Sebelum Sampai

Ada momen-momen dalam hidup yang tidak pernah benar-benar selesai meski sudah lama berlalu. Bukan karena traumatis, bukan karena menyakitkan, tapi karena di dalamnya tersimpan sesuatu yang sulit dijelaskan, semacam bekas yang tidak meninggalkan luka, tapi juga tidak pernah benar-benar hilang. Bagi sebagian orang, momen itu datang dalam bentuk yang tidak terduga: di dalam ambulans yang melaju kencang, di antara suara sirine yang meraung membelah malam, di sisi seseorang yang hidupnya sedang bergantung pada seberapa cepat mereka bisa tiba di tujuan.

Ridwan adalah salah satu dari mereka. Sudah beberapa tahun ia menjadi relawan ambulans, dan dalam rentang waktu itu ia sudah berhadapan dengan hampir semua jenis situasi yang bisa dibayangkan. Mengantar pasien yang harus segera dirujuk ke rumah sakit, membantu korban kecelakaan lalu lintas, menemani keluarga yang panik menghadapi kondisi anggota keluarganya. Tidak jarang ia harus bertugas hingga dini hari, lalu kembali menjalani aktivitas seperti biasa keesokan harinya, seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi, seolah apa yang ia saksikan bisa diletakkan begitu saja di pintu rumah sebelum masuk dan tidur.

Bagi sebagian orang, pekerjaan adalah rutinitas. Ada pola yang bisa dihapal, ada prosedur yang bisa dijalankan dengan mata setengah terpejam. Tapi menjadi relawan ambulans tidak pernah benar-benar seperti itu. Setiap panggilan adalah cerita baru. Setiap alamat yang diterima adalah tanda tanya yang baru akan terjawab ketika pintu ambulans terbuka dan kaki menyentuh tanah di lokasi tujuan. Dan di antara semua hal yang sudah ia pelajari selama bertugas, ada satu hal yang ia akui masih sulit untuk dibiasakan.

“Kita nggak pernah tahu bakal ketemu situasi seperti apa di lapangan,” katanya.

Malam itu, telepon genggamnya berdering sekitar pukul sebelas. Di seberang sana terdengar suara yang tergesa-gesa, meminta bantuan ambulans. Informasi yang diterima tidak banyak, hanya sebuah alamat dan permintaan agar segera datang. Tidak ada penjelasan rinci tentang kondisi pasien, tidak ada gambaran yang cukup untuk membantu Ridwan mempersiapkan diri tentang yang mungkin menunggunya. Yang jelas, ada seseorang yang membutuhkan pertolongan. Dan itu sudah cukup.

“Biasanya kalau dapat telepon seperti itu, kita nggak banyak tanya. Yang penting langsung berangkat dulu,” kata Ridwan.

Tak lama setelah panggilan diterima, ambulans mulai melaju menuju alamat yang disebutkan. Lampu sirine menyala, memantulkan warna merah dan biru di jalanan yang mulai lengang. Sesekali kendaraan lain menepi memberikan jalan, sebuah gestur kecil yang tanpa kata-kata mengakui bahwa ada sesuatu mendesak sedang dalam perjalanan. Malam itu tidak terlalu ramai, tetapi lokasi tujuan cukup jauh. Jauh dari pusat kota, jauh dari keramaian, dan jauh dari jangkauan yang bisa ditempuh dalam waktu singkat.

Ketika ambulans tiba, suasana di lokasi sudah cukup panik. Keluarga berkerumun di depan pintu, wajah mereka pucat dan tangan mereka gemetar. Pasien seorang laki-laki paruh baya terbaring dengan kondisi yang tidak stabil. Ridwan dan rekannya bergerak cepat. Pasien dipindahkan ke brankar, dimasukkan ke dalam ambulans, dan dalam hitungan menit ambulans sudah kembali melaju membelah malam, kali ini dengan tujuan yang berbeda: rumah sakit.

“Kalau lagi jalan, yang ada di pikiran cuma semoga masih keburu,” ujarnya.

Di dalam ambulans, Ridwan duduk di samping pasien sementara rekannya mengemudi secepat yang bisa dilakukan dengan aman. Kondisi pasien mengkhawatirkan. Napasnya pendek dan tidak teratur, wajahnya pucat, dan respons yang ia berikan semakin melemah dari menit ke menit. Ridwan terus memantau, terus berusaha, tangannya bergerak terlatih melakukan apa yang bisa dilakukan di dalam ruang sempit ambulans yang terus melaju.

Jalanan malam itu tidak sepenuhnya bersahabat. Ada lampu merah yang tidak bisa diabaikan begitu saja, persimpangan yang harus dilewati dengan hati-hati, dan jarak yang terasa semakin panjang sementara kondisi pasien terasa semakin rapuh. Setiap menit yang berlalu membawa perubahan yang tidak bisa diabaikan. Ridwan tahu, dalam situasi seperti ini, waktu bukan sekadar angka di jam tangan, ia adalah satu-satunya hal yang benar-benar tidak bisa dikendalikan.

Lalu, di suatu titik dalam perjalanan itu, di antara dua lampu jalan yang berkedip-kedip di kegelapan, di antara suara sirine yang terus meraung tanpa henti, sesuatu berubah. Napas pasien yang tadinya masih bisa didengar menjadi semakin tidak terdengar. Ridwan melakukan semua yang ia bisa. Semuanya, dalam ruang sempit itu, dengan peralatan yang ada, dengan pengetahuan yang ia miliki, dengan harapan yang masih ia genggam erat-erat.

Tapi ada hal-hal yang tidak bisa ditahan oleh sepasang tangan, seberapapun terlatihnya.

Pasien itu meninggal dunia sebelum ambulans sempat tiba di rumah sakit.

Ridwan terdiam. Di sekelilingnya, ambulans masih melaju, sirine masih menyala, mesin masih menderu, jalanan masih bergulir di balik jendela. Tapi di dalam, segalanya terasa berhenti. Ia masih duduk di samping pasien yang kini tidak lagi bergerak, di dalam kendaraan yang masih bergerak menuju rumah sakit yang sudah tidak lagi menjadi tujuan yang sama seperti tadi.

“Kami datang dengan harapan masih bisa membantu. Ternyata di tengah jalan, semuanya sudah terjadi,” ujarnya pelan.

Ambulans tetap melaju ke rumah sakit. Bukan lagi dengan tergesa-gesa seperti di awal perjalanan, melainkan dengan langkah yang sudah berbeda maknanya. Di sana, keluarga yang menunggu harus menerima kabar yang tidak pernah ingin didengar oleh siapa pun. Dan Ridwan berdiri di sisi luar dari semua itu, menjadi saksi dari momen yang tidak akan pernah bisa ia hapus dari ingatannya, meski ia tidak mengenal siapa pun yang terlibat di dalamnya.

Menurut Ridwan, momen seperti itulah yang paling membekas selama bertahun-tahun menjadi relawan. Bukan karena perjalanan yang jauh atau tugas yang berat secara fisik, melainkan karena ada sesuatu yang lain yang ikut terbawa, sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja ketika ambulans akhirnya berhenti dan pintu dibuka.

“Kita memang nggak kenal siapa yang meninggal. Tapi tetap saja ikut sedih,” katanya.

Pengalaman itu mengukuhkan sesuatu yang sudah lama ia pahami, bahwa tugas relawan ambulans tidak selalu berakhir dengan keberhasilan. Tidak selalu tentang seseorang yang berhasil diselamatkan, tidak selalu tentang perjalanan yang berujung dengan kabar yang melegakan. Ada kalanya semua usaha sudah dilakukan, semua langkah sudah diambil, semua harapan sudah dikerahkan, dan hasilnya tetap bukan yang diinginkan. Bukan karena kurang berusaha. Tapi karena ada hal-hal yang memang tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun.

Yang mungkin tidak banyak orang sadari adalah bahwa pekerjaan seorang relawan ambulans tidak selesai ketika mereka tiba di rumah sakit. Dan ia tidak dimulai hanya ketika pasien sudah ada di dalam ambulans. Ia dimulai jauh sebelum itu, saat telepon berdering di tengah malam, saat ambulans pertama kali melaju, saat pikiran sudah berlari lebih cepat dari kendaraan yang dikemudikan. Semua yang terjadi sebelum sampai: harapan yang dipupuk, keputusan yang dibuat dalam hitungan detik, dan kenyataan yang harus diterima di tengah perjalanan, semua itu adalah bagian dari tugas yang tidak pernah tercatat dalam laporan mana pun.

Malam itu, ambulans akhirnya berhenti. Mesin dimatikan, sirine tidak lagi menyala, dan keheningan yang berbeda dari keheningan biasa menyelimuti semuanya. Ridwan turun, menutup pintu ambulans perlahan, dan berdiri sejenak di bawah langit malam yang tidak tahu apa-apa tentang apa yang baru saja terjadi di dalam kendaraan itu.

Perjalanan menuju rumah sakit malam itu tidak berakhir seperti yang diharapkan. Tapi Ridwan tahu, ia akan tetap mengangkat telepon ketika berdering lagi. Akan tetap melaju ketika ada alamat yang diberikan. Akan tetap berusaha, sepenuhnya, di setiap perjalanan, karena itulah yang bisa ia lakukan. Karena di antara semua ketidakpastian yang melekat pada pekerjaannya, satu hal selalu pasti: seseorang di luar sana membutuhkan pertolongan, dan ia akan datang.

Karena pada akhirnya, menjadi relawan bukan soal selalu berhasil. Ini soal tetap datang meski tahu bahwa tidak semua perjalanan akan berakhir dengan kabar baik. Tetap mengangkat telepon meski tahu bahwa di ujung sana mungkin ada kenyataan yang tidak siap dihadapi. Tetap duduk di samping seseorang yang sekarat, di dalam ambulans yang melaju dalam gelap, dan memilih untuk hadir sepenuhnya, bukan karena yakin bisa menyelamatkan, tapi karena tidak ada yang seharusnya pergi sendirian.

Malam itu, seseorang pergi sebelum ambulans sempat sampai. Tapi Ridwan ada di sana. Dan mungkin, di detik-detik terakhir itu, itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa diberikan.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!