
Pernahkah kalian terpikirkan bahwa budaya saat ini mudah sekali ditelan waktu? Uniknya ada sebuah kegiatan keagamaan di Desa Ciranjeng yang justru menunjukkan ketahanan yang jarang ditemukan di tempat lain. Kegiatan tersebut adalah Kuliah Subuh yang rutin digelar di masjid desa setempat, terutama selama bulan Ramadan. Berdasarkan pantauan langsung, setiap pelaksanaan Kuliah Subuh, masjid desa dipenuhi jamaah dari berbagai usia. Mulai dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga lanjut usia hadir secara konsisten. Fakta ini menarik karena banyak kegiatan serupa di daerah lain mulai ditinggalkan masyarakat.
Kuliah Subuh di Desa Ciranjeng dibedakan dengan yang lain adalah keterlibatan aktif generasi muda. Para remaja tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga bertugas sebagai pembawa acara (MC) dan pengatur jalannya kegiatan. Sementara itu, ibu-ibu dan anak-anak dari kelompok tahfidz melantunkan tilawah. Materi yang disampaikan oleh tokoh agama setempat dinilai dekat dengan keseharian warga. Bahasa yang digunakan sederhana, topiknya relevan dengan persoalan hidup sehari-hari. Hal ini menjadi alasan utama mengapa jamaah tetap setia hadir. Kepala Desa Ciranjeng secara tegas menyatakan bahwa Kuliah Subuh merupakan bagian dari budaya pendidikan religi yang harus dipertahankan oleh seluruh warga, tidak boleh tergerus zaman, dan harus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai benteng moral desa.
Saya melihat setelah kegiatan usai, warga tidak langsung pulang. Mereka saling menyapa, berbincang, dan tertawa bersama. Suasana ini menunjukkan bahwa Kuliah Subuh bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga ruang sosial yang memperkuat kebersamaan. Kehangatan komunikasi tatap muka seperti ini menjadi pelekat sosial yang tidak bisa digantikan oleh grup percakapan digital manapun. Masyarakat menilai bahwa model seperti ini bisa ditiru oleh desa-desa lain yang ingin mempertahankan kegiatan keagamaan serupa. Kuncinya ada pada tiga hal: keterlibatan lintas generasi, materi yang relevan, dan adaptasi menuju masa depan tanpa meninggalkan nilai asli.
Meski saat ini masih bertahan, bukan berarti Kuliah Subuh di Ciranjeng bebas dari ancaman. Para pengurus masjid dan tokoh masyarakat menyadari bahwa tradisi ini harus memiliki rancangan jangka panjang agar tidak tergerus zaman. Berdasarkan informasi yang dihimpun, setidaknya ada tiga strategi keberlanjutan yang bisa mulai disiapkan untuk masa depan.
Pertama, digitalisasi tanpa menghilangkan esensi. Masjid harus memiliki rencana menyediakan siaran langsung (live streaming) sederhana untuk setiap Kuliah Subuh. Langkah ini ditujukan bagi warga desa yang merantau ke luar kota dan tidak bisa hadir secara fisik. Dengan begitu, ikatan batin terhadap tradisi tetap terjaga meskipun secara geografis terpisah. Strategi ini penting karena saat ini banyak warga Ciranjeng yang bekerja di Jakarta, Bandung, bahkan luar negeri. Mereka tetap ingin merasakan suasana kampung halaman melalui layar.
Kedua, publikasi dan dokumentasi. Agar tidak bergantung pada satu orang tokoh agama saja, materi kuliah akan didokumentasikan dalam bentuk ringkasan mingguan. Ringkasan ini akan dibagikan melalui grup WhatsApp warga atau dicetak sederhana untuk arsip masjid. Hal ini penting untuk menjaga keberlanjutan materi saat terjadi pergantian penceramah atau generasi. Dengan dokumentasi yang rapi, ilmu tidak hilang begitu saja.
Ketiga, penjadwalan tematik. Untuk menjaga minat jamaah dalam jangka panjang, diusulkan adanya jadwal tematik. Misalnya, satu pekan dalam sebulan khusus membahas isu remaja dan teknologi, atau satu sesi tanya jawab tentang ekonomi keluarga. Pendekatan ini membuat materi tetap relevan dengan perkembangan isu yang dihadapi warga. Ketika jamaah merasakan bahwa kuliah subuh menjawab persoalan mereka saat ini bukan hanya cerita-cerita lama mereka akan terus datang. Bahkan remaja yang kecanduan gawai pun mulai tertarik jika topiknya menyentuh keseharian mereka.
Dengan tiga strategi tersebut, Kuliah Subuh di Ciranjeng tidak hanya bertahan, tetapi juga berpeluang tumbuh menjadi model bagi desa-desa lain. Kegiatan ini membuktikan bahwa tradisi keagamaan tidak perlu memilih antara bertahan secara kaku atau berubah secara membabi buta. Jalan tengahnya adalah adaptasi cerdas: mempertahankan ruh, memperbarui kemasan.
Setelah menyimak seluruh dinamika di atas, saya merenungkan satu hal: mengapa tradisi ini bisa bertahan sementara banyak yang lain lenyap? Jawabannya sederhana. Kuliah Subuh di Ciranjeng tidak pernah memaksakan diri menjadi modern. Ia justru bertahan karena membumi. Tradisi ini tidak dibangun di atas gedung megah atau peralatan mahal, tetapi di atas kesadaran kolektif bahwa manusia butuh berkumpul.
Keterlibatan anak muda menjadikan saya optimis bahwa budaya ini bisa bertahan karena mereka tidak ditempatkan sebagai penonton, tetapi sebagai aktor. Ini investasi jangka panjang yang jarang disadari. Ketika generasi muda merasa memiliki, mereka akan menjadi penjaga tradisi yang paling setia. Jika mereka hanya disuruh mendengarkan tanpa diberi peran, tradisi akan mati ketika para sesepuh tiada. Sebaliknya, dengan memberi mereka tanggung jawab sejak dini, tradisi ini akan terus hidup puluhan tahun ke depan.
Selanjutnya saya berharap desa-desa lain tidak serta-merta meninggalkan tradisi serupa hanya karena terlihat “kuno”. Justru dengan adaptasi kecil seperti digitalisasi dan dokumentasi, tradisi bisa berjalan sejajar dengan zaman. Kuliah Subuh di Ciranjeng adalah bukti bahwa masa depan tradisi tidak selalu suram. Dengan strategi yang terencana dan melibatkan semua kalangan, kegiatan ini berpeluang besar untuk bertahan puluhan tahun ke depan. Bukan kemasan modern yang membuat tradisi ini hidup, melainkan kemampuannya untuk tetap membumi dan dekat dengan masyarakatnya. Tengah maraknya konten keagamaan digital, Kuliah Subuh di Ciranjeng menjadi contoh nyata bahwa kebersamaan fisik tetap memiliki tempat yang tidak tergantikan.
Kalau kamu ingin melihat gambaran suasana Kuliah Subuh di Desa Ciranjeng, temukan itu dalam tiktok akun @mudamudiciranjeng ya!
