
Kelangkaan minyak tanah mulai dirasakan para pedagang cuanki, menyusul gangguan jalur distribusi energi global akibat ketegangan di Selat Hormuz yang dipicu konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dunia menyebabkan pasokan minyak mentah ke Indonesia terganggu secara signifikan. Pemerintah Indonesia melalui Pertamina menyatakan bahwa stok minyak tanah nasional mulai menipis, dan distribusi ke daerah-daerah terpencil menjadi terhambat. Kondisi ini paling dirasakan oleh masyarakat kecil, terutama para pedagang cuanki yang berada di Ujung Berung dan menggantungkan usahanya pada ketersediaan minyak tanah sebagai bahan bakar utama.
Para pedagang cuanki di Ujung Berung mengaku kesulitan mendapatkan minyak tanah dalam beberapa pekan terakhir. Di pasar-pasar tradisional dan warung-warung, harga minyak tanah melonjak hingga hampir dua kali lipat, dari semula Rp15.000 per liter menjadi Rp22.000 per liter. Mang Karna, salah satu pedagang cuanki, mengungkapkan kesulitan yang dialaminya.
“Sekarang minyak tanah susah dicari. Biasanya di warung depan selalu ada minyak tanah, tapi sekarang sudah jarang. Harganya pun naik, dari Rp15.000 jadi Rp22.000,” ungkap Mang Karna.
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang memuncak beberapa bulan terakhir telah memicu ancaman penutupan Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya. Gangguan pada jalur ini berdampak langsung pada negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.
Menanggapi situasi ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan tengah berkoordinasi dengan Pertamina untuk menjaga stabilitas distribusi bahan bakar dalam negeri. Pemerintah juga disebut sedang menjajaki alternatif pasokan dari negara-negara penghasil minyak di luar kawasan Timur Tengah.
Seorang pengecer minyak tanah di kawasan Andir Wetan-Ujung Berung yang biasa disapa Abang mengakui bahwa kelangkaan ini membuatnya semakin jarang berjualan. Menurutnya, kondisi saat ini jauh berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya ketika minyak tanah masih mudah diperoleh dari agen-agen setempat.
“Kelangkaan minyak tanah ini membuat saya jarang menjual lagi, karena susah untuk didapatkan. Berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya yang mudah membeli dari agen-agen. Sekarang harganya pun mahal,” ujar Abang.
Abang menduga bahwa kelangkaan ini berkaitan dengan kebijakan konversi energi dari minyak tanah ke gas elpiji 3 kg. Namun, Pertamina belum memberikan konfirmasi resmi terkait dugaan tersebut. Pihak agen distribusi setempat yang dihubungi menyatakan bahwa keterbatasan pasokan semata-mata disebabkan oleh gangguan distribusi dari pusat.
Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar berita jauh di layar kaca. Dampaknya sudah terasa nyata di gerobak-gerobak cuanki Ujung Berung. Selama pemerintah belum mampu menjamin stabilitas pasokan dan harga minyak tanah, para pedagang kecil inilah yang akan terus menanggung beban paling berat dari krisis energi yang tidak mereka ciptakan.
