
Layar laptop dengan cahaya kebiruannya menjadi saksi Atika tekun dalam menyelesaikan satu demi satu modul pembelajaran di platform MySkill, belajar Microsoft Office, memupuk pengetahuan dasar, dan mengumpulkan sertifikat digital. Seperti layaknya pribahasa, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Sertifikat digital yang mula-mula hanya berjumlah segelintir perlahan bertambah, setapak demi setapak, layaknya bukit yang tersusun dari butiran-butiran kecil yang tak pernah berhenti dikumpulkan. Namun, di balik tumpukan sertifikat itu, tersimpan pertanyaan: apakah bertumbuh cukup dilakukan dari balik layar?
Atika adalah mahasiswi Program Studi Manajemen Dakwah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang terus melangkah untuk belajar dan mengembangkan kemampuan diri. Hari-harinya diwarnai dengan perkuliahan, tugas, dan berbagai pelatihan daring yang ia ikuti untuk menambah wawasan. Namun, di balik layar rutinitas yang tampak produktif, tersimpan sebuah kegelisahan yang perlahan bersemi dalam diri Atika. Pengetahuan memang terus bertambah, tetapi ada setapak jalan yang belum sempat ia jelajahi. Setapak jalan yang dibayangnya dapat mempertemukannya dengan relasi, keberanian, dan lebih mengenal diri sendiri. Pengalaman yang tidak bisa dia jelajahi di layar yang setiap hari menemaninya.
“Aku merasa kalau hanya mengikuti pelatihan online saja belum cukup. Aku harus mencoba sesuatu yang bisa membangun relasi, mengembangkan diri secara nyata, dan memberikan dampak.” tuturnya.
Keinginan yang mendorong Atika untuk memberikan dampak nyata, ternyata membawanya pada sebuah persimpangan baru. Saat aktif mencari informasi mengenai kegiatan volunteer dan kompetisi tingkat nasional, matanya tertumbuk pada sebuah unggahan dari Yayasan Duta Inspirasi Indonesia tentang Festival Pelajar Unggulan (FPU). Program tersebut menawarkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar seminar atau pelatihan biasa, melainkan ruang untuk menumbuhkan benih wawasan kebangsaan dan berbagai isu di Indonesia.
Layaknya cinta pada pandangan pertama, Atika semakin tertarik untuk mengikuti program tersebut, karena kegiatan itu dilaksanakan di tempat-tempat yang selama ini hanya bisa ia saksikan di layar berita, seperti Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pnedidikan dan Kebudayaan, hingga Gedung DPR-RI. Tanpa banyak pertimbangan, Atika segera mendaftarkan diri. Namun sebelum langkah pertamanya benar-benar dimulai, keraguan sempat mengadang. Menyaksikan peserta lain yang tampak lebih aktif dan berpengalaman membuatnya merasa tertinggal.
“Aku sempat merasa terlambat dan sedikit minder melihat peserta lain yang sudah lebih dulu aktif,” kenangnya. Meski demikian, perasaan itu tidak ia biarkan berlama-lama menguasai pikirannya. Seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa setiap orang memiliki garis permulaian yang berbeda.
“Aku sadar bahwa memulai terlambat jauh lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.” Kalimat sederhana itu kemudian menjelma pegangan yang terus ia bawa setiap kali keraguan kembali datang menyapa.
Langkah pertama tersebut menjadi awal dari petualangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Petualangan dari satu program ke program lainnya, Atika mulai memasuki ruang-ruang baru yang mempertemukannya dengan banyak orang, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Hingga kini, ia telah mengikuti lima program di bawah naungan Yayasan Duta Inspirasi Indonesia, yaitu Festival Pelajar Unggulan (FPU), FPUC, FPUC Level Up, Learn SDGs, dan Womenspirasi. Masing-masing menghadirkan pelajaran yang berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: mendorong peserta untuk terus berkembang dan memberi dampak.
Melalui Festival Pelajar Unggulan, Atika mulai memahami berbagai isu yang tengah dihadapi Indonesia serta peran generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Program tersebut membuka matanya bahwa kontribusi tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, perubahan berawal dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan keberanian untuk mengambil bagian di dalamnya. Petualangan itu berlanjut ketika ia mengikuti FPUC dan FPUC Level Up. Di sana, ia belajar mengenali passion, mempersiapkan beasiswa, menyusun curriculum vitae (CV), hingga mengembangkan soft skill dan hard skill yang dibutuhkan untuk masa depan. Dari program-program tersebut, ia juga mulai merajut jejaring dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Cakrawala yang ia lihat semakin luas ketika mengikuti Learn SDGs. Dalam program tersebut, ia terlibat dalam forum diskusi bersama peserta dari berbagai penjuru Indonesia untuk membahas tujuh belas tujuan pembangunan berkelanjutan. Ia bahkan berkesempatan berinteraksi dengan tamu mancanegara menggunakan dua bahasa. Sementara itu, melalui Womenspirasi, Atika belajar tentang perempuan yang berdaya dan terus berkarya. Ia memahami bahwa menjadi perempuan yang menginspirasi bukan berarti harus sempurna, melainkan berani terus bertumbuh dan memberi manfaat bagi sekitar.
“Aku super excited banget karena rasanya seperti benar-benar keluar dari zona nyaman. Aku merasa sedang membangun investasi jangka panjang untuk diriku melalui pendidikan dan pengalaman,” ujarnya.
Meski demikian, petualangan pengembangan diri tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang harus ia hadapi justru datang dari kesehariannya sebagai mahasiswa. Membagi waktu antara perkuliahan dan berbagai kegiatan menjadi ujian yang paling nyata. Ada kalanya tugas kuliah datang bersamaan dengan agenda kegiatan yang harus diikuti. Pada situasi seperti itu, Atika dituntut untuk mampu menentukan prioritas dan mengelola waktunya dengan baik.
“Aku tetap harus memprioritaskan kuliah terlebih dahulu. Jadi aku belajar mengatur waktu agar bisa menjalani keduanya dengan lebih tenang dan fokus,” katanya.
Dari proses tersebut, ia belajar bahwa bertumbuh bukan hanya soal menambah pengalaman atau memperluas relasi. Bertumbuh juga berarti belajar bertanggung jawab atas pilihan yang telah diambil. Di antara berbagai pengalaman yang ia peroleh, terdapat satu pesan yang paling membekas dalam ingatannya. Pesan itu datang dari Sherly Annavita dalam salah satu forum FPUC.
“Gagal bukan alasan untuk berhenti, justru itu bukti bahwa kita mencoba. Tidak mencoba akan jauh lebih merugikan daripada gagal.”
Bagi Atika, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Justru keberanian untuk mencoba adalah langkah awal dari setiap proses pembelajaran. Kini, perubahan itu mulai ia rasakan dalam dirinya. Ia menjadi lebih percaya diri, lebih berani menyampaikan pendapat, serta lebih siap mengambil tanggung jawab ketika diberi kepercayaan. Lebih dari itu, ia merasa memiliki arah yang lebih jelas dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika dahulu ia hanya berfokus pada menambah pengetahuan melalui berbagai pelatihan daring, kini ia memahami bahwa pengembangan diri juga membutuhkan pengalaman nyata, keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dan kemauan untuk terus belajar dari lingkungan sekitar.
“Perubahan yang baik akan terlihat bukan karena kita ingin terlihat, tetapi karena kita benar-benar bertumbuh,” tuturnya.
Jika dapat berbicara kepada dirinya beberapa tahun lalu, kepada sosok yang setiap malam duduk di depan layar laptop sambil mengumpulkan sertifikat demi sertifikat, Atika tahu persis apa yang ingin ia katakan. “Ikut terus, coba terus, bangun dirimu, dan jangan takut memulai. Kita belajar setiap hari, jadi jangan sia-siakan kesempatan untuk mencari ilmu di dunia yang luas ini.”
Pada akhirnya, kisah Atika bukan sekadar tentang berbagai program yang ia ikuti. Kisah ini adalah tentang keberanian untuk melangkah ketika keraguan datang menghampiri, tentang proses bertumbuh di luar batas yang selama ini terasa nyaman, dan tentang menemukan arah melalui pengalaman yang dijalani dengan sungguh-sungguh.
Sebab terkadang, arah tidak ditemukan ketika seseorang menunggu semuanya menjadi sempurna. Arah ditemukan ketika seseorang berani mengambil langkah pertama.
