
Pulo Majeti, sebuah tempat yang jarang tersentuh di Kota Banjar, dipercaya menjadi saksi bisu runtuhnya kejayaan Kerajaan Sunda. Pemerintah setempat bahkan menetapkan kawasan itu sebagai cagar budaya karena ditemukan pecahan batu kuno dan berbagai peninggalan yang masih menyimpan teka-teki. Ditambah cerita rakyat yang terus diwariskan serta berbagai kejadian ganjil yang dipercaya masyarakat, pulau ini kian diselimuti aura misteri. Banyak orang datang untuk mencari jawaban, namun tak sedikit yang justru pulang membawa lebih banyak pertanyaan.
Di tengah hamparan alam yang masih asri, Pulo Majeti tidak hanya dikenal sebagai situs cagar budaya, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara sejarah dan legenda. Berbagai kisah tentang kerajaan, tokoh-tokoh masa lampau, hingga peristiwa-peristiwa yang sulit dijelaskan terus hidup dalam ingatan masyarakat setempat. Cerita-cerita tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikan Pulo Majeti lebih dari sekadar lokasi bersejarah, melainkan bagian dari identitas budaya yang masih terjaga hingga kini.
Di tengah hamparan alam yang masih asri, Pulo Majeti tidak hanya dikenal sebagai situs cagar budaya, tetapi juga sebagai ruang pertemuan antara sejarah dan legenda. Berbagai kisah tentang kerajaan, tokoh-tokoh masa lampau, hingga peristiwa-peristiwa yang sulit dijelaskan terus hidup dalam ingatan masyarakat setempat. Cerita-cerita tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikan Pulo Majeti lebih dari sekadar lokasi bersejarah, melainkan bagian dari identitas budaya yang masih terjaga hingga kini. Menurut berbagai cerita yang berkembang di masyarakat, Pulo Majeti dahulu dipercaya sebagai wilayah yang memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Galuh atau Kerajaan Sunda. Di kawasan yang kini berada di Lingkungan Siluman Baru, Kelurahan Purwaharja, Kota Banjar, masyarakat masih mengenang kisah tentang Prabu Selang Kuning dan Ratu Gandawati yang menjadi bagian dari legenda setempat. Cerita tersebut terus hidup melalui tradisi lisan dan berbagai kegiatan budaya yang masih dilaksanakan hingga sekarang.
Keberadaan situs ini semakin menarik perhatian karena letaknya yang dahulu berada di tengah kawasan Rawa Onom. Nama rawa tersebut tidak dapat dipisahkan dari legenda Onom yang diyakini masyarakat sebagai penguasa wilayah Pulo Majeti pada masa lampau. Meskipun kisah tersebut belum dapat dibuktikan secara historis, keberadaannya telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Banjar. Juru pelihara situs Pulo Majeti, Bapak Yoyo, pernah menjelaskan kondisi kawasan tersebut yang mengalami perubahan dari masa ke masa. Ia mengatakan, “Berdasar cerita tetua dulu, Rawa Onom sangat luas, hanya saja saat ini sudah berkurang jauh. Pulo Majeti saat ini tinggal beberapa hektar saja. Di dalamnya adalah hutan, berikut sejumlah pohon berukuran besar, usianya mencapai ratusan tahun.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Pulo Majeti tidak hanya menyimpan nilai budaya, tetapi juga menjadi saksi perubahan bentang alam yang terjadi selama berabad-abad. Pohon-pohon tua yang masih berdiri kokoh di kawasan itu seolah menjadi penjaga bisu berbagai kisah yang belum sepenuhnya terungkap. Hingga kini, berbagai ritual budaya masih dilakukan masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan warisan budaya yang mereka miliki. Tradisi Hajat Bumi Pulo Majeti, misalnya, masih rutin dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus upaya menjaga hubungan antara masyarakat dengan sejarah yang diwariskan oleh para pendahulu mereka. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa Pulo Majeti bukan sekadar legenda, melainkan ruang budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Banjar.
Namun di balik nilai sejarah dan budayanya, misteri Pulo Majeti tetap menjadi daya tarik utama. Keberadaan pecahan batu kuno, kisah kerajaan yang masih menyisakan tanda tanya, serta berbagai cerita ganjil yang berkembang di masyarakat membuat kawasan ini terus mengundang rasa penasaran. Bagi sebagian orang, Pulo Majeti adalah situs sejarah yang perlu diteliti lebih lanjut. Bagi yang lain, tempat ini adalah pengingat bahwa tidak semua jejak masa lalu dapat dijelaskan sepenuhnya oleh fakta dan logika.
Seiring berjalannya waktu, Pulo Majeti tetap berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan budaya masyarakat Banjar. Di balik pepohonan tua, pecahan batu kuno, serta berbagai legenda yang masih hidup hingga kini, tersimpan warisan masa lalu yang terus mengundang rasa ingin tahu. Bagi sebagian orang, Pulo Majeti mungkin hanya sebuah situs cagar budaya. Namun bagi masyarakat setempat, tempat ini adalah pengingat akan jejak leluhur yang telah membentuk identitas mereka. Hingga kini, misteri yang menyelimuti Pulo Majeti belum sepenuhnya terpecahkan. Berbagai cerita yang diwariskan turun-temurun masih berdampingan dengan fakta-fakta sejarah yang terus diteliti. Di antara keduanya, masyarakat tetap menjaga dan melestarikan kawasan tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya Kota Banjar. Ketika senja mulai turun dan angin berembus pelan di antara rimbunnya pepohonan, Pulo Majeti seakan kembali menyimpan rahasianya rapat-rapat. Menunggu waktu, penelitian, atau mungkin generasi berikutnya untuk mengungkap kisah yang masih tersembunyi di balik jejak peninggalan Kerajaan Sunda. Sampai saat itu tiba, Pulo Majeti akan tetap menjadi misteri yang hidup dalam ingatan masyarakat dan terus mengundang siapa saja untuk datang, melihat, serta merasakan sendiri pesona sejarah yang dimilikinya.
