
Kabut pagi yang menyelimuti kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung, seakan menyimpan kisah panjang tentang sosok Syekh Abdul Teger atau Eyang Naya Dirga Sentak Dulang. Ulama yang diyakini sebagai salah satu penyebar Islam di Tatar Sunda ini masih dikenang melalui cerita masyarakat, petilasan, dan makam yang hingga kini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Sosoknya dikenal sebagai putra Raden Adipati Wangsanata Kusumah atau Adipati Ukur serta ayahanda Raden Haji Abdul Manaf atau Eyang Mahmud. Meski jejak perjuangannya terus dihormati, keberadaan makam Syekh Abdul Teger masih menjadi perdebatan karena terdapat dua lokasi yang sama-sama diyakini sebagai maqom beliau.
Ramainya peziarah yang datang untuk mengenang jasa Syekh Abdul Teger menunjukkan bahwa pengaruh dakwahnya masih terasa hingga saat ini. Siapa sebenarnya Syekh Abdul Teger, bagaimana perjuangannya menyebarkan Islam, dan mengapa keberadaan makamnya masih menjadi perdebatan? Pertanyaan tersebut terus menjadi pembahasan masyarakat, terutama di wilayah Cimenyan dan sekitarnya. Berdasarkan riwayat yang diwariskan secara turun-temurun oleh para juru kunci dan tokoh masyarakat, Syekh Abdul Teger merupakan tokoh penting dalam perkembangan Islam di kawasan tersebut.
Menurut kuncen, Asep, petilasan Syekh Abdul Teger memiliki garis keturunan bangsawan Sunda yang kuat. “Nungutkeun riwayat mah Syekh Abdul Teger téh putra Raden Adipati Wangsanata Kusumah, nyaeta Dipatiluhur atawa Adipati Ukur. Ngagaduhan putra Raden Haji Abdul Manaf atawa Eyang Mahmud,” ujar kuncen petilasan.
Keterangan tersebut menjelaskan bahwa Syekh Abdul Teger atau Eyang Naya Dirga Sentak Dulang merupakan putra Adipati Ukur yang kemudian melanjutkan perjuangan melalui jalur dakwah Islam. Ajaran yang dibawanya diterima masyarakat Cimenyan dan wilayah sekitarnya sehingga namanya tetap dikenang hingga sekarang.
Penyebar Islam di Wilayah Cimenyan
Dalam tradisi lisan masyarakat, Syekh Abdul Teger dikenal sebagai ulama yang berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Cimenyan. Dakwah yang dilakukan secara damai membuat ajaran Islam dapat diterima oleh masyarakat Sunda pada masa itu. Selain berdakwah, beliau juga disebut mengembangkan kegiatan pendidikan keagamaan melalui tempat mengaji yang menjadi sarana pembelajaran Islam bagi masyarakat sekitar.
Pengaruh dakwah tersebut kemudian diteruskan oleh putranya, Raden Haji Abdul Manaf atau Eyang Mahmud, yang juga dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan Islam di Jawa Barat.
Dua Maqom yang Masih Diperdebatkan
Di balik penghormatan masyarakat terhadap Syekh Abdul Teger, terdapat satu persoalan yang hingga kini belum menemukan titik terang, yakni mengenai lokasi makam beliau.
Firga menjelaskan bahwa terdapat dua pendapat yang berkembang di tengah masyarakat mengenai letak maqom Syekh Abdul Teger. “Syekh Abdul Manaf atau Eyang Mahmud itu memiliki orang tua yang dikenal dengan Eyang Naya Dirga, atau sebagian pendapat menyebut Jaya Dirga. Letak makam Eyang Naya Dirga ini terdapat dua pendapat. Satu pendapat mengatakan berada di Sentak Dulang, Cikadut, sementara sebagian pendapat lainnya menyebut berada di Cibanteng, Jatihandap. Sampai saat ini belum ada kejelasan secara pasti mengenai hal tersebut. Namun yang pasti, kedua makam itu menjadi tempat yang sering diperdebatkan antara Sentak Dulang dan Cibanteng,” ujarnya.
Perbedaan pendapat tersebut membuat masyarakat memiliki pandangan yang beragam mengenai lokasi sebenarnya makam Syekh Abdul Teger. Meski demikian, baik makam yang berada di kawasan Sentak Dulang maupun yang berada di Cibanteng sama-sama menjadi tujuan ziarah masyarakat.
Tetap Dikenang Melalui Tradisi dan Ziarah
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai lokasi makamnya, nama Syekh Abdul Teger tetap hidup dalam ingatan masyarakat sebagai ulama yang berjasa dalam penyebaran Islam di Tatar Sunda. Setiap tahunnya, peziarah dari berbagai kota datang untuk berdoa sekaligus mengenang perjuangan tokoh yang diyakini telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan Islam di wilayah Bandung dan sekitarnya.
Hingga kini, kisah Syekh Abdul Teger masih terus diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita masyarakat, para kuncen, dan tokoh-tokoh setempat. Di tengah keterbatasan sumber tertulis, warisan sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan dakwah Islam di Tatar Sunda tidak dapat dilepaskan dari sosok Eyang Naya Dirga Sentak Dulang yang jejaknya masih dikenang hingga sekarang.
