Menghapus Fakultas Tarbiyah: Mematikan Akar atau Memangkas Dahan yang Layu?

Bayangkan sebuah dunia tanpa guru yang terdidik secara metodologis. Mungkin informasi tetap bisa mengalir lewat algoritma kecerdasan buatan, namun apakah karakter bisa dibentuk oleh kecerdasan buatan? Akhir-akhir ini, muncul selentingan provokatif di kantin-kantin akademik hingga ruang digital, Apakah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) masih relevan? Atau jangan-jangan, ia sudah menjadi “fosil” birokrasi yang layak dihapuskan karena dianggap tidak lagi mampu menjawab kebutuhan zaman yang serba instan?

​Tudingan ini biasanya berpangkal pada argumen bahwa siapa pun bisa mengajar asalkan menguasai materi. Namun, pandangan ini adalah penyederhanaan yang berbahaya. Menghapuskan Fakultas Tarbiyah bukan sekadar membubarkan sebuah institusi, melainkan bentuk pengabaian terhadap fondasi peradaban bangsa.

​Bukan Sekadar Tukang Transfer Ilmu

Argumen pertama yang sering luput dari para pengkritik adalah perbedaan mendasar antara “mengajar” dan “mendidik”. Seorang ahli nuklir bisa menjelaskan rumus fusi, tapi belum tentu ia mampu menghadapi para siswa yang sedang mengalami krisis identitas atau kesulitan belajar karena faktor personal. Di Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan, mahasiswa tidak hanya belajar isi buku teks, tetapi mendalami psikologi perkembangan, manajemen kelas, hingga sosiologi pendidikan. Menghapus fakultas ini sama saja kita sepakat untuk menyerahkan masa depan generasi muda kepada para “tukang transfer ilmu” tanpa bekal pemahaman kemanusiaan yang mendalam.

​Adaptasi, Bukan Eliminasi

Kedua, isu tidak relevanan sebenarnya adalah sinyal untuk pembaruan, bukan penghapusan. Kurikulum di Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan memang sering dianggap kaku dan terlalu teoretis. Namun, solusinya adalah transformasi digital dan integrasi keterampilan abad ke-21. Jika Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan dianggap tertinggal, maka kurikulumnya yang harus dibedah agar lebih adaptif dengan teknologi pendidikan, bukan malah membakar lumbungnya. Kita butuh guru yang melek akan teknologi, namun tetap memiliki empati tinggi dan keseimbangan ini hanya bisa dipelajari secara sistematis dalam pendidikan keguruan.

​Benteng Moral di Tengah Disrupsi

Ketiga, khusus di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN), Fakultas Tarbiyah memegang peran krusial sebagai penjaga moderasi beragama. Guru-guru lulusan Tarbiyah dipersiapkan untuk menjadi penengah di tengah arus polarisasi ideologi. Jika fungsi ini hilang, kita kehilangan pabrik pencetak agen perdamaian yang memiliki landasan pedagogis Islam yang inklusif. Tanpa pengawalan dari pendidik yang terstandar secara akademik, ruang-ruang kelas kita rentan disusupi oleh pemikiran ekstrem yang tidak tersaring.

​Guru: Profesi, Bukan Pelarian

Terakhir, menghapuskan fakultas keguruan akan semakin membatasi marwah profesi guru. Selama ini, tantangan terbesar pendidikan kita adalah menganggap bahwa guru adalah profesi “alternatif” bagi mereka yang tidak diterima di pekerjaan lain. Keberadaan Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan memberikan legitimasi bahwa menjadi guru memerlukan keahlian khusus (profesionalisme). Tanpa itu, profesi guru akan semakin terdegradasi menjadi sekadar pekerjaan sampingan bagi siapa saja yang punya waktu luang.

Sebagai penutup, isu penghapusan Fakultas Tarbiyah seharusnya menjadi cambuk refleksi bagi para ilmuwan dan pembuat kebijakan. Relevansi tidak ditentukan oleh nama besar, melainkan oleh kemanfaatan. FTK tidak boleh keras kepala dengan pola lama, namun dunia pun tidak boleh gegabah mematikan institusi yang selama ini menjadi rahim bagi lahirnya para pencerah bangsa. Sebelum kita berteriak “hapuskan”, tanyalah pada diri sendiri: siapkah kita melihat pendidikan hanya menjadi sekadar transaksi data tanpa sentuhan jiwa?

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!