
Sejak berdiri pada 1932, Tarekat Idrisiyah terus berperan dalam menyebarkan ajaran Islam di Kabupaten Tasikmalaya melalui dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Di tengah perkembangan zaman, tarekat ini tetap mempertahankan eksistensinya dengan memadukan ajaran tasawuf dan kehidupan sosial.
Hal tersebut disampaikan Drs. Aminudin, pengurus Tarekat Idrisiyah Tasikmalaya. Ia menjelaskan bahwa dakwah Idrisiyah berkembang melalui berbagai kegiatan, seperti pengajian rutin, pendidikan pesantren, pembinaan akhlak, hingga kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Menurut Aminudin, sejak awal berdiri Tarekat Idrisiyah memiliki komitmen untuk menyebarkan ajaran Islam secara berkelanjutan. Nilai-nilai tasawuf yang diajarkan tidak hanya bertujuan membentuk pribadi yang dekat dengan Allah, tetapi juga mendorong jamaah agar mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Perjalanan panjang Tarekat Idrisiyah menunjukkan bahwa ajaran tasawuf dapat berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Berbagai program pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan kegiatan sosial terus dikembangkan sebagai bentuk implementasi dakwah. Langkah tersebut dilakukan agar ajaran Islam tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring berkembangnya teknologi informasi, Tarekat Idrisiyah juga mulai memanfaatkan media massa sebagai sarana memperluas syiar Islam. Aminudin menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, pimpinan Tarekat Idrisiyah, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, beberapa kali menjadi pengisi kajian keagamaan di TVOne. Menurutnya, kehadiran di media nasional menjadi ruang untuk mengenalkan ajaran Islam yang moderat kepada masyarakat yang lebih luas.
Setiap pekan, para jamaah memenuhi kompleks pesantren untuk mengikuti pengajian. Namun, selepas majelis selesai, aktivitas mereka tidak berhenti di ruang ibadah. Sebagian kembali mengajar, mengelola usaha, hingga menjalankan berbagai program sosial yang menjadi bagian dari dakwah Tarekat Idrisiyah.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Idrisiyah berupaya meluruskan anggapan bahwa tarekat hanya identik dengan aktivitas zikir semata. Sebaliknya, tasawuf dipahami sebagai jalan untuk membangun keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan dan tanggung jawab terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui semangat bekerja, belajar, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Bagi Aminudin, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya jamaah yang mengikuti pengajian, melainkan dari perubahan sikap dan perilaku masyarakat setelah memahami ajaran Islam. Karena itu, pembinaan yang dilakukan tidak berhenti pada kegiatan keagamaan, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter yang jujur, disiplin, dan memiliki kepedulian sosial.
Memasuki usianya yang terus berkembang, Tarekat Idrisiyah tetap berupaya menjaga semangat dakwah yang telah dirintis sejak awal berdirinya. Dengan memadukan nilai-nilai spiritual, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat, organisasi ini menunjukkan bahwa dakwah dapat dilakukan melalui berbagai cara yang relevan dengan kebutuhan zaman tanpa meninggalkan ajaran tasawuf sebagai fondasi utamanya.
