MASJID AGUNG BANTEN : KETIKA BATU BERTEMU SELFIE

Berdiri kokoh sejak 1552 M di jantung Kota Tua Banten Lama, Masjid Agung Banten adalah bukti nyata Islam Nusantara. Menaranya setinggi 24 meter mirip mercusuar, bedugnya dipahat dari 1 batang pohon jati, atap tumpang limanya mirip joglo Jawa. Tapi kalau kamu datang jam 10 pagi akhir pekan ini, suara yang paling kenceng bukan azan. Suara shutter kamera + “Bang,tolong fotoin” yang menang. Ironi ini yang harus kita bedah.

 

Masjid ini adalah “buku sejarah hidup” ala Helius Sjamsuddin. Tiang serambinya batu andesit, kaligrafinya Arab, denahnya Jawa. Nggak ada menara kubah Timur Tengah di sini. Sultan Maulana Hasanuddin dan Syarif Hidayatullah ngajarin kita: jadi muslim nggak harus ngilangin budaya lokal. Islam masuk lewat akhlak pedagang, bukan lewat perang. Itu pelajaran akulturasi paling mahal yang sekarang banyak anak muda lupa. Kita sibuk debat “bid’ah atau nggak”, padahal leluhur Banten udah praktek toleransi 5 abad lalu lewat arsitektur.

 

Pelataran masjid yang harusnya jadi tempat iktikaf, sekarang jadi spot “golden hour”. Jamaah yang mau shalat duha harus nyelip di antara tripod. Pengelola BPCB dan Pemkot Banten udah bikin aturan: lepas alas kaki, nutup aurat, area steril saat shalat. Tapi kesadaran pengunjung masih setengah. Kita bangga Banten punya cagar budaya, tapi kita lupa: masjid ini rumah Allah dulu, museum nomor dua. Kalau tiap batu andesit itu bisa ngomong, mungkin dia udah capek bilang “Aku dibikin buat sujud, bukan buat backdrop”.

 

Sartono Kartodirdjo ngajarin “sejarah dari bawah”. Nah, siapa yang 5 abad jagain masjid ini Bukan kita yang datang pas weekend. Tapi warga Kampung Pamarican, keturunan abdi dalem Kesultanan Banten. Mereka yang nyapu, yang ngumandangin azan, yang cerita ke turis. Sayangnya, suara mereka sering kalah sama suara investor wisata. Renovasi boleh, tapi jangan sampai “ngecat ulang” sejarah. Komersialisasi tiket boleh, tapi jangan sampai ngusir nenek-nenek yang mau shalat Magrib.

 

Masjid Agung Banten itu kayak nenek 500 tahun. Dindingnya retak kena gempa, catnya pudar kena hujan, tapi ilmu tauhidnya nggak pernah padam. Dia nggak minta viral di TikTok. Dia cuma minta satu: dijaga adabnya. Jadi silakan selfie. Tapi sebelum pencet tombol, lepas sendal,tunduk sebentar, dan dengerin. Batu-batu tua itu lagi ngaji. Jangan sampai “like” kita lebih banyak dari “sujud” kita di tempat itu.Karena kalau “Api Tauhid” di Rusia bisa nyala di tengah salju, masa “Api Adab” di Banten mati cuma karena kita lupa diri?

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!