
Di tengah ramainya aktivitas masyarakat cileunyi pada pagi hari,seorang pria lanjut usia tampak berjalan perlahan menyusuri pinggir jalan sambil membawa dagangannya.Langkahnya memang tidak sekuat saat muda,tetapi semangatnya tetap terlihat menyala.Panggil saja namanya pak bambang (nama samaran) yang kini berusia 73 tahun 4 bulan itu masih berjualan setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya.
Bagi sebagian orang,usia diatas 70 tahun merupakan masa untuk beristirahat dan menikmati waktu bersama keluarga.Namun,kenyataan hidup tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan.Disaat banyak lansia memilih menghabiskan waktu dirumah,bapak bambang ini yang usia nya sudah tidak muda lagi justru masih harus bekerja.
Setiap hari,ia memulai aktivitasnya sejak pukul 6 pagi.Dengan berjalan kaki dari rumah menuju lokasi berjualan,ia membawa berbagai barang dagangan seperti air mineral,rokok,permen,serta aneka makanan ringan yang biasa dijual oleh pedangan asongan.Ia berjualan hingga pukul 2 siang dan berkeliling di sekktar wilayah cileunyi saja.
Menurut Penuturannya,jarak antara rumah dan tempat ia berjualan tidak terlalu jauh segingga ia memilih berjalan kaki.Meski usia nya tidak muda lagi,hal tersebut tidak menjadi alasan baginya untuk berhenti mencari nafkah.
“Saya jualan dari pagi sampai siang. Ya, hasilnya cukup buat makan sehari-hari,” ujarnya saat diwawancarai.
Kalimat sederhana tersebut menggambarkan realitas yang dihadapi sebagian masyarakat lanjut usia. Penghasilan yang diperoleh memang tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Baginya, yang terpenting adalah tetap bisa makan dan menjalani hidup dengan layak.
Sebelum menjadi pedagang asongan, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan yang berada di kawasan Cihampelas. Bertahun-tahun ia menghabiskan masa produktifnya sebagai pekerja. Namun, setelah tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut, pak bambang memilih untuk tetap produktif dengan berdagang.
Saat ini, pak bambang tinggal bersama istri dan dua orang cucunya. Salah satu cucunya masih berusia kecil, sementara yang lainnya sedang menempuh pendidikan di tingkat SMP. Anak-anaknya kini bekerja di luar daerah sehingga kehidupan sehari-harinya lebih banyak dihabiskan bersama sang istri dan cucu-cucu yang ia sayangi.
Keluarga menjadi alasan terbesar yang membuatnya tetap bertahan menjalani rutinitas tersebut. Meskipun tidak pernah mengatakannya secara langsung, terlihat jelas bahwa setiap langkah yang ia tempuh merupakan bentuk tanggung jawab dan kasih sayang terhadap keluarga.
Fenomena lansia yang masih bekerja sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Berdasarkan pengamatan di berbagai daerah, masih banyak orang lanjut usia yang terpaksa bekerja karena alasan ekonomi. Mereka dapat ditemukan sebagai pedagang kecil, buruh harian, tukang parkir, hingga pekerja informal lainnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan pada masa tua masih menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat. Tidak semua orang memiliki jaminan finansial yang cukup untuk menikmati masa pensiun dengan tenang. Akibatnya, bekerja menjadi satu-satunya pilihan yang dapat dilakukan.
Meski demikian, bapak penjual angsongan ini tidak menunjukkan raut wajah yang penuh keluhan. Selama wawancara berlangsung, ia tampak ramah dan sesekali tersenyum ketika menceritakan kehidupannya. Kesederhanaan yang dimilikinya justru memunculkan kesan kuat tentang keteguhan dan rasa syukur.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kisah seperti ini sering kali luput dari perhatian masyarakat. Banyak orang sibuk mengejar berbagai pencapaian tanpa menyadari bahwa di sekitar mereka masih ada sosok-sosok yang berjuang setiap hari hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan.
Menjelang pukul dua siang, aktivitas berjualannya berakhir. Setelah itu, ia kembali berjalan pulang menuju rumahnya. Rutinitas tersebut telah dijalani selama bertahun-tahun dan kemungkinan akan terus dilakukan selama kondisi fisiknya masih memungkinkan.
Kisah bapak penjual angsongan di Cileunyi ini memberikan pelajaran berharga tentang arti kerja keras, tanggung jawab, dan keteguhan hati. Usia yang semakin bertambah tidak membuatnya menyerah pada keadaan. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa semangat untuk berusaha dapat tetap hidup selama seseorang memiliki tujuan dan alasan untuk terus melangkah.
Di balik dagangan sederhana yang dibawanya setiap hari, tersimpan cerita tentang perjuangan seorang kepala keluarga yang tidak pernah berhenti berusaha. Langkahnya mungkin pelan, tetapi makna yang terkandung di dalamnya begitu besar. Ia mengajarkan bahwa kerja keras tidak mengenal usia, dan kasih sayang kepada keluarga sering kali menjadi kekuatan terbesar dalam menjalani kehidupan.
Semangat tersebut menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda. Di era modern saat ini, banyak orang yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Padahal, kehidupan selalu menuntut adanya usaha dan perjuangan. Melalui sosok sederhana ini, kita dapat melihat bahwa kerja keras tidak mengenal batas usia.
Selain itu, kisah beliau juga mengajarkan pentingnya rasa syukur. Meskipun penghasilannya tidak besar, ia tidak menghabiskan waktunya untuk mengeluh. Sebaliknya, ia memilih menerima keadaan dengan lapang dada dan tetap berusaha semaksimal mungkin. Sikap tersebut menunjukkan kekuatan mental yang luar biasa.
