Studio Rosid dan Rasa Menemukan Rumah

Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung yang kian mencolok mengejar modernitas, berdiri sebuah studio seni yang memilih untuk tidak ikut arus. Tempat ini bukan ruang untuk mengejar popularitas instan, pun tidak dirancang dengan arsitektur eksklusif yang sengaja dicipta agar tampak gaul hari ini. Namun, justru dari kesunyian itulah Studio Rosid terkenal tanpa banyak suara. Pada kunjungan perdana ini, Studio Rosid seolah berbisik, mengajak kita melakukan tamasya lintas generasi dengan menyusuri lorong waktu, bukan sebagai turis yang sekadar numpang lewat, melainkan sebagai peziarah yang meraba kedalaman rasa.

Memasuki Studio Rosid seperti perjalanan melintasi tirai waktu. Begitu kaki menapak, suasana berubah seketika, ada rasa rindu pada sesuatu yang telah pergi. Bahkan, sejuknya udara menyambut bagaikan pelukan hangat yang sudah lama terlupakan. Kita tidak sedang berjalan di sebuah ruang pameran seni yang kaku, melainkan melangkah masuk ke dalam rumah masa lalu yang sengaja dijaga untuk tetap hidup. Di sana, terpajang perkakas tani yang sedikit berdebu. Setiap karya mengandung makna, bahkan guratan pada cangkul seolah berbicara perlahan seperti memanggil kembali ingatan tentang tangan-tangan penuh kasih orang tua yang tak sempat kita tanya, mereka berusaha sampai mana.

Studio Rosid adalah ruang senyap yang hidup oleh jalinan pengalaman, dirawat oleh kenangan, dan dituntun oleh kemurnian keinginan untuk memperpanjang masa lampau. Sebagai seorang seniman yang masyhur, Rosid tidak lahir dari lingkungan yang diimpit angkuhnya gedung-gedung pencakar langit. Justru, langkah awalnya bermula dari petak-petak sawah yang bersahaja di sudut Parigi, Pangandaran. Jiwanya tidak dibentuk oleh sekat kaku pendidikan formal seni tinggi, melainkan dari luasnya sanggar kehidupan. Perjalanan mendalami seni baginya adalah tentang keberanian besar untuk membaca, mengeja, bahkan menghidupkan kembali kisah yang telah hilang dengan ketajaman rasa.

Masa kecil Rosid dibesarkan pada sela-sela langkah kaki ayahnya yang meraba kehangatan lumpur sawah. Di sana, jemari mungilnya mulai bergerak mengenal coretan, ia menggoreskan jiwa ke atas kertas-kertas usang. Musim berganti, ia tumbuh dewasa dengan mata yang tajam menangkap rahasia warna. Tangannya menari lincah di atas permukaan kanvas dan kayu. Di dalam dadanya, ada keras tekad yang bergetar tanpa suara, sebuah bisikan tak kasatmata yang memanggilnya untuk melangkah lebih jauh, menyelami lautan seni hingga tenggelam terselamatkan. Maka, pada tahun 1989, anak petani itu memilih mengayunkan kaki meninggalkan tanah kelahiran menuju riak Kota Kembang untuk menuntaskan janji pada takdirnya.

Bagi Rosid, menciptakan karya adalah proses memahami realitas menjadi rasa. “Apa yang saya alami, apa yang saya ungkapkan,” ucapnya. Lewat kemurnian rasa itulah, deretan penghargaan serta panggung pameran luar negeri, ia rasakan mulai dari Singapura, Filipina, Korea Selatan, hingga Hongkong. Maka dari berbagai kesempatan karyanya, ia berhasil merengkuh sebagai seorang seniman sejati.

Di studio ini, setiap benda tidak ditempatkan berdasarkan urutan katalog, melainkan berdasarkan kedekatan rasa. Kehadiran mereka seperti sebuah celengan tempat menabung cerita zaman dahulu yang sakral untuk kita ketahui. Mulai dari peralatan dapur yang permukaannya menghitam legam oleh jelaga takdir, cangkir-cangkir pengusir haus kehidupan, cobek batu yang menyimpan sisa gerus payah, hingga tungku tanah pembuat bara api, bersanding erat dengan perkakas peluh para petani berupa cangkul yang telah sepuh dan berkarat serta caping yang sudah usang.

Benda-benda ini bukan lagi barang antik yang membeku di balik kaca. Jika kita cukup tenang menatap mata cangkul yang berkarat itu, kita bisa membayangkan keringat seorang ayah yang menetes di atas tanah retak demi masa depan. Begitu pula dengan lukisan tangan di lantai bawah, garis-garis perjuangan di dalam kanvas itu terasa hidup, mengajak kita melihat kembali perjuangan orang tua di lembaran peristiwa masa lalu. Dalam kesunyian ini, aku seakan bisa mendengar suara sawah dan lumbung padi yang berdampingan dengan lukisan tangan itu. Mataku seakan terkunci untuk berlama-lama berada di sana. Siapa pun yang melihat lukisannya, pasti akan takjub indahnya.

Langkah kaki ini kemudian beranjak naik menaiki tangga jati yang kokoh. Di lantai atas yang hening, pandanganku langsung tertuju pada sudut di mana terpasang lukisan wajah raksasa seorang petani paruh baya. Hanya bagian kepala yang ditampilkan, seolah menjadi sebuah pertanda nyata dari rasa hormat pada leluhur. Sungguh luar biasa karya Seniman Rosid.

Di sudut lantai dua lainnya, terdapat perpustakaan mini yang hanya cukup dimasuki empat orang. Di sana tersimpan buku-buku yang tertata untuk masa depan, bersanding dengan foto orang tua Pak Rosid dan para pahlawan salah satunya Ir. Soekarno, sebuah ruang yang bisa kita sebut sebagai rumah pohon literasi. Di sini pula, Rosid menghidupkan amanah yang dititipkan oleh bapaknya: “Kalau mau sesuatu harus bersungguh-sungguh, jangan setengah hati. Melainkan sebuah harga mati yang dibawa hingga ke liang sepi. Ini sebagai prinsip menuju jembatan yang menuntun langkah untuk selalu serius dan hati-hati.”

Jauh di balik coretan kuas yang kasatmata, studio ini didirikan bukan untuk menyombongkan nama. Tempat ini adalah sebaris doa yang mewujud bentuk hormat dan rindu paling khidmat dari seorang anak kepada orang tuanya, bahkan kepada semua orang tua masa lalu. Bakti itu tidak lagi diucapkan lewat kata-kata, melainkan telah dipahat menjadi karya yang memeluk siapa saja yang datang.

Studio Rosid sesungguhnya adalah tempat bersandar kerinduan suasana masa lalu. Ia berdiri di ambang batas zaman yang menghubungkan langkah kaki manusia ringkih di masa kini dengan kehadiran energi dan rasa di masa lampau.

Saat langkah kaki akhirnya menjauh meninggalkan aroma kayu tua dan debu halus yang menari dalam bias cahaya pagi, ada keheningan yang terasa berbeda di luar sana. Jalanan mendadak tampak lebih bising dan asing, seolah-olah dunia luar telah kehilangan satu lapis kedalaman yang tadi sempat tertinggal di dalam ruangan. Di balik dinding studio, cangkul, caping, dan perkakas tani yang retak tetap diam pada posisinya, seakan-akan sedang menunggu giliran untuk kembali berbicara.

Usai membiarkan dada bergetar di ruang galeri, Studio Rosid menyediakan kafenya sebagai ruang jeda. Di sudut rumah sunda dengan ditemani secangkir minuman dan makanan khas sunda. kita juga bisa duduk atau sekadar melamun, membiarkan ingatan yang baru saja terbangun menemukan tempatnya untuk mengendap sebelum kita benar-benar kembali ke pelukan dunia luar yang bising.

Di sela-sela kehangatan itulah, ucapan dari Seniman Rosid untuk anak muda kembali berdengung: “Setiap orang memiliki jiwa seni, maka carilah dan sesuaikan dengan diri masing-masing. Semua bentuk karya juga bukan hanya soal estetika, melainkan juga bentuk ibadah.”

Tempat ini pada akhirnya membuka mata kita, bagaimana sesuatu yang kita anggap sudah tiada, ternyata sedang menyusun masa depan lewat kehangatan secangkir bajigur dan STMJ  Siapa pun yang melangkah masuk ke sana akan membawa pulang sebuah pertanyaan yang tidak terjawab, tentang seberapa banyak cerita masa lalu yang kita lupakan. Bahkan, apakah kita sendiri yang masih dirayakan oleh benda-benda sederhana di rumah kita masing-masing? Pertanyaan itu mungkin tidak akan terjawab hari ini, namun cukup untuk membuat seseorang menoleh kembali ke arah Studio Rosid, hanya untuk memastikan apakah detak yang ia dengar tadi benar-benar nyata, atau sekadar sisa ingatan yang menolak untuk pergi.

 

Ada rindu yang menggebu-gebu.

 

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!