
Ahmad Syarief Hidayatullah
Dalam padatnya pemukiman dan lalu lalang kendaraan dijalan jendral suedirman, kranji, bekasi barat, kota bekasi. Berdiri masjid tua yang kokoh bukan hanya dinding dan kubah tua yang berdiri di masjid An-Nur kranji, tetapi juga kenangan, dan nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dulunya masjid ini bernama masjid iqra’ sebuah surau kecil yang berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial warga sekitar.
Bagi masyarakat Kranji, Masjid Jami An-Nur bukan hanya bangunan tua yang berdiri kokoh. Di balik dinding dan tiang-tiangnya tersimpan kisah para pendahulu yang mewakafkan tanah, membangun tempat ibadah, serta menjaga eksistensinya hingga kini. Sejarah panjang inilah yang membuat masjid tersebut tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat sekitar.
Masjid Jami An-Nur diperkirakan telah dibangun sejak tahun 1916. Menurut Ketua DKM Masjid Jami An-Nur, Kamal Fasya, informasi mengenai tahun pendirian masjid diperoleh dari para sesepuh yang selama ini menjaga sejarah masjid tersebut. “Informasi yang saya ketahui dari sesepuh, Masjid Jami An-Nur ini dibangun tahun 1916, usianya saat ini sudah satu abad,” ujarnya. Keberadaan masjid ini menjadi bukti bahwa perkembangan Islam di wilayah Kranji telah berlangsung sejak masa kolonial Hindia Belanda.
Sejarah berdirinya masjid juga tidak terlepas dari peran seorang tokoh dermawan bernama Haji Jadang yang berasal dari Klender, Jakarta. Melalui wakaf tanah yang diberikannya, masyarakat setempat memiliki tempat untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah. “Dulu Haji jadang yang mewakafkan tanahnya. Dari wakaf itu lah kemudian dibangun masjid dan menjadi pusaf ibadah masyarakat” ujar bapak kamal. Kisah wakaf tersebut masih terus dikenang sebagai fondasi awal berdirinya masjid yang kini menjadi kebanggaan warga Kranji.
Seiring berjalannya waktu, bangunan masjid mengalami berbagai perubahan. Renovasi telah dilakukan sebanyak empat kali untuk menyesuaikan kebutuhan jamaah yang semakin meningkat. Meski demikian, pengurus masjid tetap mempertahankan beberapa bagian asli bangunan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan identitas masjid.
Salah satu bagian yang masih dipertahankan hingga sekarang adalah tujuh tiang utama yang berasal dari bangunan awal. Kamal Fasya menjelaskan, “Tujuh tiang yang masih dipertahankan itu aslinya bangunan masjid awalnya.” Keberadaan tiang-tiang tersebut menjadi simbol kesinambungan antara masa lalu dan masa kini, sekaligus daya tarik tersendiri bagi para jamaah maupun pengunjung yang datang.
Dari segi arsitektur, Masjid Jami An-Nur menampilkan perpaduan antara gaya tradisional dan sentuhan modern. Struktur bangunan lama yang ditopang tiang-tiang besar berpadu dengan fasilitas yang lebih memadai untuk menunjang aktivitas ibadah. Kesan sederhana tetap terasa melalui warna-warna bangunan yang tidak mencolok, mencerminkan karakter masjid kampung yang hangat dan bersahaja. Ini lah keunikan dari masjid an-nur
Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, masjid ini juga berperan sebagai ruang sosial masyarakat. Letaknya yang strategis, hanya sekitar 200 meter dari Stasiun Kranji, membuatnya mudah dijangkau oleh warga maupun musafir. Berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial rutin dilaksanakan untuk mempererat hubungan antarwarga.
Kini, dengan kapasitas yang mampu menampung sekitar dua ribu jamaah, Masjid Jami An-Nur terus menjalankan fungsinya sebagai pusat ibadah sekaligus penjaga memori kolektif masyarakat Kranji. Di tengah perkembangan kota yang semakin pesat, masjid ini tetap berdiri kokoh sebagai pengingat bahwa sejarah, keimanan, dan kebersamaan adalah warisan yang harus terus dirawat dari generasi ke generasi.
