Aroma racikan jamu, wewangian bedak, dan deru mesin jahit tua beradu di sebuah rumah panggung di kawasan Ciateul, Bandung. Di sudut lain rumah yang sama, seorang mahasiswa Technische Hoogeschool (THS) sedang sibuk menatap buku-buku tebal sembari menyusun strategi pergerakan. Mahasiswa itu adalah Soekarno muda, sedangkan perempuan paruh baya yang jemarinya lelah menatap jarum jahit adalah Inggit Garnasih. Sebelum Bung Karno menjelma menjadi tokoh revolusioner, di sinilah garis awal perjuangannya dimulai, di bawah atap rumah yang dihuni oleh seorang perempuan luar biasa.
Sejarah sering kali menempatkan Inggit Garnasih sekadar sebagai pendamping setia di masa-masa sulit Soekarno. Padahal, perannya sangat penting. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Jajang, juru pelihara Rumah Inggit Garnasih, “…logikanya, seseorang tidak akan bisa berpikir memikirkan bangsa kalo perutnya kosong…”. Di sinilah peran ganda Inggit berdiri kokoh, ia bertindak sebagai tulang punggung ekonomi yang membiayai logistik, sekaligus mentor politik yang menjaga arah pemikiran Soekarno.
Sebagai tulang punggung, Inggit membalikkan logika patriarki zaman kolonial dengan mengambil alih penuh kendali finansial rumah tangga. Saat Soekarno fokus kuliah dan berpolitik tanpa penghasilan sepeser pun, Inggit banting tulang berjualan jamu, meracik bedak, menjual tembakau, hingga menjahit pakaian dalam wanita atau kawai menggunakan mesin jahit pribadinya. Penghasilan dari keringat Inggit inilah yang digunakan untuk membeli buku-buku Soekarno dan mendanai aktivitas politik pergerakan. Puncaknya, ketika Soekarno ditangkap dan hendak dibuang ke Ende pada tahun 1934, Inggit tanpa ragu menjual seluruh harta benda dan isi rumahnya di Bandung demi menjadi bekal mendampingi sang suami di pengasingan.
Namun, Inggit bukanlah perempuan awam yang buta akan arah perjuangan, ia adalah mentor politik yang matang. Pengalamannya mendampingi Haji Sanusi di Sarekat Islam (SI) Bandung membuatnya paham betul peta pergerakan nasional. Di meja makan rumah, Inggit bertindak sebagai kritikus dan “filter” pertama bagi ide-ide politik Soekarno yang sering kali meledak-ledak. Pemikiran Soekarno diuji dan didiskusikan terlebih dahulu bersama Inggit agar tidak menjadi langkah yang ceroboh. Ketajaman politik Inggit bahkan teruji ketika Soekarno mendekam di penjara, di mana ia turun langsung menjaga roda organisasi PNI tetap berputar dan berani berbicara di hadapan audiens massa yang besar.
Kecerdasan taktis Inggit juga melahirkan kisah-kisah yang luar biasa cerdik saat Soekarno ditahan di Penjara Banceuy. Di bawah pengawasan ketat sipir Belanda, Inggit berhasil menyelundupkan pesan rahasia dengan menyembunyikan surat kecil di bawah nasi dalam rantang, yang kemudian diterjemahkan Soekarno menggunakan sandi halaman, ayat, dan surat di dalam Al-Qur’an. Tak hanya itu, Inggit juga menggunakan media telur rebus yang ditusuk jarum membentuk pola sandi khusus. Pola tusukan tersebut baru akan terlihat menghitam dan bisa dibaca sebagai pesan setelah Soekarno mengusapkan tanah ke permukaan telur di dalam selnya.
Seluruh dedikasi sunyi ini mencapai puncaknya bukan dalam bentuk tuntutan penghargaan, melainkan sebuah pengingat abadi tentang hakikat kekuasaan. Menjelang masa-masa kepemimpinan Soekarno, Inggit menitipkan pesan legendaris dalam bahasa Sunda “Kus, baju téh mani saé. Kade Kus, ieu téh baju ti rakyatt, ulah mopohokeun saha anu méréna.” Meskipun usulan gelar Pahlawan Nasional untuknya telah gagal sebanyak tiga kali karena hambatan politis, cerita dari Pak Jajang akan selalu mencatat satu hal, tanpa ketabahan, modal finansial, dan ketajaman mentor politik seorang Inggit Garnasih, kemerdekaan Indonesia mungkin akan terlambat terbit.