
Pukul tiga dini hari, Ketika sebagian besar orang masih terlelap, seorang Perempuan muda sudah melaju menembus dinginnya udara majalaya. Di atas sepeda motornya bertumpuk kotak rias, kebaya pengantin, aksesori, hingga perlengkapan makeup yang lainnya. jalanan sepi, terkadang hanya ditemani gonggongan anjing liar yang mengejar dari kejauhan. Namun bagi ia, perjalanan itu bukan sekadar menuju lokasi pernikahan client, perjalanan itu adalah bagian dari mimpi Panjang yang ia rajut sejak masa sekolah.
Siapa sangka, Perempuan yang kini dikenal sebagai guru ASN sekaligus pemilik wedding organizer dengan puluhan anggota team itu pernah berjuang sekeras dan sebanting tulang itu hanya untuk bisa tetap melanjutkan sekolahnya. Perempuan itu adalah bu Rena Aprillia yang sering dipanggil Rena atau dengan sebutan Profesor Joho oleh Kawan-kawannya. Namun, di balik pencapaiannya hari ini, tersimpan perjalanan Panjang yang dipenuhi perjuangan, pengorbanan dan kerja keras yang tak banyak diketahui orang .
Kesuksesan yang diraih bu Rena hari ini tidak datang secara instan, jauh sebelum memiliki usaha sendiri dan memimpin sebuah team besar, ia hanyalah seorang siswi SMA Muhammadiyyah Majalaya yang menyimpan mimpi sederhana yaitu menjadi seorang guru. Sejak duduk di bangku sekolah, ia dikenal sebagai sosok yang gemar belajar. Salah satu mata pelajaran yang menjadi favoritnya yaitu kimia. Ia menikmati setiap praktikum di laboratorium dan selalu antusias Ketika harus menjelaskan materi pelajaran kepada teman-temannya. Dari situlah bu Rena tumbuh keinginan yang kuat untuk menjadi seorang pendidik.
Namun, seperti banyak kisah perjuangan yang lainnya, perjalanan menuju cita-cita itu tidaklah mudah. Kondisi ekonomi yang terbatas, keluarga yang sederhana sehingga membuatnya harus berjuang lebih keras diabandingkan dengan teman-teman seusianya yang harusnya benar-benar menikmati masa-masa yang penuh di manja.
Belajar di tengah keterbatasan, saat masih sekolah, bu Rena terbiasa hidup mandiri. Ia memahami bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk memenuhi semua kebutuhan pendidikannya. Oleh karena itu, ia mau tidak mau harus membantu dirinya sendiri dengan cara berjualan.
Setiap hari, selain membawa buku pelajaran, ia juga membawa berbagai barang dagangan untuk dijual kepada teman-temannya di sekolah. Baginya, berjualan bukan sesuatu yang memalukan, justru dari aktivitas itulah ia belajar arti tanggung jawab dan kemandirian supaya nantinya tidak bergantung kepada orang lain. semangat juangnya yang sangat luar biasa, sehingga membuat semua orang termotivasi oleh kerja kerasnya.
Hasil penjualannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah, biaya transportasi, hingga uang jajan sehari-hari. Meski harus membagi waktu antara belajar dan berjualan, semnagatnya untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi tidak pernah surut. Di saat banyak remaja seusianya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, bu Rena lebih memilih menghabiskan malam dengan buku-buku pelajaran yang sangat ia senangi. Ia percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan.
Malam-malam Panjang menjadi saksi perjuangannya, Ketika rumah mulai sunyi, ia masih duduk di meja belajar dengan tumpukan buku dan catatan. Rasa kantuk sering kali datang menghampiri, tetapi mimpi yang besar membuatnya terus bertahan. Hebatnya ia kadang berpura-pura kuat padahal aslinya sedang sakit. Begitu tidak ingin terlihat lemah di depan orangtuanya, karena ia sadar apapun yang ia lalukan itu tidak sebanding dengan capeknya orangtuanya mencari uang untuk semua kebutuhan.
Tahun 2012 menjadi titik penting dalam hidupnya. Setelah lulus dari SMA Muhammadiyyah Majalaya, ia memberanikan diri menyampaikan keinginannya kepada orang tua untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi impiannya. Keinginan itu sempat menimbulkan kekhawatiran, karena ekonomi keluarga yang paspasan. Tetapi orang tuanya sangat mendukung pendidikan, tetapi kondisi ekonomi keluarga membuat biaya kuliah terasa seperti beban yang berat.
Meski demikian, bu Rena tidak pernah menyerah. Ia terus meyakinkan dirinya sendiri dan keluarganya bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang harus diperjuangkan. Dengan tekad yang kuat, ia mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (SPMB-PTAIN). Berbagai persiapan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Hari demi hari ia habiskan untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi seleksi.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Ia diterima di Universitas Negeri yang ada di Bandung tepatnya Cibiru yaitu di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Fakultas Tarbiyah dan keguruan, Jurusan Pendidikan Kimia. Kabar tersebut menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya, yang dimana ia diterima di salah satu universitas favorit. Mimpi yang selama ini hanya tersimpan dalam angan-angan, akhirnya mulai menemukan jalan menuju kenyataan.
Memasuki dunia perkuliahan ternyata menghadirkan tantangan baru. Kehidupan kampus mempertemukannya dengan banyak teman yang berasal dari latar belakang ekonomi yang lebih baik. Di saat sebagian mahasiswa dapat memenuhi kebutuhan dengan mudah, bu Rena harus berjuang keras untuk mencukupi dirinya sendiri.
Namun, keadaan itu tidak membuatnya minder. Bahkan sebaliknya, ia menjadikannya sebagai motivasi untuk bekerja lebih keras. Selama kuliah, ia Kembali berjualan, selain itu, ia juga mulai mencari pekerjaan sampingan sebagai pengajar di Lembaga bimbingan seperti Edulab dan Sigma dan bahkan ia menerima les private dari rumah ke rumah atau homeservice.
Hujan maupun panas tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Dnegan kendaraan sederhana, ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi mengajar dan memperoleh penghasilan tambahan. Setiap rupiah yang diperoleh memiliki arti yang sangat besar bagi ia, uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan kuliah sekaligus membantu biaya hidup sehari-hari. Meski lelah, ia tidak pernah mengeluh, dalam pikirannya hanya ada satu tujuan: yaitu menyelesaikan kuliah tepat waktu dan meraih gelar sarjana.
Empat tahun perjuangan akhirnya terbayar lunas. Pada tahun 2016, bu Rena resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Namun, kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, hal itu menjadi awal pengabdian yang sesungguhnya. Akhir 2016 ia melamar ke beberapa sekolah seperti SMP Al-AZHAR Majalaya, SIT Qordova Rancaekek dan SMA Muhammadiyyah Majalaya. Ia keterima di sekolah yang ia masukan lamarannya itu.
Di ruang kelas, bu Rena dikenal sebagai guru yang kreatif dan dekat dengan siswa. ia selalu berusaha menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan. Metode mengajarnya membuat siswa lebih mudah memahami materi dan merasa nyaman selama proses pembelajaran. Tak heran jika banyak siswa menjadikannya sebagai guru favorit. Baginya, menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan pelajaran, tetapi juga tentang menanamkan harapan dan semangat kepada generasi muda.
Di Tengan kesibukannya sebagai pendidik, bu Rena menemukan ketertarikan baru pada dunia tata rias. Awal tahun 2018 menjadi awal perjalanan barunya sebagai Mua (Makeup Artist). Berbekal rasa ingin tahu yang tinggi, ia mulai mempelajari teknik makeup secara otodidak. Ia mengikuti berbagai pelatihan dan terus berlatih untuk mrningkatkan keterampilannya.
Kesempatan menjadi asisten MUA memberinya banyak pengalaman berharga. Dari sana, ia belajar memahami kebutuhan client, teknik tata rias pengntin, hingga cara membangun kepercayaan pelanggan. Hari demi hari, kemampuannya semakin berkembang.ia mulai menerima jasa rias untuk wisuda, bridesmaid atau acara engangement atau acara lain-lainnya.
Tahun 2020 menjadi langkah yang sangat besar. Dengan keberanian dan keyakinan yang dimiliki, bu Rena memutuskan untukk] merintis usaha wedding organizer sendiri. Keputusan itu bukan tanpa Risiko, ia harus membagi waktu antara mengajar dan mengembangkan usaha yang masih sangat kecil. Pada masa awal-awal, ia sering menghadapi tantangan. Ada yang meragukan kemmapuannya, memandang usahanya sebelah mata, bahkan meremehkannya.
Namun, pengalaman hidup telah mengajarkannya bahawa setiap keberhasilan selalu diawali dengan keberanian untuk mencoba. Job pertama yang diterimanya menjadi sumber semangat yang luar biasa. Meski jumlah client masih sediri. Ia tetap bersyukur dan terus meningkatkan kualitas layanannya.
Perlahan tetapi pasti, usahanya mulai berkembang, tahun2022 ia membentuk team kecil bersama adik tercintanya dan beberapa rekan kerjanya. Tahun 2023 menjadi salah satu titik perkembangan penting. Jumlah client mulai meningkat, perlengkapan pernikahan bertambah, dan team bekerja semakin besar.
Pada masa itu, hamper semua pekerjaan masih ditangani sendiri oleh bu Rena. Mulai dari konsultasi client, fitting kebaya, pengemasan perlengkapan, hingga proses tata rias pengantin. Ia bahkan pernah mengangkut berbagai perlengkapan pernikahan menggunakan sepeda motor pada dini hari demi memenuhi kebutuhan pekerjaan.
Kini, pada tahun 2026, perjuangan Panjang itu telah membuahkan hasil yang membanggakan. Bu Rena tidak hanya berhasil menjadi seorang ASN guru, tetapi juga ia suskes membangun wedding organizer yang memiliki sekitar 25 anggota team. Usahanya telah membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Lebih dari sekadar bisnis, wedding organizer yang ia bangun menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diwujudkan melalui kerja keras dan ketekunan.
Perjalanan hidup bu Rena mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Dari seorang siswi yang berjualan demi biaya sekolah, ia menjadi mahasiswa yang mengajar les demi bertahan hidup, hingga akhirnya tumbuh menjadi guru ASN dan pemilik wedding organizer yang sukses.
Tidak ada jalan pintas dalam kisahnya, yang ada hanyalah kerja keras, keberanian untuk terus mencoba dan keyakinan bahwa setiap usaha akan menemukan hasilnya pada waktu yang tepat.
Dibalik senyum para pengantin yang ia rias dan keberhasilan siswa-siswinya yang pernah ia ajar, tersimpan satu pesan sederhana yang selalu ia pegang hingga hari ini: “ jangan pernah menyerah pada keadaan, karena mimpi hanya akan menjadi kenyataan bagi mereka yang berani memperjuangkannya.
