LAYAKNYA GOOGLE MAPS YANG MENCARI JALAN BARU SAAT JALAN SEBELUMNYA TAK BISA DILALUI LAGI : KISAH ANITA PENGABADI MOMENT

Mentari mulai menunjukkan kehangatan memberi energi pada semua makhluk bumi menjalani kehidupan, kontras dengan semilir angin yang menyapa setiap inci dari tubuh masyarakat sekitar. Panjalu, sebuah desa yang ada di kabupaten Ciamis dan dikenal dengan hawa sekitar yang dingin. Namun, nyatanya hal tersebut tak menyulutkan perjalanan dan perjuangan orang-orang. Desa yang juga banyak dikunjungi untuk berziarah ini tentunya dikelilingi banyak insan dengan beragam usaha guna menetap bahkan meningkatkan perekonomian. Di sebuah ruko yang tidak jauh dari tempat ziarah lampu flash menyorot kebahagiaan beberapa remaja dengan pakaian putih biru ditemani kacamata yang bertengger di hidung mereka. Berbagai gaya dan perintilan lain seperti topi, bondu, bahkan alas kaki dipakai bergantian.

TIT TIT TIT

Sebuah alat berbunyi nyaring menandakan bahwa sesi pengabadian momen telah selesai, Anita perempuan kelahiran 2004 itu berkutat dengan komputer dengan jemari yang bergerak lincah di atas keyboard dan sesekali menggerakkan mostnya. Salah satu dari anak berseragam putih biru itu mendekat

“ Mau yang bagus ya kak fhotonya, pake filter sama template biar tambah bagus.”

Anita menatap gadis tersebut dengan senyuman dan anggukan kecil, ia menggulir semua fhoto dan dihadapkan pada gadis di depannya untuk memilih sendiri mana saja yang akan di cetak. Tak lupa ia juga akan tetap mengkonfirmasi filter serta template yang telah ia pilih kepada pelangannya sebelum akhirnya dicetak.

Ia kembali memandangi mesin yang mulai mencetak fhoto dengan pikiran yang kembali melayang pada saat dirinya masih menggunakan seragam tersebut, lebih tepatnya seragam sekolah yang terakhir ia pakai. Tahun sebelum menyebarnya virus corona ialah waktu dimana ia masih berkutat di bangku SLTP. Namun, semua itu tak berlangsung lama saat pandemi mulai diterapkan. Ia yang baru lulus dari jenjang tersebut memilih mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan.

Karena belum memiliki pengalaman dalam hal bekerja, ia mencoba menjadi seorang asisten rumah tangga di Bandung tepatnya di daerah Panghegar. Namun, sayangnya kegigihan menekuni pekerjaan tersebut hanya bertahan pada hari ke-4 hingga ia memutuskan pulang ke rumahnya dan tanpa diberi gaji. Layaknya generasi Z pada umumnya, ia jelas tidak terlalu nyaman saat diarahkan mengerjakan berbagai pekerjaan dengan sebuah telunjuk dari orang lain. Memang sudah menjadi tanggungjawab namun di usianya dulu yang terbilang masih remaja berkisar 15 tahun, hal tersebut cukup mengganjal dan menurutnya tidak nyaman sehingga memilih menyudahi daripada menunggu hal tidak baik terjadi.

Dari kejadian tersebut, ia kemudian mendapat tawaran bekerja di sebuah caffe yang baru buka bernama “Saung Nusa Sari”, caffe tersebut menyuguhkan keindahan situ Ciater yang ada di Panjalu. Sebagai seorang waitrees, ia menekuni pekerjaannya dengan senyuman hangat yang diberikan pada banyak pengunjung yang datang. Dari banyak kalangan dan banyak keperluan, mulai dari anak sekolah yang bekerja kelompok atau bahkan orang-orang dewasa yang berdiskusi dan para orangtua yang mengajak anaknya bermain. Ia bahkan tak pernah membedakan dan sekalipun teman dekatnya yang datang. Pada masa kejayaannya caffe tersebut ramai baik itu siang ataupun malam. Hal itu juga menyebabkan Anita bekerja cukup intens dan sangat mengurangi waktu bermain atau sekedar membaringkan diri menikmati kehidupan, bahkan terkadang Ia harus pulang larut malam dengan melewati gang yang terhubung ke pemakaman setempat (Puspaligar).

“ Aku takut sebenarnya, bahkan cape juga tak perlu ditanyakan lagi. Tapi sudahlah semua akan baik-baik saja. “ ucapnya

Selayaknya sebuah usaha yang memiliki masa naik dan turun, caffe tempat Anita bekerja juga mengalami hal yang sama. Sayangnya caffe yang didirikan pada tahun 2022 tersebut di tahun ke-2 mengalami penurunan cukup besar bahkan sampai memberhentikan operasi kerjanya. Hal ini jelas mempengaruhi para pekerja dan salah satunya Anita. Setelah cukup lama berkecimpung pada pekerjaannya Anita cukup kebingungan untuk apa yang harus dilakukan saat ia harus tetap memiliki pemasukan. Hingga di sela kebingungannya masih di tahun yang sama ia mulai bergabung dengan salah satu Wedding Organizer bernama “Aurra Wedding”. Ia ikut bekerja tim bahkan sempat menjadi muse untuk mempromosikan jasanya.

“ Lumayan kerjanya dari pagi banget bahkan sering gak sarapan, dan pulangnya sering sore karena nunggu acara selesai. Untuk gaji biasanya disesuaikan sama paket apa yang dipesan mempelai, bisa disebut gak pasti tapi berkisar di 100-250 ribu/ acara. “ ungkap Anita

Terlihat seperti ada secercah harapan namun baginya itu sebuah ketidakpastian karena pernikahan tidak bisa ditentukan ada setiap harinya. Bahkan saat ada, ia seringkali jatuh sakit setelahnya jika benar-benar melewatkan sarapan. Penyakit dispepsia yang memang banyak dialami generasi Z juga ia alami. Dan saat yang lain hanya bergelut dengan rasa malas makan ia justru harus bergelut dengan jadwal bekerja. Berjuang agar dirinya tetap mendapat penghasilan dengan badan yang tetap bisa ditopang.

Hingga kemudian, di awal tahun 2025 ia mengambil sebuah pekerjaan yang ia anggap kerja sambilan di sebuah toko kerudung yang masih berada di Panjalu. Lagi dan lagi ia harus melayani setiap pelayan dengan senyuman ramah bahkan memberikan saran saat pelangganya bertanya ataupun merasa kebingungan. Pekerjaannya tersebut tentunya tidak menghalangi saat ada panggilan dari Wedding Organizer, saat memang ada panggilan Ia akan mendapat izin dari toko kerudung tempat Ia bekerja. Namun, meskipun begitu tak berarti Ia bekerja dengan berleha. Ia tetap bekerja dengan ketentuan serta kesepakatan yang telah ditentukan.

“ Malam takbir idul fitri pun masih tetap harus buka toko, tapi memang gak terlalu malam jam 9 sudah pulang. Dan tiga hari setelahnya udah masuk lagi. “ ungkap Anita tersenyum mengingat momen tersebut

Di malam yang dinikmati banyak orang dengan keluarganya, Anita masih tetap harus bekerja. Meskipun ada sedikit keluhan namun Ia kembali mengingat bahwa semua ini jalannya dan harus tetap berjalan. Bukan tak memiliki waktu bersama keluarga, karena nyatanya setiap pulang bekerja Ia tetap mendapatkan kehangatan keluarga saat sampai di rumahnya.

Dengan segala pertimbangan, beberapa bulan bekerja di toko tersebut. Anita memilih untuk berhenti hingga di penghujung tahun 2025, tepatnya bulan November Ia mendapatkan tawaran bekerja di sebuah photobox yang kini Ia tempati. Bermodalkan tekad yang kuat serta rasa semangat Ia menyetujui dan mulai bekerja.

“ Belum pernah si, bahkan gak tau gimana jalaninnya. Tapi ya cari pengalaman aja, dan yang punya juga baik. Bahkan saat awal bergantung aku ada di bawah bimbingannya dengan kesabaran dan ketekunan mengajarnya. Jadi betah banget tuh sampe sekarang. “ ungkapnya menjelaskan apa yang ia rasakan.

Ya, hingga kini Anita mengabadikan banyak moment berharga. Membuka kios dari pukul 08:00-17:00 dan menerapkan sikap ceria, bahagia dan ramah jelas menjadi andalan selama jam kerjanya. Bahkan bukan hal aneh lagi saat orang lain menuntut sesuatu yang sempurna, dan lagi bisa saja hal ini diterima dari berbagai generasi baik setara, setelah bahkan yang jauh sebelumnya.

“ Iya, gak sedikit orangtua yang datang dengan membawa anak dan meminta hasil terbaik dengan membimbing anaknya itu melakukan berbagai fose. Karena mungkin hasil yang baik memang harapan banyak orang.” Ujarnya sambil tersenyum simpul.

Lagi dan lagi, layaknya sebuah usaha pada umumnya. Pekerjaan yang ditekuninya sekarangpun tidak senantiasa ramai oleh pengunjung. Kadang di ada hari di mana bahkan ia tidak mendapatkan pelanggan satupun. Meskipun begitu nyatanya hal tersebut tak menyulutkan semangatnya untuk tetap bertahan dengan pekerjaan yang bahkan tidak ditentukan kapan liburnya, pada pekerjaan yang harus ia pastikan senantiasa baik kontrol emosinya, dan pada pekerjaan yang memberinya penghasilan 800 ribu setiap bulannya.

“ Pernah beberapa kali kepikiran, teman-temen masih pada asik dengan kehidupan remajanya dengan main, sekolah sekarang bahkan kuliah tapi aku sudah harus berkutat dengan mencari pengahasilan tapi gapapa. Setidaknya aku juga tetap melanjutkan kehidupan bahkan dengan beberapa pengalaman dan tentunya banyak perkenalan. “ ungkapnya tulus menerima semua keadaan.

 

 

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!