
Bukan warisan tanah, bukan jabatan tinggi. Hanya sebuah kemudi, ribuan kilometer, dan tekad seorang ayah yang tak pernah padam.
Jam masih menunjukkan pukul empat pagi ketika Pak Aep sudah duduk di balik kemudi Mobil nya. Mesin menderu pelan, lampu jalan memantul di kaca spion, dan di sakunya tersimpan sebuah foto lusuh empat anak kecil yang tersenyum polos ke kamera. Foto itu sudah menemaninya lebih dari tiga puluh lima tahun. Selalu di saku yang sama. Selalu jadi alasan ia menyalakan mesin setiap subuh.
Pak Aep, 56 tahun, adalah seorang supir angkutan benang jarak jauh di Jawa Barat. Rute Bandung hingga Brebes atau Pekalongan sudah ia hafal seperti hafalan surat pendek. Jalanan berkelok, tanjakan curam, dan kabut dini hari sudah menjadi teman lamanya. Tapi di balik kesehariannya yang tampak biasa, tersimpan sebuah pencapaian yang tidak biasa: keempat anaknya Ropik, Nifa, Nisa, dan Kila bertiga sudah mengenakan toga, dan si bungsu kini tengah melangkah menuju semester akhir.
“Saya tidak punya tanah untuk diwariskan. Yang bisa saya wariskan hanya ilmu. Jadi saya kejar itu, tidak peduli seberapa jauh rutenya.”
Tidak ada yang mudah dari perjalanan ini.
Ketika Ropik dan Nifa masuk universitas pada 2015, gaji Pak Aep tak sampai satu juta rupiah sebulan. Ia dan istrinya, Bu Atin, membagi uang itu dengan kalkulator di kepala beras dulu, listrik dulu, sisanya untuk anak-anak. Kadang tak ada sisa. Tapi Bu Atin selalu menemukan cara: ia sering menitipkan dagangan orang lain, lalu menjualnya kembali dengan keuntungan seadanya. Setiap rupiah yang terkumpul, sekecil apapun, dimasukkan ke amplop yang sama amplop biaya kuliah.
“Saya di jalan, istri saya yang jaga rumah dan cari tambahan. Kami tim,” kata Pak Aep sambil tersenyum tipis. “Tidak bisa salah satu saja.”
Ketika Nisa menyusul kuliah di tahun 2019, bebannya berlipat ganda. Pak Aep mulai mengambil rute malam yang upahnya lebih tinggi, tapi risikonya juga lebih besar kantuk yang menggigit, kabut tebal, dan jalan rusak yang tak kenal ampun. Ia tak pernah bercerita soal risiko itu kepada anak-anaknya.
“Buat apa? Biar mereka fokus belajar.”
Di hari-hari libur yang jarang, ia tidak benar-benar beristirahat. Tangan yang biasa menggenggam setir itu beralih ke kunci pas membenarkan motor tetangga yang rusak, menambah sedikit pemasukan dari apa yang bisa ia kerjakan.
Ropik dan Nifa kini sudah menapaki jalan masing-masing sebagai seorang guru Nifa mengabdi di SDN Talaga, Ropik di SDN Panyirapan 2 Soreang. Keduanya menyimpan kenangan yang sama tentang ayahnya: sosok yang jarang ada di rumah saat mereka kecil, tapi selalu hadir ketika pulang.
“Setiap kali Bapak pulang, kami selalu duduk bareng. Bapak tanya pelajaran apa yang sulit, meskipun Bapak sendiri cuma lulusan SMA. Beliau pura-pura mengerti supaya kami semangat,” kenang Nifa, suaranya sedikit bergetar.
Ada sesuatu yang diam-diam dipahami anak-anaknya sejak kecil: bahwa ayah mereka sedang bertarung di jalan, dan tugas mereka adalah bertarung di dalam kelas. Perjanjian tak tertulis yang tak pernah diucapkan, tapi selalu dirasakan.
Kila, si bungsu yang kini akan memasuki semester akhir, punya caranya sendiri mengingat ayahnya.
“Waktu wisuda Ropik, Nifa, dan Nisa Bapak datang pakai baju batik yang kebesaran. Saya tahu ukurannya tidak pas. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Kami berpelukan lama sekali.”
Pak Aep sendiri mengingat momen itu dengan cara yang berbeda lebih senyap, lebih dalam.
“Satu demi satu toga itu terpasang. Saya hitung dalam hati: ketiga. Tinggal satu lagi. Lunas sudah janji saya kepada mereka.”
Ia sengaja tidak pernah memperlihatkan beratnya beban itu kepada anak-anaknya. Mereka hanya boleh merasakan kehangatan dan kepastian bahwa pendidikan mereka tidak akan terhenti bahwa setir itu akan terus diputar, sejauh apapun rutenya.
Strategi itu berhasil. Keempat anak Pak Aep tumbuh bukan sebagai anak yang terbebani rasa bersalah, melainkan sebagai anak yang termotivasi oleh rasa syukur.
“Kami tahu Bapak dan Ibu kerja keras. Itu yang bikin kami tidak mau main-main di kampus,” ujar Kila.
Kini Pak Aep belum pensiun.
Masih ada satu rute yang belum selesai satu toga yang belum terpasang. Lututnya dan punggungnya sudah tidak sekuat dulu, dan dokter menyarankan ia mengurangi rute panjang. Tapi senyumnya tidak berkurang. Di sore-sore yang tenang, ia duduk di teras rumah yang sederhana, mengamati cucu-cucunya bermain di halaman, sementara angin sore membawa bunyi tawa kecil yang dulu tidak sempat ia dengar karena ia selalu sudah berangkat sebelum anak-anaknya bangun.
“Kalau ditanya menyesal tidak tidak ada yang saya sesali,” katanya pelan. “Lelah iya. Tapi saya tidak mau tukar lelah itu dengan apapun.”
Di saku bajunya, foto lusuh itu masih ada.
Tapi kini ada foto baru yang dipajang di dinding rumah: tiga wajah dewasa berbalut toga, dan satu lagi memakai jas almamater kampus impian. Semuanya tersenyum. Pak Aep menatap foto itu setiap kali ia perlu mengingatkan dirinya sendiri bahwa rute terpanjang dan terpenting dalam hidupnya belum benar-benar selesai. Dan ia akan menyelesaikannya, sebagaimana ia selalu menyelesaikan setiap perjalanan: pelan, sabar, dan sampai tujuan.
