar yang dingin sebelum fajar hingga ruang akademik internasional, Otong Setiawan Djuharie telah membuktikan bahwa pendidikan benar-benar mampu mengubah nasib seseorang. Dan terkadang, perjalanan terbesar justru dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan diam-diam, ketika dunia masih terlelap.
