Menelusuri Jejak Kebangkitan Bangsa di Museum Kebangkitan Nasional STOVIA

Bangunan tua, ranjang besi asrama, dan alat kedokteran kuno masih tersimpan rapi di bangunan bekas STOVIA. Suasana awal abad ke-20 terasa kuat di setiap sudut ruangan. Bangunan ini pernah menjadi pusat pendidikan dokter pribumi pada masa kolonial Belanda. Dari sinilah organisasi Budi Utomo lahir dan mengawali pergerakan nasional Indonesia. Museum Kebangkitan Nasional kini menghadirkan pengalaman menelusuri sejarah secara langsung. 

Sebagai salah satu bangunan bersejarah di Jakarta, museum ini tidak hanya menyimpan peninggalan masa lalu tetapi memperkenalkan perjalanan awal pergerakan nasional Indonesia. Melalui koleksi dan bangunan yang masih terawat pengunjung dapat memahami bagaimana semangat kebangsaan yang mulai tumbuh dikalangan bumiputra. 

Saat memasuki Museum Kebangkitan Nasional, pengunjung langsung disambut bangunan bergaya kolonial yang masih terawat. Ruang kelas, asrama mahasiswa, dan berbagai koleksi bersejarah membuat suasana masa lalu masih terasa. Banyak pengunjung tampak berhenti di beberapa ruangan untuk membaca informasi dan mengamati koleksi yang dipamerkan. 

Galuh, salah satu pemandu museum, menjelaskan bahwa bangunan tersebut dulunya merupakan sekolah kedokteran pribumi STOVIA. “Di tempat inilah para pelajar bumiputra menempuh pendidikan dan kemudian melahirkan organisasi Budi Utomo pada tahun 1908,” ujarnya saat memandu pengunjung berkeliling museum.

Menurut Galuh, sebagian besar bangunan yang ada saat ini masih mempertahankan bentuk aslinya. Ia mengatakan bahwa keaslian bangunan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. “Banyak yang bilang suasananya berbeda karena mereka bisa melihat langsung ruang belajar dan asrama yang pernah digunakan mahasiswa STOVIA,” katanya. Selain bangunan bersejarah, museum juga menyimpan berbagai koleksi seperti alat-alat kedokteran, buku pelajaran, dan perlengkapan mahasiswa. Galuh menjelaskan bahwa sebagian koleksi tersebut merupakan benda asli yang digunakan pada masa kolonial. “Koleksi-koleksi ini membantu pengunjung membayangkan bagaimana kehidupan mahasiswa pada waktu itu,” jelasnya.

Salah satu pengunjung, Nabila, mengaku tertarik mengunjungi museum karena ingin mengetahui sejarah awal pergerakan nasional Indonesia. Menurutnya, pengalaman melihat langsung bangunan bersejarah memberikan kesan yang berbeda dibandingkan membaca dari buku. “Saya jadi lebih mudah membayangkan kehidupan mahasiswa STOVIA dulu karena tempatnya masih asli,” ujarnya.

Kesan serupa juga dirasakan Rizky, mahasiswa asal Bandung yang datang bersama teman-temannya. Ia mengaku paling tertarik dengan ruang asrama mahasiswa yang masih dipertahankan bentuknya. “Bagian asrama menurut saya paling menarik karena terlihat sederhana, tapi dari tempat seperti itu lahir tokoh-tokoh yang punya pengaruh besar bagi Indonesia,” katanya.

Galuh berharap Museum Kebangkitan Nasional dapat menjadi tempat belajar sejarah yang menarik bagi generasi muda. “Kami ingin pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga memahami perjuangan dan semangat belajar para tokoh terdahulu,” tuturnya. Dengan tiket masuk yang terjangkau dan lokasi yang mudah dijangkau, museum ini menjadi salah satu pilihan wisata edukasi yang layak dikunjungi, terutama bagi pelajar dan mahasiswa.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!