Undak Usuk Bahasa Sunda Menjadi Alat Politik Hegemoni Mataram

Bahasa Sunda yang selama ini dikenal karena kesantunannya dan terkesan memiliki sistem kasta, antara Sunda kasar dan Sunda lemes, ternyata adalah instrumen politik feodal Mataram untuk menghegemoni warga Sunda yang semula egaliter.

Undak-usuk bahasa Sunda bukanlah produk murni dari keluhuran tata krama leluhur. Ia adalah sistem politik feodal yang sengaja dirancang Mataram untuk memisahkan kelas sosial di Tanah Pasundan. Ironisnya, warisan ini justru menjadi boomerang bagi generasi sekarang: mereka takut dan enggan menggunakan bahasa Sunda egaliter karena khawatir dicap tidak sopan dan tidak beretika. Kendati demikian, akibat minimnya sumber resmi dan ketidaktahuan, banyak yang masih menganggap Sunda lemes sebagai puncak tertinggi budi pekerti orang Sunda.

Mari kita lihat faktanya secara historis. Jauh sebelum sistem berlapis itu hadir, masyarakat Sunda Kuno terbiasa bertutur secara egaliter tanpa sekat usia maupun status sosial. Kata aing dan sia lazim digunakan sebagai kata ganti orang pertama dan kedua dalam keseharian mereka, termasuk dalam naskah kuno seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518 M) dan Carita Parahyangan (akhir abad ke-16). Ini menunjukkan bahwa bahasa Sunda pada periode Buhun tidak mengenal stratifikasi ketat semacam undak usuk basa seperti yang kita kenal sekarang.

Namun, keadaan mulai berubah pada abad ke-17. Ketika Sultan Agung melancarkan ekspansi politiknya ke tanah Priangan sekitar tahun 1620, Mataram tidak hanya membawa pasukan dan meriam, tetapi juga seperangkat budaya feodal yang paling subtil: sistem tingkatan bahasa Jawa atau unggah ungguh. Para bupati lokal yang tunduk di bawah kekuasaan Mataram mulai mengadopsi budaya ini sebagai bentuk loyalitas politik. Dari sinilah lahir golongan bangsawan baru yang disebut menak, para penguasa feodal yang menjadi agen penyebar sistem undak usuk basa di Priangan.

Di titik inilah bahasa Sunda terbelah menjadi dua: basa lemes yang dipakai untuk menghormati para bangsawan dan petinggi Mataram, serta basa loma yang menjadi bahasa rakyat biasa. Bahasa lemes kemudian diasosiasikan dengan kelas atas, sementara bahasa loma dianggap milik kawula rendahan. Inilah taktik politik Mataram yang paling licik: menjadikan bahasa sebagai alat segregasi sosial dan kontrol kekuasaan. Sebagaimana dicatat budayawan Sunda Ajip Rosidi, sistem undak usuk dalam bahasa Sunda diperkenalkan justru ketika Mataram menginvasi Priangan pada pertengahan abad ke-17. Sebelumnya, masyarakat Sunda hanya mengenal bahasa Buhun yang egaliter dan tidak mengenal strata sosial. Profesor Mikihiro Moriyama dari Nanzan University bahkan menegaskan bahwa setelah abad ke-17, orang Sunda sangat terpengaruh kebudayaan Jawa karena ditaklukkan oleh raja Mataram.

Sebagai pelajar sejarah Sunda,

merasa khawatir jika fakta ini terus terkubur. Generasi sekarang tumbuh dengan anggapan bahwa Sunda lemes adalah puncak tertinggi budi pekerti, tanpa pernah bertanya: mengapa bahasa kami terbelah seperti ini? Bukankah ironis, ketika kita justru merasa takut dan enggan menggunakan bahasa Sunda egaliter warisan leluhur sendiri, hanya karena khawatir dicap tidak sopan dan tidak beretika?

Pada akhirnya, kita harus berani menatap masa lalu secara jernih, tanpa dibebani kepentingan adat masa kini. Undak usuk bahasa Sunda adalah produk politik feodal Mataram, bukan kearifan asli masyarakat Sunda. Jika kita ingin bahasa Sunda tetap hidup dan dituturkan oleh generasi mendatang, kita harus melepaskan belenggu feodalisme yang mencekik ini. Sudah saatnya kita berhenti menjadikan bahasa sebagai tolok ukur kesopanan. Sebab, pada nyatanya, Sunda lemes yang selama ini dituturkan untuk menaruh hormat bukanlah kodrat dari budaya Sunda yang egaliter.

Semoga tulisan ini membuka mata generasi muda Sunda bahwa budaya leluhur kita sesungguhnya indah dan punya kearifannya sendiri, jauh sebelum sistem feodal itu datang dan mengubah segalanya. Penulis tetap menghormati kompleksitas sejarah yang telah berlalu. Namun, penghormatan itu bukan berarti kita harus mewarisi buta. Apa yang terjadi di masa lalu adalah pelajaran berharga, bukan dogma yang harus diulang. Sudah saatnya kita memeluk kembali bahasa Sunda dengan kesadaran baru: bahwa kesopanan sejati tidak lahir dari ketakutan akan kasta, melainkan dari ketulusan hati yang egaliter.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!