
Deretan bunga berwarna-warni tampak memenuhi kios-kios di Pasar Bunga Pandu, Kota Bandung. Aroma segar bunga menyeruak di antara lalu lalang pengunjung yang datang untuk mencari tanaman hias, buket hadiah, hingga karangan bunga untuk berbagai keperluan. Di tengah suasana itu, seorang perempuan dengan cekatan merangkai bunga-bunga yang ada di hadapannya. Tangannya bergerak perlahan, memilih setiap tangkai, memadukan warna, lalu menyusunnya menjadi rangkaian yang indah dan penuh makna.
Sesekali ia memperhatikan hasil rangkaiannya, lalu menambahkan beberapa bunga kecil sebagai pelengkap. Wajahnya tampak tenang. Tidak ada kesan terburu-buru. Setiap bunga diperlakukan dengan penuh perhatian, seolah memiliki cerita yang ingin ia sampaikan melalui rangkaian tersebut.
Perempuan itu adalah Bu Denia, pemilik Denia Florist yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia bunga. Sejak tahun 1977, bunga bukan hanya menjadi sumber penghasilan baginya, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidup yang penuh kenangan, perjuangan, dan harapan. Setiap hari, Bu Denia membuka tokonya sejak pukul tujuh pagi hingga enam sore. Rutinitasnya hampir selalu sama. Ia merapikan bunga yang baru datang, mengganti air pada wadah penyimpanan, membersihkan daun-daun yang mulai layu, serta melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya, terdapat ketekunan yang telah ia jaga selama puluhan tahun. Ketika banyak usaha kecil harus gulung tikar karena perubahan zaman, Denia Florist tetap bertahan berdiri di sudut Pasar Bunga Pandu.
Perjalanan Bu Denia di dunia florist bermula dari kehidupan rumah tangganya. Pada awalnya, ia dan suaminya menjalankan sebuah kios yang menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari. Kehidupan mereka berjalan sederhana seperti kebanyakan keluarga yang berusaha mencari nafkah dari usaha kecil. Namun, suatu hari sang suami melihat peluang usaha yang berbeda. Ia memutuskan untuk membuka toko bunga. Keputusan itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang kelak mengubah hidup mereka.
Pada mulanya, Bu Denia hanya membantu pekerjaan sang suami. Ia belajar mengenal nama-nama bunga, cara menyimpannya agar tetap segar, hingga teknik merangkai bunga yang menarik. Sedikit demi sedikit, dunia bunga mulai akrab dalam kesehariannya.
Hari demi hari berlalu, usaha mereka berkembang. Bersama suaminya, Bu Denia melayani berbagai pesanan bunga untuk beragam kebutuhan. Bunga-bunga yang mereka jual dikirim hingga ke sejumlah wilayah di Bandung, seperti Wastu Kencana, Tegalega, Pala Sari, dan Karang Anyar. Di balik kesibukan itu, mereka tidak hanya membangun usaha, tetapi juga membangun mimpi bersama. Toko bunga tersebut menjadi saksi perjuangan mereka dalam menjalani kehidupan rumah tangga, membesarkan keluarga, dan menghadapi berbagai tantangan hidup.
Namun, kehidupan tidak selalu berjalan seindah bunga yang sedang mekar. Di tengah perjalanan itu, Bu Denia harus menghadapi kehilangan yang begitu besar. Sang suami, yang selama ini menjadi teman hidup sekaligus rekan seperjuangan dalam menjalankan usaha, meninggal dunia. Kepergian itu meninggalkan kesedihan yang mendalam. Bukan hanya karena kehilangan sosok yang dicintainya, tetapi juga karena ia harus melanjutkan usaha yang selama ini dijalani penuh kebersamaan harus ia lalui seorang diri.
Tidak ada lagi sosok yang membantu mengantar pesanan ke berbagai daerah. Tidak ada lagi teman berbagi cerita setelah seharian bekerja. Yang tersisa hanyalah kios sederhana, deretan bunga, dan kenangan yang masih hidup di setiap sudut toko. Meski demikian, Bu Denia memilih untuk tetap bertahan. Baginya, Denia Florist bukan sekadar tempat mencari nafkah, toko itu adalah peninggalan perjuangan sang suami, tempat di mana begitu banyak kenangan tersimpan. Menjaga toko tersebut berarti menjaga jejak perjalanan hidup yang pernah mereka bangun bersama.
Keputusan itu tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika pelanggan datang silih berganti dan pesanan terus berdatangan. Namun ada pula hari ketika toko terasa sepi. Bunga-bunga yang telah disiapkan hanya menunggu tanpa kepastian akan terjual. Kondisi seperti itu menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi Bu Denia. Meski begitu, ia memiliki cara pandang yang sederhana terhadap hidup.
“Biasa, senang aja, enjoy aja, senang atau sedih apa, enjoy aja,” ujarnya sambil tersenyum hangat.
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan kekuatan yang besar. Dalam hidupnya, Bu Denia belajar bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Karena itu, ia memilih menikmati setiap proses yang dijalani daripada terus mengeluhkan keadaan. Saat ditanya mengenai masa-masa sulit dalam berjualan, jawabannya pun tidak jauh berbeda.
“Ga ada yang beli udah biasa, semuanya disyukuri, enjoy aja gak dapet uang, dapet uang disyukuri aja, enjoy aja, gak boleh jenuh, gak boleh ngeluh, nggak dipersulit.” Ujarnya.
Bagi Bu Denia, rasa syukur menjadi bekal utama untuk bertahan. Ketika pendapatan menurun, ia tetap membuka toko seperti biasa. Ketika pesanan sepi, ia tetap merawat bunga-bunga yang ada di tokonya dengan penuh perhatian. Di balik berbagai tantangan yang dihadapi, ada satu hal yang selalu membuatnya bahagia, yaitu merangkai bunga.
Wajahnya tampak lebih hidup setiap kali berbicara tentang aktivitas tersebut. Baginya, merangkai bunga bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk seni yang memungkinkan dirinya mengekspresikan keindahan. Ia menikmati proses memadukan berbagai warna dan jenis bunga menjadi satu rangkaian yang harmonis. Setiap pesanan memiliki cerita yang berbeda. Ada bunga yang akan menjadi hadiah bagi seseorang yang sedang jatuh cinta. Ada bunga yang akan menemani kebahagiaan pasangan pengantin. Ada pula bunga yang menjadi simbol penghormatan terakhir bagi seseorang yang telah berpulang. Apapun tujuan rangkaian tersebut, Bu Denia selalu mengerjakannya dengan penuh ketulusan.
Menurutnya, bunga merupakan simbol dari berbagai perasaan manusia. Karena itu, setiap rangkaian harus dibuat dengan hati. Kecintaannya terhadap bunga juga terlihat dari cara ia merawatnya. Saat menjelaskan bagaimana menjaga bunga agar tetap segar, Bu Denia menggunakan perumpamaan yang menarik. Menurutnya, merawat bunga tidak jauh berbeda dengan merawat seorang bayi. Airnya harus sering diganti, batangnya perlu dipotong secara berkala, kondisinya harus selalu diperhatikan, jika ada bagian yang mulai rusak, harus segera dirawat. Seperti bayi yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang, bunga juga memerlukan perlakuan yang lembut agar dapat tumbuh dan mekar dengan indah.
Perumpamaan itu menunjukkan betapa dekat hubungan Bu Denia dengan bunga-bunga yang setiap hari menemaninya. Baginya, bunga bukan sekadar barang dagangan yang diperjualbelikan. Bunga adalah kehidupan yang harus dihargai dan dirawat.
Selama puluhan tahun berjualan, Bu Denia juga menyaksikan perubahan zaman. Jika dahulu pelanggan datang dari berbagai kalangan untuk kebutuhan acara formal, kini semakin banyak anak muda yang membeli bunga sebagai hadiah untuk pasangan mereka. Menurutnya, tren memberikan bunga kepada orang terkasih semakin populer di kalangan remaja dan dewasa muda. Meski zaman berubah, bunga tetap menjadi salah satu cara manusia menyampaikan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Perubahan tersebut membuat Bu Denia percaya bahwa bunga akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat.
Kini, setelah hampir lima dekade menjalani profesi sebagai penjual bunga, Bu Denia masih memiliki harapan yang sederhana. Ia berharap semakin banyak orang mengenal Denia Florist, semakin banyak pelanggan yang datang, dan semakin banyak orang yang berkunjung ke tokonya. Harapan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik harapan tersebut tersimpan semangat seorang perempuan yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menjaga sebuah usaha yang penuh kenangan.
Mungkin bagi sebagian orang, bunga hanya akan bertahan beberapa hari sebelum layu. Namun bagi Bu Denia, bunga mengajarkan sesuatu yang lebih dalam tentang kesabaran, ketulusan, dan harapan yang terus tumbuh meski waktu terus berjalan. Dan seperti bunga-bunga yang tetap mekar setelah dirawat dengan penuh kasih sayang, Bu Denia pun terus bertahan menjaga Denia Florist merawat bukan hanya bunga, tetapi juga kenangan, perjuangan, dan cinta yang tidak pernah layu oleh waktu.
