Dampak Penggunaan Media Sosial Terhadap Kehidupan Remaja

Dampak Penggunaan Media Sosial Terhadap Kehidupan Remaja

Saat ini media sosial sangat menarik perhatian, media sosial mengajak siapapun untuk
berpartisipasi dalam memberikan feedback, komentar serta informasi secara terbuka dan tidak
terbatas. Khususnya para remaja, media sosial menjadi kebutuhan bagi kehidupan sehari – hari
dan penggunaan media sosial bukan sebagai hobi atau permainan kata-kata untuk mengisi waktu luang
tetapi menjadi ekosistem tempat mereka bertumbuh. Media sosial banyak menawarkan
beberapa keuntungan salah satu konektivitasnya tanpa batas, namun di sisi lain menyimpan
risiko yang cukup dalam bagi kesehatan mental dan perkembangan sosial mereka.

Media sosial seringkali memicu perilaku agresif, salah satunya perundungan dunia
maya (cyberbullying) yang jauh lebih berbahaya karena jejak digital ini permanen dan bisa 24
jam nonstop. Didukung dengan data stilistika bahwa ada sekitar 37% remaja berusia 13-17
tahun pernah mengalami perundungan daring, dan dampak nya pun sangat fatal bagi kehidupan
mereka, salah satunya yaitu dari penurunan prestasi akademik sampai ada keinginan untuk
menyakiti diri sendiri. Dilansir dari Data Reportal Penggunaan Media Sosial di Indonesia pada
tahun 2023 terdapat total 167 juta pengguna media sosial, 153 juta diantaranya adalah
pengguna diatas usia 18 tahun, merupakan 79,5% total dari populasi yang berarti mayoritas
penggunaan media sosial adalah kalangan remaja.

Remaja sering merasa stres dengan penampilan mereka, khawatir mengenai respon
terhadap unggahan, atau bahkan merasa tidak percaya diri jika tidak ada yang mengulas
foto mereka. Selain itu media sosial pun menampilkan konten negatif dan tidak mendidik,
sehingga dapat mendorong perilaku berbahaya atau gangguan makan, dapat menyelamatkan
kondisi mental mereka. Selain itu remaja pada saat ini tidak pernah berinteraksi langsung
dengan sesama teman atau kepada masyarakat sehingga mengurangi kemampuan remaja untuk
membangun keterampilan sosial, dan menyebabkan kuran fokus jika mereka berinteraksi
langsung.

Kemkominfo mengatakan bahwa mereka menemukan 98 persen anak-anak dan
remaja mengetahui tentang internet dan 79,5 persen di antaranya adalah pengguna internet. Bahkan saat
ini anak-anak di bawah umur saja sudah bisa menggunakan internet. Perubahan pada remaja
khususnya terlihat pada kebudayaan, perubahan ini bisa jadi satu set perubahan perilaku yang
mudah dilakukan misalnya, dalam cara berbicara atau berkomunikasi, berpakaian, makan, dan
masuk identitas budaya seseorang. Selain itu penggunaan media sosial secara berlebihan
dapat mempengaruhi kehidupan remaja baik dari aspek sosial, psikologis atau pendidikan.

Pada aspek pendidikan media sosial memiliki dampak negatif seperti penurunan
konsentrasi belajar, juga bisa menjadi malas belajar karena terlalu asik. Para pengguna jejaring
sosial mengaku bahwa waktu mereka habiskan dengan bermain media sosial seperti scrolling
tiktok, instagram, x (twitter) dan media sosial lainnya, dan mereka pun mengakui bahwa waktu
belajar mereka tersita dari 1-5 jam atau bahkan sampai 11-15 jam waktu belajarnya perminggu
digunakann untuk bermain jejaring sosial di internet

Media sosial saat ini bukan lah menjadi hal yang aman atau pun beredukasi akan tetapi
media sosial saat ini menjadi tempat kejahatan yang dilakukan secara jarak jauh, saat ini banyak
kekerasan seksual yang dilakukan pada media sosial sehingga remaja lebih mudah mengakses
hal hal negatif tersebut sehingga mereka menjadi kecanduan atau bahkan mereka menjadi
pelaku kekerasan seksual tersebut. Maka dari itu pengawasan orang tua pada saat ini diperlukan
dalam penggunaan media sosial karena hal hal negatif pun dapat mudah di akses di media
sosial.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!