
Nuansa tenang langsung terasa saat memasuki kompleks makam Pangeran Jayakarta IV di Jatinegara Kaum. Keberadaan Masjid Assalafiyah yang tetap mempertahankan ciri khas bangunan lama yang menjadikan daya tarik tersendiri. Suasana kondisi kota Jakarta yang padat terdapat kawasan sebagai tempat perjuangan bersejarah dan sebagai destinasi religi masyarakat.
Kawasan Jatinegara Kaum memang bukan nama yang asing bagi warga Jakarta Timur. Wilayah ini menjadi saksi perlawanan seorang tokoh terhadap dominasi kolonial Belanda. Meski sempat terdesak dan terpaksa meninggalkan kekuasaannya, Pangeran Jayakarta tidak menyerah begitu saja sebelum namanya dikenang masyarakat Betawi.
Setiap harinya pengunjung datang silih berganti ke kompleks Makam Pangeran Jayakarta. Mereka datang dari berbagai daerah, ada yang datang untuk berziarah, sebagian lainnya datang ingin mengenal sejarah kota Jakarta lebih mendalam. Kompleks ini terdiri dari area makam Pangeran Jayakarta beserta keluarganya. Serta Masjid Assalafiyah yang berdiri tepat di dalamnya.
Menurut Ustadz Syahrul merupakan keturunan Pangeran Achmad Jakerta, menjelaskan sejarah keberadaan kompleks makam. Bermula pada pertengahan Mei 1619, saat terjadi pertempuran sengit antara pasukan Pangeran Jayakarta dan VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen. Kala itu Pangeran Jayakarta terdesak mundur akibat kepungan Pasukan VOC dari arah Mangga Dua, Senen, dan Tanjung Priok.
Dalam keadaan terdesak, beliau membuang jubahnya ke dalam sebuah sumur. Menjadikannya siasat cerdik yang berhasil mengelabui pasukan Belanda hingga mengira sang pangeran tewas. Memanfaatkan kelengahan musuh, Pangeran Jayakarta terus berlari ke selatan menyusuri pinggiran Kali Sunter. Di ujung perjalanannya, beliau menemukan hutan jati yang lebat dan menjadikannya tempat berlindung bagi laskar serta keluarganya. Kawasan itulah yang kemudian diberi nama Jatinegara, dari kata jati yang berarti sejati dan negara yang berarti pemerintahan.
Di sinilah Pangeran Jayakarta membangun peradaban baru, dengan membangun masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Assalafiyah. Masjid ini bukan sekedar tempat ibadah, melainkan pusat dakwah sekaligus sumber semangat perlawanan terhadap penjajah. Masjid yang sekarang sudah banyak mengalami renovasi akan tetapi masih ada bangunan yang dipertahankan seperti empat tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati dan mimbar, yang menjadikan masjid inilah sebagai pusat spiritual dan budaya tertua di wilayah Jatinegara hingga sekarang.
Pada tahun 1640 Pangeran Jayakarta wafat. Atas pesannya agar makamnya dirahasiakan selama VOC masih berkuasa. Amanat yang dijaga setia oleh para ahli waris hingga akhirnya pada tahun 1956 makam beliau resmi diperkenalkan kepada publik. Hingga saat ini, kompleks makam Pangeran Jayakarta IV menjadi tempat berziarah yang selalu dikunjungi peziarah.
