SALAH KAPRAH WIJAYA KUSUMA: KEBERUNTUNGAN ITU BUKAN DARI BUNGANYA

Setiap kali Wijaya Kusuma mekar, yang paling ramai bukan suara keluarga yang berkumpul, melainkan notifikasi kamera ponsel yang berbunyi satu per satu. Orang-orang memotret, mengunggah, lalu menunggu berapa banyak yang menyukai fotonya. Kepercayaan lama mengatakan bahwa siapa yang menyaksikan mekarnya Wijaya Kusuma akan mendapat keberuntungan. Namun saya justru melihat ironi yang menyakitkan di sini: kita begitu sibuk mengejar mitos keberuntungan dari bunga itu, sampai kita melewatkan keberuntungan yang sesungguhnya yaitu momen langka ketika seluruh anggota keluarga punya alasan untuk duduk bersama di satu tempat, pada satu waktu, tanpa agenda lain. Kepercayaan bahwa Wijaya Kusuma adalah pembawa rezeki dan pertanda baik telah menyempitkan cara kita memaknai bunga ini, dan itulah masalah yang jarang kita sadari.

Faktanya bunga Wijaya Kusuma (Epiphyllum oxypetalum) mekar mulai sekitar pukul sembilan malam d’an mencapai puncaknya yakni di tengah malam sehingga layu saat menjelang fajar. Kelangkaan ini yang dianggap masyarakat Jawa sebagai sebuah tradisi di mana keluarga berkumpul menunggu mekarnya bersama, duduk dalam keheningan yang hangat, berbicara tentang hal hal yang biasanya tidak sempat dibicarakan. Tradisi itu memanglah indah, namun ada sesuatu yang bergeser, bahkan lama kelamaan membuat makna berkumpulnya menjadu jauh terkubur di bawah lapisan mitos. Hal ini menjadikan kebersamaan bukan lagi sebagai tujuan utama, melainkan mencari keberkahan yang diharapkan dari bunga itu. Ketika generasi yang lebih kritis mulai mempertanyakan logika di balik berkah tersebut dengan argumen-argumen yang tajam, di saat yang bersamaan tradisi berkumpul itu perlahan dilupakan, seolah-olah keduanya tak pernah menjadi sesuatu yang selalu beriringan bersama.

Masalah ini dapat jauh lebih serius dari yang kita kira. Laporan Digital 2023 oleh We Are Social dan Meltwater mencatat bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 7 jam 42 menit sehari untuk mengakses internet, dengan 3 jamn 18 menit di antaranya digunakan khusus untuk media sosial. Sementara itu, capaian Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga) tahun 2022 yang dikeluarkan BKKBN hanya berada di angka 56.07% dan masih di bawah target nasional yakni sebesar 57%, dengan dimensi interaksi keluarga menjadi salah satu indikator yang paling memerlukan penguatan. Dua kata ini berbicara tentang kenyataan yang sama: kita ini tinggal di satu atap, namun kita hidup di ruang yang berbeda-beda, masing-masing tenggelam dalam layar dan notifikasinya sendiri. Kondisi seperti ini, menjadikan momen organik yang secara alami mendoring suatu keluarga untuk hadir bersama menjadi sesuatu yang sangat langka. Wijaya Kusuma, dengan segala keunikan biologisnya, seharusnya menjadi salah satu momen itu. Sayangnya, karena kita terlanjur membungkusnya dengan narasi keberuntungan, kita justru kehilangan nilai terbesarnya.

Ada yang berargumen bahwa kepercayaan terhadap wijaya kusuma adalah bagian dari kearifan lokal yang harus dihormati dan dilestarikan apa adanya. Saya tidak menolak penghormatan terhadap tradisi tersebut, tetapi menghormati tradisi bukan berarti membiarkan stagnan dalam tafsir yang keliru. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, tradisi ritual bukan hanya objek yang dilestarikan secara pasif, melainkan sesuatu yang perlu dikembangkan dan dimaknai ulang agar tetap relevan bagi kehidupan masyarakat. Ketika kepercayaan pada keberuntungan menjadi satu satunya cara masyarakat memaknai Wijaya Kusuma, tradisi berkumpul itu, perlahan kehilangan rohnya. Orang menunggu bunga mekar bukan karena ingin bersama, tetapi ingin mendapat berkahnya. Begitu logika keberuntungan itu tidak lagi dipercaya oleh generasi muda, tradisinya pun ikut ditinggalkan. Padahal kajian Fiese et al. (2002) yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychology menunjukan bahwa ritual keluarga yang dilakukan secara konsisten sekecil apapun bentuknya berkorelasi positif dengan kepuasan pernikahan, identitas diri remaja, kesehatan anak dan kuatnya hubungan antaranggota. Artinya, yang membuat orang merasa beruntung setelah menunggu Wijaya Kusuma bersama bunganya, melainkan pengalaman hadir bersama orang-orang yang mereka cintai. Bahkan lebih dari itu, ilmu pengetahuan sudah membuktikan apa yang selama ini kita salah alamatkan kepada mitos.

Hal yang membuatnya lebih menarik, kepercayaan ini ternyata tidak mati di tangan generasi muda, ia semakin berevolusi. Hari ini, ribuan video mekarnya Wijaya Kusuma beredar di media sosial yang diunggah oleh anak-anak muda yang duduk menemani orang tua mereka hingga tengah malam. Bukan karena percaya pada mitos keberuntungan, tetapi mereka menemukan sesuatu yang lebih nyata, yaitu koneksi. Ini membuktikan bahwa manusia, di generasi manapun, selalu mencari mencari yang moment yang memberi makna. Jika kita menggeser narasi, bahwa nilai Wijaya Kusuma bukan pada mistisnya, tetapi pada momen sosial yang bisa bunga itu cuptakan. Oleh karena itu, tradisi ini akan memiliki alasan yang jauh lebih akurat dan relevan untuk bertahan di tengah gempuran budaya digital.

Wijaya Kusuma memang mekar hanya dalam semalam, ia tidak peduli apakah kita percaya kepada mitosnya atau tidak. Namun ia menawarkan sesuatu yang sangat berharga melalui hal yang sederhana: satu malam, satu kesempatan, untuk meletakan ponsel, duduk bersama, dan hadir sepenuhnya untuk satu sama lain. Keberuntungan itu bukan datang dari bunganya, melainkan datang dari keputusan kita untuk benar-benar hadir. Sudah saatnya kita berhenti salah kaprah dan mulai memaknai Wijaya Kusuma dengan cara yang lebih jujur: bukan sebagai pembawa rezeki ghaib, namun sebagai pengingat bahwa kebersamaan keluarga yang semakin hari semakin sulit kita jaga adalah keberuntungan paling nyata yang bisa kita miliki.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. (2023). Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga) 2022. BKKBN.

Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman. (2022). Mengenal tradisi ritual Jawa. https://kebudayaan.slemankab.go.id/post/mengenal-tradisi-ritual-jawa

Fiese, B. H., Tomcho, T. J., Douglas, M., Josephs, K., Poltrock, S., & Baker, T. (2002). A review of 50 years of research on naturally occurring family routines and rituals: Cause for celebration? Journal of Family Psychology, 16(4), 381–390. https://doi.org/10.1037/0893-3200.16.4.381

Lestari, I., Riana, W. A., & Taftarzani, B. M. (2015). Pengaruh gadget pada interaksi sosial dalam keluarga. Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 2(2), 147–300. https://doi.org/10.24198/jppm.v2i2.13280

Radar Mojokerto. (2025, Oktober 29). Sang ratu malam yang mempesona, bunga Wijaya Kusuma menjadi simbol kesucian dan keberuntungan dalam tradisi Jawa. Jawa Pos Radar Mojokerto. https://radarmojokerto.jawapos.com

Republik Indonesia. (2017). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Sekretariat Negara.

We Are Social & Meltwater. (2023). Digital 2023: Indonesia. We Are Social. https://wearesocial.com/id/blog/2023/01/digital-2023/

Yulianti. (2023). Studi kasus dampak pengaruh gadget terhadap komunikasi dalam keluarga. Jurnal Bimbingan dan Konseling Ar-Rahman, 9(1). https://ojs.uniska-bjm.ac.id/index.php/BKA/article/view/11207

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!