Masjid Cipaganti Hasil Akulturasi Jawa-Eropa di Kota Kembang 

Sebuah masjid tanpa kubah bulat, berdiri di perumahan elite Belanda, dan dirancang oleh arsitek Belanda. Terdengar seperti Teka-Teki?. Nyatanya, hal inilah yang membuat Masjid Cipaganti menjadi salah satu mahakarya paling unik di Indonesia.

Bagaimana mungkin sebuah rumah ibadah umat islam lahir dari tangan arsitek Eropa di tengah kawasan elite kolonial Belanda?. Untuk memecahkan teka-teki tersebut. Kita harus menengok kembali sejarah panjang dibalik pembangunan masjid ikonik ini, yang bermula dari kebutuhan mendesak masyarakat Muslim di wilayah utara kota kembang pada masa lampau.  

Masjid yang pada awal mulanya bernama Masjid Kaum Cipaganti ini menorehkan sejarah sebagai tempat ibadah umat Muslim pertama yang dibangun di wilayah Bandung Utara. Kehadiran rumah ibadah ini bukan tanpa alasan, melainkan lahir dari sebuah kebutuhan yang mendesak pada masa kolonial. Sebelum masjid ini berdiri, masyarakat Muslim yang tinggal atau beraktivitas di kawasan utara Kota Kembang belum memiliki tempat peribadatan yang representatif dan memadai untuk menjalankan kewajiban agama mereka.

​Titik terang pembangunan tempat ibadah ini dimulai pada tanggal 7 Februari 1933, yang bertepatan dengan tanggal 11 Syawal 1351 Hijriyah. Momentum bersejarah tersebut ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama yang dilakukan langsung oleh Bupati Bandung kala itu, Raden Tumenggung Hassan Soemadipradja. Proses pembangunan berjalan dengan lancar selama kurang lebih satu tahun, hingga akhirnya masjid ikonik ini diresmikan secara umum pada tanggal 27 Januari 1934.

Keunikan utama yang membuat Masjid Cipaganti begitu melegenda terletak pada arsitekturnya yang memukau, hasil rancangan seorang arsitek ternama asal Belanda, Charles Prosper Wolff Schoemaker. Melalui tangan dinginnya, Schoemaker berhasil melahirkan sebuah karya yang secara harmonis memadukan gaya arsitektur Eropa dan Jawa. Desain bangunan ini menjadi simbol akulturasi yang indah, di mana unsur modernitas khas Barat melebur sempurna dengan nilai-nilai tradisional lokal.

Pesona masa lalu masjid ini tetap terjaga utuh hingga hari ini berkat komitmen pelestarian yang sangat kuat. Karena nilai sejarahnya yang begitu tinggi, bangunan ini telah ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya resmi yang struktur aslinya dilarang untuk diubah. Salah satu bagian paling otentik yang masih berdiri kokoh dan bisa dikunjungi hingga sekarang adalah area menara masjid, yang menjadi saksi bisu tempat di mana kumandang azan pertama kalinya disuarakan sejak masjid ini selesai dibangun.

​Sejak awal berdiri hingga saat ini, Masjid Besar Cipaganti terus hidup dan berfungsi sebagai pusat syiar serta studi Islam di kawasan Bandung Utara. Daya tariknya yang luar biasa membuat jemaah masjid ini terus meluas melampaui warga sekitar, bahkan kerap didatangi oleh jemaah dari luar kota. Aktivitas keagamaan di sini selalu semarak dan makmur, terutama pada momen-momen khusus seperti pelaksanaan ibadah salat Tarawih di bulan suci Ramadhan yang selalu dipadati oleh masyarakat dari berbagai daerah.         

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!