Di Balik Ramainya Braga, Pak Radi Bertahan dengan Kerajinan dan Harapan

Bandung – Sore menjelang maghrib, Jalan Braga masih dipenuhi hiruk-pikuk wisatawan. Lampu-lampu neon mulai menyala, menciptakan suasana vintage yang khas di kawasan bersejarah ini. Suara tawa, derap langkah, dan aroma kopi dari kafe-kafe kecil bercampur menjadi satu. Di tengah keramaian itu, seorang pria paruh baya dengan kaos polo hitam lusuh tengah sibuk merapikan barang dagangannya.
Namanya Pak Radi (48). Sudah lebih dari 15 tahun ia mengais rezeki di kawasan wisata Bandung dengan menjual kerajinan tangan dan suvenir khas Sunda. Di lapak kecilnya yang hanya berukuran sekitar 2 x 1,5 meter, tersusun rapi berbagai barang: magnet kayu bergambar Gedung Sate, gantungan kunci bertuliskan “Braga” dan “Bandung”, dompet kulit, hingga miniatur rumah adat Sunda.
Dengan senyum yang tak pernah pudar, Pak Radi menyapa setiap orang yang melintas di depan lapaknya. “Mampir Mas, Mbak… lihat-lihat dulu, tidak ada kewajiban beli,” katanya ramah sambil mengangkat salah satu magnet kayu.
Sebelum pandemi COVID-19 melanda, Pak Radi biasa berjualan di kawasan Asia Afrika. Saat itu, kawasan tersebut masih menjadi magnet utama wisatawan. Namun, segalanya berubah drastis sejak Maret 2020.
“Waktu itu seperti kota mati,” kenang Pak Radi sambil menatap lurus ke arah trotoar. “Pagi sampai malam sepi. Tidak ada suara, tidak ada pembeli. Kadang saya cuma duduk berjam-jam, cuma ngeliatin jalan kosong.”
Banyak pedagang kecil terpaksa gulung tikar atau pindah lokasi. Pak Radi memilih bertahan. Ia dan beberapa rekan pedagang mulai mencoba peruntungan di Jalan Braga. Ternyata, pilihan itu tepat. Setelah pandemi mereda, Braga justru menjadi kawasan yang paling ramai dikunjungi wisatawan.
“Braga ini tempatnya enak untuk foto-foto. Bangunannya klasik, ada vibe Eropa tempo dulu. Sekarang malah lebih hidup daripada Asia Afrika,” jelasnya.
Pak Radi bukanlah pendatang baru di dunia kerajinan. Ia sudah belajar membuat dan menjual suvenir sejak usia 30-an. Awalnya ia hanya membantu kerabat yang memproduksi kerajinan kulit di Cibaduyut. Lama-kelamaan ia memberanikan diri membuka lapak sendiri.
Setiap hari, ia bangun pukul 05.30 WIB. Setelah subuh dan sarapan, ia menuju kiosnya yang terletak di ujung Jalan Braga. Barang-barangnya sebagian dibeli dari produsen di Cibaduyut dan sebagian lagi ia pesan khusus dengan motif Bandung.
“Kalau stok magnet kayu dan gantungan kunci habis, langsung laris. Kadang pembeli kecewa kalau sudah tidak ada,” katanya sambil tertawa kecil.
Harga yang ia tawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp15.000 hingga Rp40.000. Untuk wisatawan asing, ia kadang menyesuaikan harga sedikit lebih tinggi, tapi tetap dengan negosiasi yang santun.
“Kalau beli banyak, saya kasih harga spesial. Yang penting pembeli puas, mereka akan datang lagi atau kasih rekomendasi ke teman-temannya,” ujarnya.
Strategi Bertahan di Tengah Persaingan
Meski Braga kini ramai, persaingan antar pedagang sangat ketat. Puluhan lapak serupa berjejer di sepanjang jalan. Pak Radi mengandalkan dua hal utama: kerapian display dan pelayanan ramah.
“Barang harus kelihatan rapi dan menarik. Kalau berantakan, orang lewat saja,” jelasnya. Ia juga selalu siap bercerita tentang asal-usul barang yang dijualnya, sehingga pembeli merasa mendapat nilai lebih.
Namun, tantangan tetap ada. Harga bahan baku yang naik, cuaca yang tidak menentu (terutama saat hujan), hingga keterbatasan modal untuk menambah stok barang seringkali membuatnya harus berpikir keras.
“Kadang saya beli stok sedikit dulu. Kalau laris baru tambah lagi. Modalnya kan terbatas,” ungkapnya.

Meski usahanya mulai pulih, Pak Radi tetap rendah hati. Ia tidak bermimpi besar. Baginya, yang terpenting adalah bisa menghidupi keluarga dan terus bertahan.
Ia memiliki istri dan dua anak yang masih sekolah. Setiap hari ia berusaha menyisihkan sebagian keuntungan untuk biaya pendidikan anak-anaknya.
“Anak saya yang sulung sekarang kelas 3 SMA. Mudah-mudahan bisa kuliah,” katanya dengan mata berbinar.
Kini, setiap sore ia kembali ke lapaknya dengan semangat yang sama. Menata barang, menyapa wisatawan, dan sesekali berbagi cerita dengan pedagang lain. Bagi Pak Radi, setiap wisatawan yang datang bukan sekadar pembeli, melainkan harapan.
“Braga ini sudah seperti rumah kedua bagi saya. Semoga semakin ramai, semakin banyak orang yang bisa makan dari sini,” tutupnya sambil tersenyum.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!