Maqom Eyang Janusi Pasir Odah Warisan Sejarah dan Tradisi Ziarah

Setiap tempat memiliki cerita, setiap cerita memiliki makna. Di balik kesederhanaannya maqom Eyang Janusi pasir odah masih berdiri kokoh, menyimpan kisah yang terus hidup dalam ingatan masyarakat dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah penyebaran islam di kabupaten Bandung, kecamatan Kutawatingin yang hingga kini tetep dihormati dan dijaga oleh masyarakat.

Lembaran sejarah tersebut kemudian mengantarkan masyarakat pada asal-usul nama Eyang Janusi Pasir yang masih dikenang hingga kini. Di balik namanya yang terus dikenang, tersimpan sebuah kisah mistis dan spiritual yang menjadi identitas maqom tersebut. Tak berhenti pada sejarah dan penamaannya, nilai nilai yang diwariskan juga tercermin melalui tradisi ziarah yang masih berlangsung hingga saat ini.

Jauh sebelum dikenal sebagai sebuah maqom, tempat ini merupakan ruang dakwah yang dipenuhi lantunan tembang Sunda. Di bawah rindangnya pepohonan dan suasana yang tenang, Ama Prabu menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat melalui acara pancakrama. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui nasihat, tetapi juga dibalut dalam alunan seni tradisional. Irama kecapi yang mengalun berpadu dengan suara merdu Ibu Odah sebagai sinden, menjadikan setiap bait tembang bukan sekadar hiburan, melainkan media untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan. 

Pendekatan tersebut membuat dakwah terasa lebih mudah diterima oleh masyarakat. Seni menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai agama dengan budaya lokal, sehingga ajaran Islam dapat disampaikan tanpa menghilangkan identitas masyarakat Sunda. Hingga kini, kisah tersebut masih terus dikenang sebagai bagian dari sejarah yang melatarbelakangi keberadaan tempat ini.

Di balik sejarahnya, nama Eyang Janusi Pasir juga menyimpan makna yang diwariskan secara turun-temurun. Menurut juru kunci, kata “Janusi” berasal dari kata “jin”, merujuk pada sosok jin yang dipercaya mendampingi Ama Prabu dalam menjalankan dakwah. Sementara itu, kata “Pasir” diambil dari bahasa Sunda yang berarti “bukit atau gunung kecil” yang mengambarkan wilayah tempat dakwah tersebut berlangsun. Adapun nama “Odah” berasal dari Ibu Odah, sinden yang setia menemani Ama Prabu dalam setiap lantunan tembang Sunda.

Hingga saat ini, tradisi ziarah di Maqom Eyang Janusi Pasir Odah masih terus dilakukan oleh masyarakat, terutama pada waktu-waktu tertentu seperti, malam maulid, menjelang ramadhan, dan hari-hari tertentu. Para peziarah datang untuk mendoakan Ama Prabu dan mengenang perjuangannya dalam menyebarkan ajaran Islam. Tradisi ini bukan untuk meminta kepada makam, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh penyebar Islam serta mengingat jasa-jasa beliau dalam membimbing masyarakat.

Perjalanan dakwah, seni, dan budaya yang berpadu di tempat ini menjadikan Maqom Eyang Janusi Pasir bukan sekadar situs bersejarah, melainkan simbol bahwa nilai-nilai kebaikan dapat tumbuh melalui pendekatan yang bijaksana. Seperti alunan kecapi yang terus bergema, kisah tentang Ama Prabu, Ibu Odah, dan asal-usul maqom ini terus hidup dalam ingatan masyarakat sebagai warisan yang layak dijaga dan diteruskan kepada generasi mendatang.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!