Masjid Jami’ Al-Istiqomah, Dua Abad Menjadi Sejarah di balik Hiruk-Pikuk Jalan Raya Sawangan

Bedug tua itu masih berdiri tegak di sisi masjid. Kulitnya sudah menua, ukurannya tak sebesar bedug masjid-masjid modern. Namun disanalah keistimewaannya, bedug itu konon dibawa langsung dari Cirebon oleh Sunan Gunung Djati, dan cerita itu sudah diwariskan turun-temurun sejak lama. Di tengah deru kendaraan yang tak pernah sunyi di perempatan jalan raya Sawangan, masjid Jami’ Al-Istiqomah itu berdiri tanpa banyak bicara tapi menyimpan hampir dua abad sejarah Islam di kota Depok.

Deru itulah yang pertama kali menyambut siapa pun yang singgah ke Masjid Jami’ Al-Istiqomah, sebuah bangunan berwarna hijau dengan arsitektur sederhana yang berdiri tepat di tepi persimpangan jalan. Namun dibalik kesederhanaan tampilannya, tersimpan jejak sejarah yang panjang. Masjid yang berdiri sejak tahun 1826 ini didirikan di atas tanah yang diwakafkan oleh Haji Djasin, seorang ulama asal Kudus, Jawa Tengah. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, ia adalah penanda bahwa Islam telah berakar di Depok jauh sebelum kota ini resmi terbentuk.

Pembangunan masjid ini berawal dari sebuah pondasi batu yang dikerjakan oleh seorang syeh atau wali Allah, sebelum kemudian dilanjutkan oleh Haji Djasim yang merupakan orang asli Kudus, Jawa Tengah. Dari pondasi sederhana itulah, sedikit demi sedikit, sebuah masjid tumbuh. Dikisahkan, proses pembangunannya selesai hanya dalam satu malam berkat karomah yang dimiliki Haji Djasim. Namun DKM Masjid Jami’ Al-Istiqomah, Sukur, menuturkan bahwa kisah ini baru ia dengar dari peziarah yang berkunjung ke Masjid tersebut. Cerita itu pun tersebar dan hidup di tengah masyarakat Mampang sebagai keyakinan yang dijaga bersama-sama. 

Masjid ini dibangun oleh H. Djasim bin Sainun Syeh Maqnum Al-Fatah yang diyakini merupakan keturunan dari salah satu Sunan Gunung Jati. Keterkaitan dengan salah satu Wali Songo itulah yang membuat masjid ini memiliki nilai lebih dari sekadar bangunan tua. 

Sejak pertama kali didirikan, Masjid Jami Al-Istiqomah telah mengalami tiga sampai empat kali renovasi. Setiap perubahan dilakukan bukan untuk menghapus jejaknya, melainkan untuk menjaga agar masjid tetap layak bagi jemaah yang terus berdatangan dari generasi ke generasi. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga kerap dijadikan lokasi ziarah oleh peziarah dari dalam maupun luar Kota Depok. Makam yang berada di sisi masjid turut memperkuat nilai historis tempat ini.

Hampir dua abad berlalu sejak Haji Djasim pertama kali menancapkan pondasi di tanah Mampang. Kota di sekelilingnya telah berubah berkali-kali, jalan diperlebar, gedung-gedung baru bermunculan, dan arus kendaraan semakin ramai. Namun Masjid Jami Al-Istiqomah tetap di tempatnya, selalu ramai dikunjungi orang, baik oleh warga setempat maupun pengendara yang singgah. Seperti namanya, masjid ini memilih untuk istiqomah, teguh, konsisten, dan tak beranjak dari jalan yang sudah lama ia tempuh.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!