MUSUH ATAU TEMAN?

TikTok merupakan sebuah platform media sosial berbasis video pendek yang memungkinkan pengguna membuat, mengedit, dan membagikan konten secara cepat dan kreatif. Aplikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang produksi makna yang membentuk cara individu berkomunikasi, mengekspresikan diri, dan memahami realitas sosial. TikTok dapat dipandang sebagai alat produktif sekaligus distraktif. TikTok memberi peluang bagi kreativitas, edukasi singkat, dan bahkan ekonomi digital. Aplikasi ini dapat menjadi katalisator motivasi belajar, inkubator kreativitas, dan laboratorium literasi digital yang relevan dengan tuntutan abad ke-21.

Di sela-sela tumpukan tugas dan tekanan deadline, banyak mahasiswa memilih “jeda sejenak” dengan membuka TikTok. Awalnya hanya ingin melepas penat, lima menit bergulir tanpa sadar berubah menjadi satu jam. Fenomena ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan mahasiswa. Lantas, apakah scrolling TikTok benar-benar teman setia pelepas penat, atau justru musuh diam-diam yang menghambat pengerjaan tugas? Tak bisa dipungkiri, konten-konten humor, pov kehidupan mahasiswa, atau ASMR yang menenangkan memang memberi efek relaksasi instan. Secara teoritis, intensitas penggunaan TikTok terbukti menjadi pendorong signifikan dalam mengelola stres (coping stress), yang berarti memang ada peran TikTok dalam regulasi emosi di kalangan mahasiswa.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Dina Amalia Anggraini, Widya Aris Radiani, dan Musfichin (2026) pada 402 mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin bahkan menemukan bahwa intensitas TikTok secara signifikan mampu menjadi pendorong dalam mengelola stres (coping stress), dengan nilai R² sebesar 0,268 yang mengkonfirmasi keampuhannya sebagai mekanisme koping berbasis emosi. Penulis berpendapat bahwa scrolling TikTok lebih dominan berfungsi sebagai penghambat produktivitas akademik daripada sekadar pelepas penat yang sehat, karena karakteristik algoritma TikTok yang dirancang untuk membuat pengguna tetap terus menggulir (endless scrolling). Fitur ini secara psikologis mengeksploitasi rasa penasaran dan FOMO (Fear of Missing Out), sehingga sulit bagi mahasiswa untuk berhenti setelah “sekali lihat”. Ditambah lagi, kebiasaan ini sering disalah artikan sebagai bentuk istirahat, padahal secara kognitif ia malah menguras energi mental yang seharusnya dipulihkan. Meskipun menawarkan relaksasi sesaat, kebiasaan ini terbukti memicu penundaan tugas, menguras fokus, dan pada akhirnya merugikan prestasi mahasiswa itu sendiri. 

Alih-alih benar-benar melepas penat, scrolling TikTok justru menjadi bumerang yang menunda-nunda pekerjaan. Sebuah penelitian oleh Siti Maesaroh (2025) dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten terhadap mahasiswa menunjukkan bahwa penggunaan TikTok berpengaruh signifikan terhadap prokrastinasi akademik. Artinya, mahasiswa yang intensitas scrolling-nya tinggi cenderung lebih suka menunda mengerjakan tugas. Contoh sederhana ketika mahasiswa yang sedang mengerjakan makalah. Ia merasa pusing setelah membaca dua paragraf, lalu membuka TikTok “hanya lima menit”. Lima menit itu berubah menjadi setengah jam, lalu satu jam.

TikTok menyajikan video pendek 15-60 detik yang sarat dengan ledakan informasi musik, efek visual, dan transisi cepat. Otak yang terbiasa dengan pola ini menjadi “malas” untuk mempertahankan fokus pada aktivitas yang panjang dan membosankan seperti membaca jurnal atau menyelesaikan soal hitungan. Penelitian oleh Hajri Wahyuni dan Sri Dwi Fajarini (2025) dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu menemukan bahwa ketergantungan tinggi pada TikTok berdampak pada terganggunya fokus akademik mahasiswa akibat perilaku scrolling yang tidak terkendali. TikTok memang bisa membuat mahasiswa tertawa atau melupakan sejenak tekanan tugas. Namun, efek ini hanya sementara dan tidak menyelesaikan akar masalah. Setelah scroll berjam-jam, tumpukan tugas masih menanti, bahkan lebih berat karena waktu yang tersisa semakin sempit. Apa yang terjadi? Stresnya justru bertambah. Scrolling TikTok memang memiliki sisi positif sebagai hiburan sesaat. Namun, bagi mahasiswa yang sedang terbebani tugas, kebiasaan ini lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Ia menjadi jebakan yang membuat waktu belajar terbuang, konsentrasi hancur, dan stres akademik semakin parah.

Bukan berarti TikTok harus dihapus sama sekali. Yang perlu diubah adalah cara kita menggunakannya. Jadikan TikTok sebagai hadiah setelah tugas selesai, bukan pelarian saat tugas menumpuk. Terapkan aturan sederhana: 25 menit fokus belajar (Pomodoro), baru 5 menit scroll sebagai istirahat. Batasi durasi dengan fitur pengingat ponsel. Dan yang terpenting, sadari bahwa melepas penat sejati bukanlah dengan terus menggulir layar, melainkan dengan menyelesaikan tanggung jawab, lalu menikmati hiburan secara penuh tanpa rasa bersisa.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!